Seni dan HiburanJejak Kata

Ups! Ternyata, Pemburu Maling Itu adalah Maling Juga

×

Ups! Ternyata, Pemburu Maling Itu adalah Maling Juga

Sebarkan artikel ini
ILUSTRASI

PAGI di sebuah negeri yang bahkan para pembuat peta sering lupa menggambarnya. Matahari selalu bangun lebih pagi daripada para pejabatnya. Embun masih rajin bergelantungan di ujung daun padi. Sungai mengalir jernih tanpa perlu diajari. Sawah membentang hijau seperti permadani yang baru saja digelar. Gunung-gunung berdiri gagah memeluk awan, menyimpan emas, nikel, batu bara, dan berbagai harta karun yang membuat negeri-negeri lain hanya bisa ngiler, menelan ludah sambil berkata, “Kalau kami punya tanah seperti itu, mungkin kami sudah pensiun jadi negara miskin.”

Di siniah kerajaan dagang milik Babah Omon berkembang pesat. Di negeri yang kaya itu: sawah ada, kebun sawit ada, kebun jagung ada, peternakan kambing ada, gudang beras ada, bahkan kolam lele pun ada.

Setiap kali orang-orang seisi kampung satu persatu bertanya dari mana hartanya berasal, Babah Omon hanya tersenyum sambil mengelus kumis.

“Ah… dulu hidup saya juga penuh tantangan.”

Semua orang tahu, “tantangan” yang dimaksud. Namun tak satupun berani mengucap. Pernah sekali, Mak Etak, mantan babu yang pernah serumah ketika ia masih bekerja pada mendiang orang tuanya, tak sengaja mengucap lirih kalimat “maling”. Babah Omon langsung melengos.

“Ndas mu!”

Hanya saja, setelah kaya raya, statusnya berubah menjadi “pengusaha sukses”. Labelnya sebagai seorang yang pernah menjadi maling sudah terkubur oleh kekayaannya.

Untuk menjaga seluruh hartanya, Babah Omon mempekerjakan dua kelompok centeng. Kelompok pertama dipimpin Gindeng Koclok. Orang dari kampung sebelah utara kali yang tubuhnya kecil, matanya belok, dan mulutnya besar. Nyalinya enggak kaleng-kaleng. Tapi kalau bicara, seolah semua orang bersalah kecuali dirinya. Dialah seng paling benar.

Kelompok kedua dipimpin Udin Kiclik. Orang dari sebelah selatan kali  yang bertubuh besar dengan kumis melintang dan suaranya sekeras bedug Lebaran. Takut sama isteri, tapi hobinya main perempuan.

Gindeng Koclok dan Udin Kiclik memiliki ratusan anak buah. Kerja mereka di-rolling bergantian. Minggu ini Gindeng menjaga kebun jagung. Udin menjaga peternakan kambing. Bulan depan bertukar. Lusa pindah ke kebun sawit, gudang beras. Begitu terus, dan terus begitu.

Secara resmi mereka disebut “penjaga keamanan”. Secara tidak resmi…ya, mereka juga pelanggan tetap gudang Babah Omon. Mungkin itulah yang namanya hubungan sebab akibat, Ketika seseorang pernah berbuat jail, cepat atau lambat, akan mendapatkan karma jail. Begitulah Babah Omon.

Jagung hilang beberapa karung. “Kena tikus.” Ya, tikus jadi bumper. Apa salahnya tikus?

Kambing lenyap tiga ekor. “Dibawa harimau.” Padahal negeri itu bahkan tidak punya harimau.

Beras berkurang. “Pasti menguap.”

Minyak goreng hilang. “Mungkin mengalir sendiri.”

Sebagai seorang yang pernah hidup dalam gelombang yang sama, Babah Omon sebenarnya tahu. Ia hanya pura-pura tidak tahu.

“Ehem. Pemain baru,” gumamnya sambil menyeruput kopi.

“Tapi itu ada batasnya. Kalau terlalu rakus, namanya bukan mencari makan, tapi mencari celaka.”

Lama-kelamaan, kehilangan semakin menjadi. Kambing tinggal menghitung nasib. Jagung menghilang lebih cepat daripada dipanen. Gudang beras seperti punya pintu rahasia. Semua menyusut di luar nalar.

Babah Omon akhirnya gerah. Diam-diam ia membentuk pasukan mata-mata. Bukan centeng. Melainkan tukang sapu, tukang kebun, pemungut rumput, penggembala kambing, sampai penjual cilok depan gudang. Tanpa ada proses pelantikan, tanpa ada sumpah jabatan. Tanpa ada karangan bunga pula berjejer sebagai ucapan selamat. Tapi, tetaplah mereka adalah intelijen tingkat tinggi ala-ala Babah Omon.

“Kalau mau tahu maling,” kata Babah Omon, “jangan tanya centeng. Tanya tukang sapu!”

“Semua centeng di sini Mblegedes! Kampret! Asu!”

*

Malam masih muda. Gudang baru saja ditinggalkan para pekerja yang dapat jatah lembur. Seorang tukang sapu, Mbah Pait, melihat kelebat dua bayangan hitam menyelinap. Samar-samar terlihat menggotong karung jagung. Mata Mbah Pait semakin penasaran. Penuh analisis. Ehem, ternyata anak buah Gindeng Koclok.

“Hei! Mau dibawa ke mana?”

“Ssst… ini jagung lembur.”

“Jagung lembur?”

“Iya. Siang kerja untuk Babah, malam kerja untuk kami.”

Esok paginya laporan sampai ke meja Babah Omon. Ia naik pitam. Harga dirinya merasa dikhianati. Tak menunggu lama, Gindeng pun dipanggil.

“Anak buahmu nyolong!” Bentak Babah Omon.

Gindeng kaget. Di luar dugaannya memang. Entah angin apa yang membuat anak buahnya begitu apes.

“Kurang ajar!”

Ia memukul meja. “Berani sekali anak buah saya mencoreng nama baik kelompok!”

Babah Omon mengangguk. Dalam hati ia bergumam, “Yang mencoreng siapa, yang marah siapa.”

Sepanjang jalan sepulang dari rumah juragan, Gindeng mulai mengatur strategi. Mengumpulkan seluruh pasukannya.

“Dengar! Mulai hari ini kita harus bersih!” Anak buah bersorak.

“Bersih dari apa, Bos?”

“Bersih dari ketahuan!”

Semua mengangguk mantap.

*

Hari-hari seperti biasa. Tapi tidak untuk Gindeng bersama begundal-begundalnya. Otaknya terus mengatur strategi. Entah bagaimana caranya agar reputasinya tidak hancur di mata Babah Omon.

Akal bulusnya menemukan ide untuk bisa mendongkrak dan memulihkan nama baik yang sesungguhnya tidak seperti yang dibayangkan. Gindeng menjadi semakin licik selicik-liciknya.

Takdir memang suka bercanda. Anak buah Udin Kiclik tertangkap sedang menggiring dua ekor kambing keluar kandang. Yang menangkap? Anak buah Gindeng dong.

“Woi! Maling!” Teriak mereka.

Anak buah Udin tak kalah keras.

“Siapa yang maling? Kalian juga maling!”

“Fitnah!”

“Kalian kemarin nyolong jagung!”

“Itu beda!”

“Bedanya apa?”

“Kami ketahuan. Kalian baru ketahuan.”

Keributan itu sampai membuat kambing ikut mengembik panjang.

“Mbeeeek…”

Seolah berkata, “Kalian ribut terus, kami yang dijual.”

Keesokan harinya, Gindeng membawa anak buah Udin ke hadapan Babah Omon.

“Nih, Bah! Kami berhasil menangkap maling!”

Babah Omon menatap lama. Lalu bertanya pelan, “Yang nangkap siapa?”

“Kami.”

“Yang ditangkap?”

“Kelompok Udin.” Penuh bangga.

Babah mengangguk pelan. “Yang nangkap pernah nyolong?”

Suasana mendadak sunyi. Seekor ayam lewat sambil menoleh. Tak ada yang menjawab. Babah lalu memanggil Udin.

“Katanya anak buahmu maling.”

Udin langsung berdiri sambil menunjuk Gindeng.

“Mereka lebih maling lagi!”

“Mana buktinya?”

“Semua orang tahu!”

Gindeng tertawa. “Kalau begitu kau juga tahu kami maling?”

“Iya.”

“Berarti kau juga tahu anak buahmu maling?”

“…” Udin terdiam.

Mbah Pait yang sedari tadi menyapu hanya geleng-geleng kepala. Ia berbisik kepada tukang kebun.

“Lucu ya.”

“Apanya?”

“Yang teriak maling ternyata pelanggan tetap gudang. Maling juga.”

Sejak hari itu, kedua kelompok berlomba-lomba menangkap maling. Bukan supaya harta Babah selamat. Melainkan supaya nama kelompoknya terlihat paling bersih.

Setiap pagi ada pengumuman.

“Hari ini Gindeng menangkap dua maling.”

Sorenya. “Kelompok Udin membongkar tiga maling.”

Besoknya lagi. “Gindeng mengungkap pencuri beras.”

Lalu. “Udin membekuk pencuri kambing.”

Terus dan terus begitu. Begitu terus.

Penduduk kampung bingung. “Kok malingnya banyak sekali?”

Mbah Pait menjawab sambil tertawa. “Bukan malingnya yang bertambah.”

“Lalu?”

“Yang bertambah cuma yang teriak paling keras.”

Akhirnya Babah Omon mengumpulkan dua pimpinan geng itu. Ia meletakkan sebuah cermin besar di tengah halaman.

“Kalian tahu kenapa saya panggil?”

Gindeng menjawab cepat. “Supaya Udin mengaku maling.”

Udin menyela.

“Bukan! Supaya Gindeng dihukum.”

Babah menggeleng. “Lihat dulu cermin itu.”

Mereka melihat.

“Kelihatan apa?”

“Wajah saya.”

“Wajah saya juga.”

Babah tersenyum tipis.

“Itulah maling yang paling susah ditangkap.”

“Siapa?”

“Diri sendiri.”

Semua terdiam.

Hanya Mbah Pait yang kembali menyapu sambil terkekeh.

“Negeri ini memang aneh.”

“Kenapa, Mbah?”

“Kalau maling menangkap maling, rakyat sering bingung harus tepuk tangan… atau menghitung lagi berapa kambing yang hilang.”

Terus dan terus. Begitu terus. Gindeng dan Udin masih sering saling menuduh. Masih sering saling menangkap. Masih sering saling berteriak, “Maling!”

Itu lah di negeri yang bahkan para pembuat peta sering lupa menggambarnya. Ada satu kebiasaan: Siapa yang paling keras berteriak “maling”, sering kali justru mereka adalah maling. Dan, dalam “Ups! Ternyata, Pemburu Maling Itu adalah Maling Juga” malingnya juga pemburu maling. (*


Oleh: Widi Hatmoko

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *