JEJAK KATA, Tangerang – Pemandangan yang biasanya nyaris tak berubah setiap awal tahun ajaran mendadak bergeser di SDN Mekar Bakti, Kecamatan Panongan, Kabupaten Tangerang, Senin, 13 Juli 2026. Di depan gerbang sekolah, deretan ayah tampak menggandeng tangan anak-anak mereka. Sebuah pemandangan yang selama ini lebih sering diisi para ibu.
Bukan karena para ayah tiba-tiba memiliki lebih banyak waktu. Ada sebuah surat edaran yang ikut menggerakkan mereka. Pemerintah Kabupaten Tangerang menerbitkan Surat Edaran Nomor 17 Tahun 2026 tentang Imbauan Ayah Mengantar Anak pada Hari Pertama Masuk Sekolah. Bahkan, aparatur sipil negara (ASN) diberi dispensasi untuk mengantar anaknya pada hari pertama sekolah.
Di halaman sekolah itu, Hendro Sutoro, karyawan PT Eternal Buana Chemical Industries, memilih menunda rutinitas paginya. Hari itu ia ingin menjadi orang pertama yang mengantar anaknya memasuki gerbang sekolah.

“Biasanya memang ibunya. Tapi hari pertama masuk sekolah saya sengaja yang mengantarkan. Ibunya beres-beres di rumah,” ujarnya.
Cerita serupa datang dari Weha, wali murid lainnya. Ia mengaku sengaja mengantar anaknya agar hari pertama sekolah menjadi kenangan yang berbeda sekaligus memberi suntikan semangat sebelum memasuki ruang kelas.
Di mata anak-anak, mungkin perjalanan menuju sekolah pagi itu hanya berlangsung beberapa menit. Namun bagi para ayah, langkah pendek itu menyimpan pesan yang jauh lebih panjang: bahwa pendidikan bukan hanya urusan ibu.
Bupati Tangerang, Moch Maesyal Rasyid, mengatakan kehadiran ayah pada hari pertama sekolah bukan sekadar seremoni. Menurutnya, anak yang didampingi ayah akan memperoleh rasa aman, perhatian, dan dukungan emosional ketika memasuki lingkungan baru.
“Hari pertama sekolah merupakan salah satu momen penting dalam kehidupan seorang anak. Kehadiran ayah memiliki makna yang sangat besar karena menunjukkan perhatian, kasih sayang, dan dukungan penuh keluarga,” ujarnya.
Ia menambahkan, keterlibatan ayah juga dapat memperkuat ikatan emosional sekaligus membantu anak lebih percaya diri beradaptasi dengan lingkungan belajar dan teman-teman barunya.
Pesan itu sejalan dengan berbagai penelitian psikologi perkembangan yang menunjukkan bahwa keterlibatan ayah dalam pengasuhan berkontribusi terhadap kepercayaan diri, kemampuan bersosialisasi, hingga prestasi belajar anak. Sayangnya, dalam kehidupan sehari-hari, peran tersebut masih sering dipersempit sebatas pencari nafkah.

Karena itu, surat edaran ini layak diapresiasi sebagai pengingat bahwa pengasuhan adalah tanggung jawab bersama.
Namun, di sinilah pertanyaan penting muncul. Apakah kehadiran ayah cukup berhenti di gerbang sekolah?
Sebab tantangan terbesar bukanlah membuat ayah hadir selama beberapa menit pada hari pertama sekolah, melainkan menghadirkan mereka secara konsisten dalam keseharian anak. Menemani belajar, mendengarkan cerita sepulang sekolah, menghadiri rapat orang tua, hingga menjadi tempat anak bertanya ketika menghadapi kesulitan.
Surat edaran dapat mengubah suasana di satu pagi. Tetapi ia tidak otomatis mengubah budaya pengasuhan yang selama bertahun-tahun menempatkan ibu sebagai penanggung jawab utama urusan pendidikan anak.
Maka, keberhasilan kebijakan ini tidak semestinya diukur dari banyaknya ayah yang berdiri di depan gerbang sekolah hari ini. Ukuran sesungguhnya adalah apakah enam bulan atau setahun mendatang, para ayah itu masih meluangkan waktu untuk hadir dalam perjalanan tumbuh kembang anak-anak mereka.
Sebab bagi seorang anak, figur ayah tidak dibutuhkan hanya untuk mengantar ke sekolah. Yang jauh lebih penting adalah tetap berjalan bersama mereka, bahkan ketika gerbang sekolah telah lama tertutup. (*






