Keistimewaan Lain
Festival Bedhayan 2024 juga istimewa karena kehadiran Duta Besar Amerika Serikat Kamala Shirin Lakhdhir dan diplomat dari Kedutaan Besar Republik Rakyat Demokratik Korea atau Korea Utara di antara tamu-tamu dari sejumlah negara sahabat Indonesia.
Budayawan Jaya Suprana secara khusus memperkenalkan keduanya saat membuka Festival Bedhayan 2024.
“Saya mohon tepuk tangan untuk sahabat saya dari Korea Utara yang hari ini menyempatkan hadir. Beliau sudah lama tinggal di Indonesia, dan beliau sangat-sangat menghormati dan menghargai kebudayaan Indonesia,” ujar Jaya Suprana memperkenalkan sang diplomat sambil memintanya berdiri.
Astra Infra Lakukan Penambahan Lajur Kegita di Ruas Tol Tamer
Yang hadir dari Kedutaan Besar Korea Utara itu bukan Duta Besar. Saat ini pos Duta Besar Korea Utara untuk Indonesia masih kosong setelah Duta Besar sebelumnya, An Kwang Il, yang memiliki hubungan sangat baik dengan Jaya Suprana, kembali ke Pyongyang di bulan Desember 2023 lalu. Sampai hari ini belum ada Duta Besar baru yang dikirim Pyongyang untuk bertugas di Indonesia.
“Kemudian ada wakil dari Presiden Joe Biden hadir bersama kita, Yang Mulia Ibu Duta Besar Kamala. Tolong tepuk tangan untuk Ibu,” sambung Jaya Suprana.
Dia menambahkan, “Alangkah indahnya dua warga dari negara yang secara politis tidak selalu akur tetapi berada di ruangan ini secara damai.”
Jaya Suprana memang memiliki ketertarikan pada perdamaian di Semenanjung Korea. Pada bulan Agustus 2017 lalu, kami berkunjung ke Korea Utara.
Jejak Peranakan Tionghoa di Museum Benteng Heritage Tangerang
Saya dan Aldi Gultom, kini Pemimpin Redaksi Akurat, tiba sehari lebih dahulu di Pyongyang setelah menempuh perjalanan lebih dari 24 jam dengan kereta api dari Beijing.
Di Bandara Internasional Kim Il Sung, saat menjemput Pak Jaya dan Ibu Ayla, Pak Jaya mengatakan kepada saya, dirinya terkesan dengan profil seorang pianis cilik kelas dunia dari Korea Utara yang dibacanya di Harian Pyongyang Times yang disediakan dalam penerbangan.
“Bagaimana kalau kita undang dia ke Jakarta tahun depan?” bisiknya.
Saya mengangguk dan setuju. Lalu dimulailah pembicaraan untuk menghadirkan sang pianis, Choe Hang Hung, yang ketika itu baru berusia 13 tahun. Dia menjuarai sejumlah kejuaraan piano di Moskwa, Warswa, dan Beijing.
Setahun kemudian, di bulan April 2018, “Konser Perdamaian” itu digelar di GKJ dan dihadiri begitu banyak penonton.
Di masa pandemi Covid-19, Jaya Suprana School of Performing Arts juga berpartisipasi dalam festival budaya yang diselenggarakan Korea Utara secara hybrid.
Pak Jaya juga berencana mengirimkan tim kesenian ke Pyongyang tahun depan untuk mengikuti festival kebudayaan di sana. Saat ini pembicaraan dengan pihak Pyongyang sedang dilakukan. Semoga bisa terwujud. (*
Biodata Penulis:
Teguh Santosa
– Ketua Perhimpunan Persahabatan Indonesia-Korea
– Ketua Umum JMSI Pusat







