“Tapi itu tak adil Onah. Kau pelacur, kalau pun punya anak, tetap saja anakmu kelak akan menjadi pelacur, karena keturunan pelacur! Banyak anak-anak tentara nganteri kepengen jadi tentara, begitu pula anak polisi, atau anak pegawai negeri. Malah, sekarang anak presiden juga ikut nganteri test calon pegawai negeri. Jangan terlalu bermimpi Onah! Kau sendiri yang bilang, enak jadi lonte kan? Tanpa harus bersuami sudah mendapatkan nafkah lahir dan batin. Sebaiknya, lonte tak perlu punya anak, agar tak menurunkan lonte-lonte baru di generasi berikutnya! Sekali lagi Onah, kau tak akan lebih terhormat dari perempuan ndeso yang tak pernah blusukan ke mal, tapi hidup dengan cinta apa adanya meskipun perih dijalani, dan hanya merasakan bahagia dengan segala apa yang mereka miliki!”
“Bedebah kamu!” Onah meradang. Mukanya memerah, wajahnya mendongak, dan matanya melotot, diantara kerlap-kerlip gemerlap lampu club.
“Jika aku boleh memilih, dan jika kehidupan ini bisa di-star dari awal, aku ingin lahir kembali dari rahim seorang ibu yang bukan pelacur! Aku ingin punya anak! Anakku kelak seorang laki-laki, dan berseragam seperti kalian, supaya dianggap sebagai manusia yang bermartabat! Buka mata kalian! Berapa gaji buruh di negeri ini; berapa upah babu; atau, kau sanggup membayarku sehari lima ratus ribu dengan kerjaan apa saja selain menjadi lonte atau babu?! Karena, jadi babupun kau akan tetap menganggapku seperti lonte, yang bisa suka-suka kau tiduri!” Balas Onah sinis, sambil menudingkan telunjuk kanannya.
“Sudahlah Onah, jangan kau ladeni. Ia bukan kelas rum and coke, vodka, wine, margarita, tequila, jager, atau absinth, tapi hanya anggur cap orang tua, atau paling banter bir bintang, heineken, anker, guinnes, bir hitam. Maklum saja, meskipun ia kaki-tangan jenderal, nongkrong di club, tetap saja mulutnya bau anggur babah jenggot dari warung jamu. Dasar coro!” Seorang yang juga perempuan “nocturnal” menenangkan Onah yang sedang berontak hebat.
Laki-laki itu pun diam, tak berkata-kata. Perempuan-perempuan “nocturnal” di antara ingar-bingar house music yang digeber menghentak sampai ke jantung itu, sontak sinis ke laki-laki ini.






