“Menjadi lonte, tak harus berkutak di lokalisasi yang kumuh dan berjubal dengan lonte-lonte murahan. Nongkrong di club, tempat yang bersih, akan lebih terpuji. Dandan pun tak perlu terlalu menor. Siapa tahu dapet tamu bule, atau cukong-cukong bandot yang duitnya selangit, kan malu kalau penampilannya kampungan,” katanya.
“Hm, ternyata, kau lebih pandai dari ibumu, nak.” Begitulah perbincangan anak-beranak yang sama-sama pelacur itu. Namun, di manapun ia melacur, dan mengaku high class sekalipun tetap saja pelacur—meski itu juga harus jauh-jauh ke Arab Saudi, serta—menutupinya dengan modus apapun.
*
“Anak pelacur, tetap saja menjadi pelacur!” Terus menggedor-gedor jiwa Onah. Itu pula yang membuatnya terus untuk bangkit, ingin menjadi manusia yang bermartabat dan terpuji. Menurut dirinya, manusia yang bermartabat adalah manusia yang mempunyai banyak uang; bisa seperti ibu-ibu sosialita, atau ABG anak gedongan—yang tongkrongannya di mal, bisa belanja ini-itu, meski pelacur sekalipun. Karena, untuk hidup mewah dan mentereng adalah hak seluruh rakyat, tak terkecuali orang-orang seperti dirinya.
Menjadi pelacur yang tongkrongannya di club malam, adalah cara ia untuk menjadi manusia yang lebih terpuji, ketimbang mangkrak di Dadap Cheng In, yang hanya dibayar Rp 250 ribu hingga Rp 300 ribu, dipotong sewa kamar Rp 50 ribu. Di club malam, lewat mucikari ia bisa memasang tarif lebih mahal, bisa sampai Rp 500 ribu hingga jutaan rupiah per-short time—tak termasuk sewa hotel, dan tak lagi meladeni tamunya di dalam kamar petak yang pengab, serta “krekat-kreket” setiap kali tamunya pasang aksi saat indehoy—tapi di kamar ber-ac, dan kasurnya empuk. Setelah usai melayani tamu-tamunya pun—cukong-cukong hidung belang yang menghambur-hamburkan “kencing macan”—dirinya bisa kembali ke kamar kost, mendengkur, tanpa seorang pun yang tahu kalau semalam empat sampai lima orang menidurinya. Bisa saja ia mengaku bekerja sebagai bar tender, resepsionis, atau menjadi penyanyi di club malam.
“Aku ingin anakku nanti seorang laki-laki, walaupun entah siapa bapaknya. Aku ingin ia menjadi manusia yang bermartabat dan terpuji. Meskipun harus hidup berkubang dengan kemaksiatan dunia, yang penting bukan sepertiku. Boleh pegawai negeri, boleh polisi, atau tentara. Karena sebobrok apapun kehidupan dan moralnya kelak, pasti akan dianggap sebagai orang yang bermartabat, terpuji, dan terhormat. Tak seperti aku, yang hanya pelacur, lonte, oblo, genggek, bacem, bispak, dongdot, jablay atau apalah itu namanya. Dan, harus menyembunyikan semua itu dengan berbagai kebohongan; sebagai bar tender lah, penyanyi di club lah, atau resepsionis. Tapi masih lonte-lonte juga,” katanya.






