“Aku tak perlu dikasihani! Aku bisa apa-apa sendiri! Brengsek! Semua Brengsek!”
Badai terakhir kembali menggulung ketika perahu itu akan berlabuh di dermaga kota tua, dimana Ia mulai menemukan cinta yang sesungguhnya. Namun, pria ini kembali menorehkan cerita yang membuat lukanya semakin menganga.
Sampai akhirnya, selepas Isak: ketika orang-orang sibuk dengan kehidupannya, dua gelas kopi yang belum sempat tersentuh, menyisakan cerita pilu, setelah sebelumnya betina sundal entah siapa itu menggantikan perasaan pria beristeri brengsek terakhir dalam hidupnya.
Dari pria ini, Ia menghilang entah kemana, tak terlihat lagi di gelap malam.
Diam-diam, Qiaz membuat cerita baru bersama pria keturunan Arab-Madura berperawakan besar, berotot sekal, bos pabrik rokok lokal, bujang lapuk, pandai mengaji nan kaya raya. Ya, pria yang menjadi pelabuhan terakhir dalam hatinya.
Begitu lah kehidupan. Untuk menjadi sesuatu itu, terkadang tidak dilihat dari apa yang kita sandang saat ini, tetapi ditentukan dari seberapa banyak kita berbuat untuk diri kita, lingkungan dan orang-orang di sekitar kita. (*






