JEJAK KATA, Tangerang – Muharam selalu datang membawa dua hal sekaligus: kalender baru bagi umat Islam dan pengingat lama tentang pentingnya berbagi. Sayangnya, yang pertama hampir tak pernah terlupa, sementara yang kedua sering kali kalah oleh cicilan, rapat, dan notifikasi telepon genggam.
Di Kantor Kelurahan Sukabakti, Kecamatan Curug, Minggu 12 Juli 2026, pengingat itu hadir dalam rupa yang sederhana: dua ratus anak yatim yang memenuhi ruangan sejak pagi. Mereka datang bukan untuk meminta belas kasihan, melainkan menerima perhatian—sesuatu yang kadang lebih mahal daripada isi amplop.
Festival Berbagi Bahagia yang digelar Komunitas Jari Memberi membuat kantor kelurahan berubah wajah. Biasanya tempat itu identik dengan urusan administrasi, stempel, dan berkas yang sesekali membuat dahi berkerut. Hari itu, yang terdengar justru tawa anak-anak, sapaan para relawan, dan kesibukan membagikan bingkisan.
Di tengah suasana itu, Wakil Bupati Tangerang Intan Nurul Hikmah hadir menyapa para peserta. Ia mengingatkan bahwa berbagi bukan sekadar tradisi Muharam, melainkan tanggung jawab sosial yang semestinya hidup sepanjang tahun.
“Sebagian rezeki yang kita miliki adalah titipan Allah SWT yang di dalamnya ada hak orang lain,” ujarnya.
Kalimat itu mungkin terdengar akrab di telinga. Namun justru karena terlalu sering didengar, ia kerap kehilangan daya gugah. Padahal, berbagi bukan soal besarnya angka yang keluar dari dompet. Ia lebih sering dimulai dari kemauan membuka hati.
Komunitas Jari Memberi tampaknya memahami hal itu. Di saat banyak komunitas berlomba mengejar sorotan media atau ramai di media sosial, mereka memilih pekerjaan yang lebih sunyi: memastikan anak-anak yatim tetap merasakan bahwa ada banyak orang yang peduli terhadap masa depan mereka.
Bagi Pemerintah Kabupaten Tangerang, perhatian itu kemudian dilanjutkan melalui jalur yang lebih panjang, yakni pendidikan. Intan mengajak masyarakat memanfaatkan berbagai program yang telah disiapkan pemerintah, seperti Beasiswa Tangerang Gemilang serta sekolah swasta gratis untuk jenjang SD dan SMP.
Pendidikan, bagaimanapun, adalah bentuk santunan yang umurnya paling panjang. Bingkisan mungkin habis dalam hitungan hari. Uang santunan bisa selesai dibelanjakan. Tetapi kesempatan belajar dapat mengubah jalan hidup seseorang selama puluhan tahun.
Karena itu, pesan Intan kepada anak-anak yatim terdengar lebih penting daripada seremoni yang mengiringinya.
“Jangan pernah menyerah, jangan rendah diri. Terus belajar dan raih cita-cita setinggi mungkin,” pesannya.
Pesan itu memang sederhana. Namun sejarah berkali-kali menunjukkan bahwa keterbatasan bukan musuh utama seseorang. Yang lebih berbahaya adalah ketika harapan ikut hilang bersama keadaan.
Festival ini akhirnya menyisakan satu pelajaran kecil. Berbagi ternyata tidak selalu membuat penerimanya lebih bahagia. Sering kali justru pemberinya lah yang pulang dengan hati lebih ringan.
Mungkin itulah sebabnya kegiatan semacam ini selalu menemukan jalannya untuk terus hidup. Sebab kebahagiaan, rupanya, memang memiliki sifat unik: semakin dibagikan, semakin sulit ia habis. (*






