“Jika aku boleh memiliiiiih, dan jika kehidupan ini bisa di-star dari awal, aku ingin lahir kembali dari rahim seorang ibu yang bukan pelacuuuuuur! Asal kalian tahu, hidup sebagai perempuan malam seperti aku ini bukanlah sebuah keinginan, tapi takdir yang sudah digariskan, karena aku anak pelacur! Buka mata kaliaaaan! Berapa gaji buruh di negeri iniiii; berapa upah babuuuu?! Atau, kalian sanggup membayarku sehari lima ratus ribu dengan kerjaan apa saja selain menjadi lonte atau babuuuuu?! Karena, jadi babupun kalian akan tetap menganggapku seperti lonte, yang bisa suka-suka kau tiduri!” Teriak Onah menandingi hentak house music di club malam yang sengaja digeber ke penjuru ruangan; sampai kembali ayam jantan berteriak-teriak memanggil pagi; seiring semburat jingga menelanjangi seisi jagat, serta mengantarkannya bersama perempuan-perempuan “nocturnal” kembali ke singgasananya mendengkur seperti kalong, kalimat itu masih terus terngiang. Sampai esok hari, hari berikutnya, malah, mungkin sampai ia mati lantaran digerogoti virus yang menjadi penyebab raja singa, dan menyebar melalui setiap laki-laki yang menidurinya.
*
“Kalau hidup sekadar hidup kera di hutan juga hidup, kalau bekerja sekadar bekerja kerbau di sawah juga bekerja,” demikianlah selarik kalimat buah pikiran Buya Hamka yang tak menjamah pikiran Onah serta orang-orang yang hidup dalam “kemiringan”—tanpa kreativitas, dan tak memberikan manfaat kepada orang lain. (***
Diambil dari buku Kumpulan Cerpen Widi Hatmoko
Terbitan PANDUSIWI PUBLISHING 2016






