Dihapus lagi tulisan itu, dan pria ini menulis kembali.
“Tidak ada yang disesalkan, kecuali kita tidak berani mengambil keputusan, apalagi takut dengan bayang-bayang kehilangan pasangan yang hanya kita idam-idamkan. Sedangkan kita tahu, di luaran sana begitu banyak orang yang merindukan perhatian dan kasih sayang.”
Entah kenapa, tulisan itu dihapus lagi dan menggantikannya dengan tulisan yang baru.
“Biarlah kisah pilu itu menjadi pelengkap cerita fiksi yang pernah diciptakan oleh pembuat cerita. Supaya rasa yang mendera ini menjadi cerita haru para insan yang sedang dimabuk cinta. Bisa seperti roman Rimeo dan Yuliet, Siti Nurbaya, atau film-film roman picisan yang kerap kali di recycle lantaran para pembuat cerita kehilangan ide untuk membuat cerita baru yang lebih menarik.”
Pria ini masih terus menulis dan menghapus tulisannya dengan kalimat yang baru. Sampai irama musik yang bertalu-talu perlahan menghilang, sampai kabut malam menyambut pagi, sampai lampu-lampu mall redup karena digantingan surya jingga yang mulai menggerayangi seisi jagad, pria ini masih terus menulis dan menghapus tulisannya dengan tulisan yang baru.
Kali ini, Ia menuliskan kata-kata dengan kalimat yang lebih panjang. Pria itu memulai dari sebuah cafe sederhana di ruko kompleks sekitar rumah Qiaz sebelum perempuan itu menjatuhkan dirinya di Surabaya dan hidup bersama pria keturunan Arab-Madura berperawakan besar, berotot sekal, bos pabrik rokok lokal, bujang lapuk, pandai mengaji nan kaya raya. Ya, pria yang menjadi pelabuhan terakhir dalam hatinya.
Betina itu berotot sekal. Begitu banyak cerita yang mengukir dua dupuluh dua hari-dua puluh dua malam. Waktu yang sejengkal: penuh riang gembira, haru, lalu duka cita karena harapannya jauh terpental. Rasa ingin memiliki secara utuh perempuan itu menjadi hal yang ‘mokal’. Lantaran cafe-cafe tongkrongan di gelap malam sudah menjadi candu betina pujaannya itu. Hasrat yang sama tapi cara dan selera yang berbeda telah meluluh lantakkan selarik kisah yang begitu haru pilu.
Tidak ada yang disalahkan, kecuali rasa cinta yang telah menghadirkan perempuan ini terbelah di lautan luas ketika badai hebat menghantam perahu kecil mereka. Qiaz kehilangan arah.
Pada saat Ia tidak tahu akan kemana, perahu berikutnya kembali dihadang badai yang tak kalah hebat. Gelombang badai menggulung hingga Ia semakin terombang-ambing. Mencari perlindungan sebagai sandaran, satu-persatu diantara mereka, hidup dalam gelombang yang sama.
Namun perempuan itu begitu kuat ingin mengubah dunia. Tempaan hidup yang begitu keras, guncangan bada yang terus menghantam serta derita yang terus mendera menjadikan ototnya bak Gatotkaca. Dia ingin menjadi ayah bagi dirinya sendiri, atau mungkin juga ayah bagi anak-anaknya nanti.






