Jejak KataSeni dan Hiburan

Cerita Pendek, Widi Hatmoko: Perempuan Nocturnal

×

Cerita Pendek, Widi Hatmoko: Perempuan Nocturnal

Sebarkan artikel ini
ILUSTRASI

Lagi pula, dengan ijazah SD yang didapat di sekolah pada lingkungan lokalisasi seperti itu, tak ada yang bisa ia harapkan untuk hidup berpenghasilan sekelas sekretaris direktur—kecuali berpenghasilan lebih, dengan cara menjual diri.

Demikian pula, buah jatuh memang tak jauh dari pohonnya. Di lokalisasi Dadap Cheng In, di bibir pantai yang kumuh itu Onah memulai kehidupannya. Ibunya yang seorang pelacur—serta tak tahu, entah laki-laki yang mana, yang membuahinya hingga hiduplah si Onah—telah mengajari untuk mengikuti jejaknya, melacur.

“Wajahmu cantik Onah, ranum, montok dan cukup menggoda. Jadi lonte, kau akan lebih laku ketimbang ibumu yang sudah kendor ini. Kau akan banyak disuka oleh laki-laki buas, yang doyan main perempuan. Ayo Onah, kau bisa jadi bintang diantara lonte-lonte yang lain!” Begitulah ibunya mengajari.

Hanya saja, kehidupan di Dadap Cheng In tak membuat Onah bisa mengubah semua kehidupannya. Melacur di lokalisasi ini hanya dibayar murah—Rp 250 ribu sampai Rp 300 ribu per-short time, atau sekali main—itu pun masih dipotong dengan sewa kamar Rp 50 ribu—dan harus berebut pula dengan pelacur-pelacur yang lebih senior. Dan, walaupun dia mempu membawa tamunya untuk minum anggur atau bir berbotol-botol—yang harganya bisa dua kali lipat dari harga normal di warung jamu—tak pernah mendapatkan bagian atau persenan sepeser pun. Keuntungannya dikeruk oleh sang germo, yang juga menyewakan kamar-kamar petak itu. Germo-germo ini, konon, adalah piaraan oknum aparat-aparat nakal, yang terkadang juga meniduri pelacur-pelacur itu, dan tak mau bayar.

“Mana harus bayar kost, belanja kondom, antiseftic, kosmetik dan lain-lain. Di sini, hanya menjadi pelacur murahan, yang terkadang juga seperti kerbau. Lagi pula, lonte secantik aku masak harus terus-terusan bersaing dengan emak-emak yang sudah pada kendor. Sakitnya tuh di sini,” kata Onah sambil menepuk dada.

Untuk itu, setelah keperawanannya dijual oleh ibunya, yaitu sejak dirinya berusia lima belas tahunan, mulai belajar menjadi penyanyi dengan musik karaoke, sambil melacur, meladeni tamu-tamu yang sebelumnya meniduri ibunya—sampai akhirnya ia hengkang menjadi pelacur yang menurutnya high class, dan nongkrongnya di club malam. Setelah mampu bernyanyi layaknya biduan itu pula, ia mulai belajar sopan santun dalam bergaul.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *