Saat pertengahan malam hingga pagi tiba, suasana desa akan dipenuhi nyanyian tembang-tembang Jawa, yang berisi pujian-pujian atau perkataan baik yang dipanjatkan kepada Kyai Bonokeling.
Pada siang harinya, para pria dari wangsa ini akan berbondong-bondong menyembelih hewan ternak hasil mereka sebagai wujud persembahan yang dibawa dari desa Adiraja. Hasil bumi itu lalu dipersembahkan kepada sesama penganut Bonokeling dan memasaknya bersama-sama secara masal untuk dimakan bersama di sekitar area makam Kyai Bonokeling.
Kebon Djati Diri, Suguhkan Konsep Pemberdayaan Ekonomi Kreatif
Yang unik dari prosesi penyembelihan hingga memasak gulai kambing ini, semua dilakukan oleh kaum pria. Hal ini sebagai simbol bahwa bahan makanan yang dimasak ini bersih, karena dimasak oleh kaum pria yang tidak memiliki masa kotoran, datang bulan atau haid.
Disaat para pria sibuk menyembeli hewan ternak, ratusan perempuan dengan berbalut kemban putih memasuki makam Kyai Bonokeling satu-persatu dengan khitmad. Para perempuan akan membasuh anggota badannya satu-persatu, mulai dari kaki, tangan, wajah sambil mengucap doa atau mantra yang dipercaya akan membawa keberkahan.
Menyingkap Sejarah Cheng Ho dan Peradaban Islam di Tanah Lasem
Lalu mereka akan duduk sambil mengatupkan kedua telapak tangan yang diangkat tinggi oleh mereka. Hal itu bertujuan menghaturkan kehormatan di depan makan keramat. Dalam kepercayan Bonokeling, perempuan mempunyai kedudukan yang lebih dihormati daripada pria. Hal itu lantaran wanita dianggap perwujudan ibu bumi yang menghasilkan keturunan anak cucu pengikut Bonokeling hingga saat ini. Sebab itu, kedudukan wanita dalam kepercayaan kejawen kuno ini sangatlah dihormati.
Setelah rampung seluruh tradisi dan prosesi ziarah, seluruh anggota Komunitas Adat Bonokeling akan makan bersama di kompleks makam Kyai Bonokeling. Baru pada keesokan harinya, warga Bonokeling yang berasal dari Cilacap akan kembali lagi ke rumahnya masing-masing dengan tetap berjalan kaki.






