JEJAK KATA, Purwokerto — Ketika sebagian besar wilayah Indonesia menikmati pagi dengan embun yang menyejukkan, Dataran Tinggi Dieng justru menyiapkan kejutan lain. Rumput-rumput di lereng pegunungan perlahan berubah putih, seolah diselimuti salju tipis. Masyarakat setempat menyebutnya embun upas—fenomena alam yang memesona sekaligus menjadi penanda kerasnya musim kemarau di dataran tinggi.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan embun upas berpotensi muncul lebih sering selama musim kemarau 2026. Kemarau tahun ini diprediksi lebih kering dibandingkan dua tahun sebelumnya, menciptakan kondisi ideal bagi terbentuknya kristal-kristal es di permukaan rumput.
Namun, ada satu hal yang kerap disalah pahami. Kepala BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Tengah, Guruh Tjiptanto, menjelaskan bahwa suhu nol derajat Celsius atau bahkan minus yang sering diberitakan bukanlah suhu udara.
“Itu adalah suhu minimum permukaan rumput yang diukur menggunakan termometer khusus, bukan suhu udara yang dirasakan manusia,” ujarnya, Sabtu.
Penjelasan tersebut penting. Sebab, di balik foto-foto rumput yang memutih dan viral di media sosial, terdapat proses ilmiah yang menarik. Pada malam yang cerah dan sangat kering, permukaan tanah kehilangan panas dengan cepat. Ketika suhu permukaan rumput turun hingga titik beku, uap air berubah menjadi lapisan kristal es yang menyelimuti dedaunan. Fenomena inilah yang dikenal sebagai embun upas atau frost.
Bagi petani, embun upas bisa menjadi ancaman karena mampu merusak tanaman kentang dan sayuran. Namun bagi wisatawan dan pencinta fotografi, ia adalah pertunjukan alam yang hanya muncul pada waktu-waktu tertentu.
BMKG memperkirakan peluang kemunculan embun upas akan semakin besar menjelang puncak musim kemarau pada Agustus dan masih berlanjut hingga September. Bahkan, karakter musim kemarau 2026 disebut mirip dengan 2023, ketika embun upas beberapa kali menghiasi kawasan Dieng.
Selain embun beku, masyarakat Jawa mengenal istilah “mbediding”, yaitu kondisi ketika udara pegunungan terasa menusuk hingga ke tulang. Fenomena ini diperkirakan akan lebih terasa pada Agustus hingga September.
Bagi wisatawan yang ingin menyaksikan keajaiban alam tersebut, persiapan menjadi bagian penting dari perjalanan. BMKG menyarankan penggunaan pakaian berlapis, mulai dari pakaian termal, sweater, hingga jaket tahan angin. Kupluk, sarung tangan, syal, kaus kaki tebal, serta sepatu yang nyaman juga diperlukan untuk menjaga suhu tubuh tetap stabil.
Wisatawan yang memiliki riwayat asma, sinusitis, atau alergi udara dingin dianjurkan membawa obat-obatan pribadi. Sementara udara pegunungan yang sangat kering membuat pelembap kulit dan pelembap bibir menjadi perlengkapan yang tak kalah penting.
Jika cuaca bersahabat, embun upas biasanya mulai terbentuk sejak malam hari dan mencapai puncak keindahannya antara pukul 04.00 hingga 06.00 WIB, terutama di sekitar Kompleks Candi Arjuna. Ketika matahari mulai meninggi, kristal-kristal es itu perlahan mencair, seakan menghapus jejak malam yang membeku.
Embun upas mengingatkan bahwa alam selalu memiliki cara untuk bercerita. Di tengah negeri tropis yang identik dengan panas, Dieng menunjukkan bahwa musim kemarau bukan sekadar tentang langit tanpa hujan. Ia juga menghadirkan lanskap putih yang lahir dari dingin, sekaligus menjadi pengingat bahwa perubahan iklim dan siklus cuaca menyimpan keajaiban yang patut dipahami, bukan sekadar diabadikan. (*






