Jejak KataSeni dan Hiburan

Cerita Pendek: Sawilem, Gelunge Pok-empokan

×

Cerita Pendek: Sawilem, Gelunge Pok-empokan

Sebarkan artikel ini
ILUSTRASI

Sawilem masih hidup di benak-benak mereka. Saat istirahat siang, usai begelut dengan liat di bawah terik matahari, nama Sawilem kerap menjadi perbincangan.
Di gubuk sawah tadah, tempat mereka menggantungkan harapannya, nama Sawilem juga terkadang menyelinap dalam obrolan di antara kopi hangat, mendoan dan tempe bongkrek. Tak jarang, kelebat bayangan perempuan itu juga hadir saat jala-jala menebar di kali yang selalu di lalui perempuan using itu puluhan tahun silam.

”Sawilem, gelunge pok-empokan..”
”Sawilem, gelunge pok-empokan..”
”Sawilem, gelunge pok-empokan..”

Suara itu pun seperti masih ada, dan begitu dekat dari telinga-telinga mereka, yang seakan menjadi sesuatu yang tak akan pernah hilang dari kehidupannya. Cerita dari mulut-kemulut tentang perjalanan masa lalu perempuan itu di desa ini, seolah menjadi prasasti, dan tak bisa dilupakan begitu saja oleh sebagian penduduk desa. Bukanlah sanak, bukanlah kadang. Kenal pun tidak, apalagi melihat batang hidungnya, namun nama Sawilem terkadang masih disebut, dan seolah sesuatu yang begitu akrab di telinga.

Kemana perempuan Sawilem itu; kembali ke langit, atau menemui wujud aslinya di Singgasana Pekuncen sebagai danyang penguasa penunggu desa? Atau, memang sengaja disembunyikan oleh penguasa jagat, dan tak akan pernah dikembalikan lagi di jalanan desa; agar bocah-bocah cilik tak silih berganti mewariskan olok-olokan, dan umpatan yang seolah menghakiminya?

”Sawilem, gelunge pok-empokan..”
”Sawilem, gelunge pok-empokan..”
”Sawilem, gelunge pok-empokan..”

Kini hanya menjadi dongeng untuk anak-anaknya yang tak akan pernah lagi melihat wajah usang perempuan itu.(*


Banten, 02 Agustus 2010
Penulis:
Widi Hatmoko
Jurnalis/Seniman

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *