Jejak KataSeni dan Hiburan

Cerita Qiaz: Selepas Isak di Jantung Kota Seribu Pabrik

×

Cerita Qiaz: Selepas Isak di Jantung Kota Seribu Pabrik

Sebarkan artikel ini
ILUSTRASI

Ya, pria yang telah memberikan dua anak laki-laki yang lucu, yang kelak akan menjaga sampai akhir hayatnya. Lantaran, usianya terpaut hampir separuh dari usia pria terakhirnya itu.

Begitu lah kehidupan. Untuk menjadi sesuatu itu, terkadang tidak dilihat dari apa yang kita sandang saat ini, tetapi ditentukan dari seberapa banyak kita berbuat untuk diri kita, lingkungan dan orang-orang di sekitar kita.

*

Di kursi deretan tengah, di mall raksasa yang dulunya bekas rawa dan perkebunan karet Kota Seribu Pabrik itu. Lima tahun lalu, selepas Pemilu yang begitu riuh dengan berita saling tuding soal  kecurangan, saat kasus korupsi tata niaga komoditas timah wilayah izin usaha pertambangan di republik ini sebesar 271 triliun terungkap, pria ini menghabiskan malam bersama Qiaz. Sekadar ngobrol, minum kopi, lalu berbagi perasaan.

Ia kembali mendatangi tempat itu. Dari cerita yang selalu ia dengar dari Qiaz, perempuan ini juga kerap menghabiskan malamnya di situ.

Pria ini menuliskan sebuah puisi untuk perempuan yang saat ini entah hilang kemana. Perempuan itu hilang ditelan bumi selepas Isak, usai keduanya meninggalkan dua gelas kopi di cafe ruko kompleks yang belum sama sekali disentuhnya.

“Jika hidup ini bisa distar lagi dari awal, dan jika aku boleh memilih, aku tidak akan menyapa, apalagi sampai menemuinya di tengah gelap penghujung malam. Karena, itu malapetaka.”

Namun tulisan ini dihapus setelah beberapa kali ia membacanya. Pria itu menuliskan kembali kata-kata pada tablet yang sudah usang, yang selalu dibawa dalam tas berwarna hitam merah itu.

“Tahi lalat kerap kali dianggap sebagai penyakit, namun bagi sebagian orang ini adalah penanda yang terkadang justru memberikan pesona menarik bagi pemiliknya. Itulah analogi yang seharusnya kita perdebatan agar kita tidak meremehkan hal-hal kecil yang tidak pernah dianggap sebagai persoalan, yang tidak kita sadari, ini bisa mengusik kenyamanan.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *