Jejak KataSeni dan Hiburan

Cerita Pendek: Sawilem, Gelunge Pok-empokan

×

Cerita Pendek: Sawilem, Gelunge Pok-empokan

Sebarkan artikel ini
ILUSTRASI

”Sawilem, gelunge pok-empokan..”
”Sawilem, gelunge pok-empokan..”
”Sawilem, gelunge pok-empokan..”

Celoteh bocah-bocah nakal kembali mengumpat, gaduh merusak kebisuannya. Dengan jiwa-jiwa pengecutnya pula;
”Hik..hik..hik..hik..” Damiri terkekeh menyelinap di balik bangunan pabrik.

Darsum menyusup di semak-semak pagar pembatas, ”Kwakkkkkkk!” Menahan gelak tawa kemenangan. Darsim melompat, ”Aduuh!” Kakinya tersandung batu.
Sementara Samino, Mungin, dan Kartidi berhamburan entah ke mana. Seperti biasa, Sawilem tak banyak bereaksi untuk menampik apalagi membalasnya. Hanya melingkarkan bola matanya, lalu berpaling, dan meninggalkan tempat itu.
Senja pun merangkak. Rona jingga perlahan redup, hilang di bibir malam. Semua menjadi hitam, gelap, seperti harapan Sawilem yang melangkah menyeberangi Kali Tajum. Riuh bocah-bocah nakal itu pun satu persatu pulang. Bertandang ke tempatnya berdiam bersama hadirnya kabut malam yang mengurung seisi desa. Yang tersisa hanya gelap, dan beberapa lampu jalanan, yang redup tak menjangkau semua malam.

*

Beberapa hari kemudian;

Tak seperti biasa—yang setiap kali matahari memancarkan pijar sinarnya—Sawilem yang melintasi setiap gang dan jalanan desa meninggalkan tempatnya menyandarkan tubuh rentanya bersama malam; menyeberangi kali menuju Desa Ciparuk, lalu berbalik ke arah kecamatan, menuju pasar, dan kembali pulang saat menjelang hadirnya sang malam, kini tak terlihat. Bocah-bocah usil yang selalu mengumpat dan mengolok-oloknya pun sepi. Hanya suara resah yang bergerombol di setiap tempat, serta mencari keberadaan perempuan ini.

”Sawilem ke mana, ya?”
”Iya, ke mana, ya? Dari kemarin nggak kelihatan.”
”Jangan-jangan..?”
”Jangan-jangan, kenapa?”
”Jangan-jangan dibawa wewe gombel.”
”Wewe gombel?”
”Ah, nggak mungkin.”
”Mingkin, saja.”
”Iya, mungkin saja, Wewe gombel di dekat pohon bambu.”
”Pohon bambu yang mana?”
”Itu di dekat sumur pewarasan.”
”Ah, nggak mungkin.”
”Iya, nggak mungkin.”

Seminggu kemudian. Sawilem sudah benar-benar tak terlihat lagi melintas di gang, dan jalanan desa. Namun, bocah-bocah kurang ajar itu masih saja bergerombol. Sebagian di perempatan jalan arah Desa Ciparuk. Sebagian lagi membuat kelompok di jalanan menuju ke arah pasar. Begitu juga dengan Damiri Cs. Mereka berkomplot di bekas pabrik jamu ilegal yang sudah disegel. Ya, menantikan perempuan tua itu melintasi sambil menggaruk-garuk ketombe, dan kutu di kepalanya. Seperti biasa, mereka akan kembali berteriak-teriak mengumpat,

”Sawilem, gelunge pok-empokan..”
”Sawilem, gelunge pok-empokan..”
”Sawilem, gelunge pok-empokan..”

Lalu, berlarian menyelinap bersembunyi sambil terkekeh-kekeh penuh kemanangan.

*

Sepuluh tahun kemudian;
Semua sudah berubah. Setelah anak-anak itu disunat, besar, serta selesai menghabiskan bangku sekolah; sebagian berhamburan meninggalkan masa usangnya di desa ini; sebagian lagi tetap berdiam di desa ini—desa tempat di mana Sawilem pernah menorehkan lembaran kisah ke dalam kehidupan mereka—tak ada lagi suara gaduh, sorak, serta umpatan jahil bocah-bocah cilik-licik di sekitar desa.

Wajah-wajah mungil yang telah menggantikan kehidupannya saat itu berganti sudah oleh anak-anak kecil yang lucu dan menyenangkan. Pesatnya pengaruh kehidupan modern mulai merambah kehidupan mereka. Sisa waktu sekolahnya pun habis di hadapan layar televisi, serta aneka mainan impor yang tak pernah ditemukan oleh bocah-bocah pada masa Damiri, Darsum, Samino, Mungin, dan Kartidi kecil. Bahkan, sekarang sudah merambah bermain game online di warnet-warnet, bermain gadged serta blackberry, produk impor yang semakin menggerogoti moral generasi.

Menjelang siang, matahari  berpijar rata menjamah seisi desa. Desa di mana Sawilem pernah menapaki jalanan bersama harapannya yang kosong puluhan tahun yang lalu. Semua berjalan normal. Mengalir seperti air-air yang menyusuri Kali Tajum menuju Kali Serayu sebelum sampai ke hulu. Ibu-ibu mengirimkan kopi hangat serta makanan untuk para suami yang sejak pagi bergelut dengan tanah liat—membuat batu-batu bata di pinggir desa. Sebagian mengantarkan makanan di sawah-sawah tadah yang surut sehabis panen, dan akan digantikan dengan tanaman palawija. Ada juga yang menebar jala di liukan kali yang airnya terus mengikis daratan menjadi bagian di antara mereka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *