JEJAK KATA, Gunungkidul – Dulu, Gunungkidul lebih sering dikenal karena bentang alam karstnya yang tandus. Tak sedikit yang menganggap kawasan ini sulit berkembang karena sebagian besar wilayahnya merupakan kawasan lindung. Namun, anggapan itu perlahan berubah. Kini, Gunungkidul justru menunjukkan bahwa alam yang dijaga dengan baik dapat menjadi sumber kesejahteraan.
Pemerintah Daerah (Pemda) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menilai Kabupaten Gunungkidul memiliki potensi besar untuk mengembangkan sektor pariwisata sekaligus komoditas unggulan berbasis sumber daya alam tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan.
Sekretaris Daerah DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti, mengatakan kekayaan bentang alam Gunungkidul, terutama kawasan geopark, menyimpan peluang besar untuk terus dikembangkan sebagai destinasi wisata yang menarik.
“Banyak destinasi geopark yang sangat berpotensi untuk dikembangkan,” ujarnya di Yogyakarta.
Menurut Made, sekitar 60 persen wilayah Gunungkidul merupakan kawasan lindung. Kondisi itu sempat dianggap sebagai hambatan dalam membangun ekonomi daerah. Namun, kini masyarakat bersama pemerintah justru mampu membuktikan bahwa kawasan konservasi dapat memberikan manfaat ekonomi tanpa kehilangan fungsi ekologisnya.
“Mampu mempertahankan kawasan sebagai kawasan lindung, tetapi tidak hanya berhenti di situ dan tidak bisa berbuat apa-apa di kawasan lindung,” katanya.
Kakao, Kopi, dan Durian Jadi Harapan Baru
Tak hanya menawarkan panorama alam, Gunungkidul juga memiliki potensi besar di sektor pertanian. Salah satu komoditas yang kini kembali naik daun adalah kakao.
Menurut Made, kondisi tanah dan iklim di Gunungkidul sangat mendukung budidaya kakao yang memiliki nilai ekonomi tinggi sekaligus manfaat bagi kesehatan.
“Tidak hanya nikmat dikonsumsi, cokelat juga dapat membantu merelaksasi pikiran dan memberikan manfaat bagi kesehatan,” ujarnya.
Selain kakao, komoditas kopi dan durian juga dinilai memiliki prospek cerah untuk meningkatkan perekonomian masyarakat. Ketiga komoditas tersebut berpeluang dikembangkan bersama sektor pariwisata melalui konsep agrowisata yang semakin diminati wisatawan.
Bayangkan menikmati secangkir kopi lokal atau olahan cokelat khas Gunungkidul, sambil memandang perbukitan karst yang hijau. Pengalaman seperti inilah yang dinilai mampu memberikan nilai tambah bagi sektor pariwisata daerah.
Kakao Bangkit, Petani Kembali Optimistis
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) DIY, Aris Eko Nugroho, mengungkapkan bahwa perkembangan kakao di Gunungkidul menunjukkan tren yang semakin positif.
Jika dahulu hasil panen hanya dijual sebagai bahan mentah dengan nilai ekonomi yang rendah, kini kakao mulai diolah menjadi beragam produk bernilai tambah yang mampu meningkatkan pendapatan petani.
“Dulu kakao dijual dalam bentuk bahan mentah, sekarang sudah mulai diolah menjadi berbagai produk,” kata Aris.
Ia mengakui, pada masa lalu banyak petani memilih menebang pohon kakao karena harga jualnya kurang menjanjikan. Namun, kondisi itu kini berbalik.
“Sekarang ketertarikan masyarakat sudah semakin tinggi ketika kakao mulai diolah menjadi produk bernilai tambah. Pohon yang sebelumnya banyak ditebang kini mulai dirawat kembali,” ujarnya.
Hingga kini, Gunungkidul masih menjadi daerah dengan areal perkebunan kakao terluas di DIY, yakni sekitar 5.250 hektare.
Alam Dijaga, Ekonomi Tumbuh
Meski optimistis dengan berbagai potensi tersebut, Pemda DIY mengingatkan agar seluruh proses pembangunan tetap mengedepankan prinsip keberlanjutan, terutama di kawasan lindung seperti Gunung Api Purba Nglanggeran.
Pengembangan wisata dan komoditas unggulan, menurut Made, tidak boleh dilakukan secara berlebihan hingga mengancam kelestarian lingkungan.
“Harapan kita semua kawasan ini tetap terjaga sehingga keberlanjutannya tetap ada. Jangan sampai dieksplorasi secara berlebihan tanpa memperhatikan kelestarian lingkungan,” tegasnya.
Gunungkidul kini menunjukkan bahwa menjaga alam dan membangun ekonomi bukanlah dua pilihan yang saling bertentangan. Ketika konservasi berjalan beriringan dengan inovasi, kawasan yang dulu dianggap memiliki banyak keterbatasan justru mampu melahirkan peluang baru. Dari geopark yang memikat hingga cokelat yang mendunia, Gunungkidul sedang membuktikan bahwa masa depan bisa tumbuh dari alam yang tetap lestari. (*






