Jejak KataSeni dan Hiburan

Cerita Pendek, Widi Hatmoko: Perempuan “Nocturnal”

×

Cerita Pendek, Widi Hatmoko: Perempuan “Nocturnal”

Sebarkan artikel ini
ILUSTRASI

“Kalau aku boleh memilih, dan jika kehidupan ini bisa di-star dari awal, aku ingin lahir kembali dari rahim seorang ibu yang bukan pelacur. Asal kalian tahu, hidup sebagai perempuan malam seperti aku ini bukanlah sebuah keinginan, tapi takdir yang sudah digariskan, karena aku anak pelacur!”

MENDUNG di langit pada penghujung tahun semakin gelap, saat ingar-bingar kota meraung-raung, selepas senja. Tak pernah ramah memang kota ini. Beberapa waktu lalu, seorang ibu menangis karena perhiasan serta dompetnya yang berisi uang dijambret, di tengah kemacetan; hari sebelumnya gadis belia diperkosa tetangganya dengan modus diajak main dokter-dokteran dan diiming-imingi uang limaribu rupiah; belum lagi para calo tenaga kerja yang semakin rakus dan meresahkan; serta berbagai kasus penyerobotan tanah yang setiap kali terkuak—yang pada akhirnya tanah-tanah itu berubah menjadi mal raksasa, kawasan industri, dan perumahan mewah—diantaranya adalah oknum para kades dan oknum aparatur pemerintah setempat yang menjadi dalangnya.

Semua seperti bungkam, dan seolah sudah menjadi sesuatu yang lumrah—penegakkan hukum dianggap paling mujarab ketimbang membangun moral dan budaya—tapi, nyatanya, itu semua memble.

Di situlah, Onah hidup seperti “nockturnal”, kelayapan malam hari mencari mangsa—sebagai perempuan penghibur—siang mendengkur, seperti kalong. Sebenarnya, bukan lantaran ia tak mampu bekerja apa-apa selain melacur. Kerja apa saja bisa; walau hanya menjadi tukang jahit di pabrik sepatu, tukang buang benang di pabrik konveksi, pembantu rumah tangga, atau menjadi SPG produk rokok—terlebih, begitu banyak kesempatan untuk perempuan secantik dirinya—meski ia juga sanggup menyogok lewat calo tenaga kerja. Karena, dikisah Onah ini, masih ada kok, calo-calo tenaga kerja yang mau dicicil bayarannya, setelah ia bekerja. Apalagi, untuk bekerja seperti itu tidak butuh ijazah tinggi—bahkan, tak perlu menggunakan ijazah pun bisa, yang penting mau bekerja, dan “wani piro”. Tapi, semua itu tak membuatnya tertarik, gajinya kecil. Tak ada yang mau memberi upah sampai ratusan ribu, atau jutaan rupiah dalam satu malam.

“Enak jadi lonte. Dan, memang sudah terlanjur enak menjadi lonte,” katanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *