Namun, tidak dipungkiri, kata Sumitro, arus modernisasi, cepat atau lambat bisa menggerus budaya turunan itu. Tetapi, sampai hari ini, masyarakat adat Bonokeling di Desa Pekuncen tersebut, masih tetap berpegang teguh untuk tidak melupakan tradisi. Hal ini dibuktikan dengan masih dilakukannya berbagai ritual tradisi yang sudah ratusan tahun turun-temurun.
Komunitas adat atau Wangsa Bonokeling ini memiliki tradisi yang hampir serupa dengan tradisi nyadran atau unggahan yang sama-sama berkunjung ke makam leluhur seperti yang biasa dilakukan umat muslim atau Islam Jawa setempat saat menjelang bulan Ramadan tiba. Karena pada dasarnya, masyarakat adat Bonokeling ini adalah penganut Islam, yaitu Islam Kejawen.
Kuliner Malam di Semarang, Nasi Liwet dan Ayam Bu Widodo Joss Gandos!
Ritual unggahan ini dilaksanakan rutin oleh anak cucu dari Kyai Bonokeling setiap tahun di hari Jumat yang bertepatan sebelum bulan Ramadan tiba. Ritual ini melibatkan hingga seribu penganut kepercayaan Bonokeling, tidak hanya di Desa Pekuncen, tetapi juga dari wilayah Kabupaten Cilacap dan Kabupaten Banyumas lainnya.
Ritual ini biasanya dilakukan pada pagi hari saat matahari baru muncul, dengan memulai dengan melakukan caos bekti atau yang berarti salam penghormatan pada para tokoh pemangku yang paling dihormati dalam rumah adat pasemuan. Ritual ini dimulai dari Desa Adiraja, sebuah desa kecil yang terletak di Kabupaten Cilacap yang masyarakatnya masih banyak menganut ajaran Wangsa Bonokeling.
Bingkai Banjir di Kota Seribu Pabrik (Kabupaten Tangerang) 2013 dan 2020
Pada prosesi caos bekti, para penganut Bonokeling dari yang muda hingga yang tua, semua akan berjalan kaki puluhan kilometer menuju Desa Pekuncen yang ada di wilayah Kabupaten Banyumas.
Ritual jalan kaki ini adalah sebagai simbol napak tilas dari perjalanan leluhurnya, yaitu Kyai Bonokeling saat menyebarkan ajarannya. Dalam perjalanan ini, mereka biasanya memanggul wadah yang berisi sesaji dan uba rampe, berisi hasil panen dari ladang serta ternak mereka sebagai persembahan rasa syukur.
Selama prosesi tersebut, para kelompok itu akan dipimpin oleh ketua adat selama beberapa hari ke depan. Makam keramat Kyai Bonokeling, juga akan mendadak ramai dan diserbu oleh ribuan wangsanya. Semua desa akan ramai dan meriah sebuah hajatan agung tapi tetap sakral. Ritual ini juga disebut “perlon”.






