JEJAK KATA, Banyumas – Fajar belum sepenuhnya merekah ketika langkah-langkah tanpa alas kesombongan mulai memecah sunyi. Puluhan, ratusan, lalu ribuan orang berjalan kaki menembus jalan desa dari Adiraja, Cilacap, menuju Pekuncen, Banyumas. Mereka tidak sedang mengikuti lomba lintas alam, bukan pula perjalanan wisata. Mereka sedang merawat ingatan.
Begitulah setiap tahun menjelang bulan puasa, “anak putu” Bonokeling berjalan kaki tanpa alas kaki (nyeker) menuju makam leluhur mereka di Desa Pekuncen, Banyumas. Di sinilah mereka memahami makna setiap langkah yang dipijak.
Perjalanan adalah doa yang dihidupkan. Di Desa Pekuncen, Kecamatan Jatilawang, Kabupaten Banyumas ini, semua seakan bergerak dengan irama yang berbeda. Di kampung adat tersebut, warisan Kyai Bonokeling masih berdetak melalui tradisi yang telah bertahan ratusan tahun. Bukan sekadar ritual, melainkan sebuah cara pandang tentang hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam.
Ketua Adat Komunitas Bonokeling, Kyai Sumitro, menjelaskan bahwa seluruh kehidupan masyarakat adat bertumpu pada lima ajaran sederhana yang justru terasa semakin relevan di tengah zaman modern.
Yang pertama adalah Japa, yakni doa. Namun doa, bagi Bonokeling, bukan sekadar rangkaian kata. Ia adalah kesadaran untuk selalu bersyukur kepada Sang Pencipta.
“Doa saja tidak cukup,” ujar Kiyai Sumitro.
Karena itu hadir ajaran kedua, Srana, yang berarti ikhtiar. Kehidupan harus diperjuangkan. Manusia diwajibkan bekerja, bertani, berkarya, dan mencari nafkah sebagai bentuk tanggung jawab terhadap kehidupan yang telah dianugerahkan Tuhan.
Ajaran ketiga disebut Laku. Inilah etika hidup. Bagaimana manusia menjaga perilaku terhadap sesama, menghormati orang tua, hidup rukun, sekaligus menjaga alam yang menjadi sumber kehidupan. Dalam falsafah Bonokeling, merusak lingkungan sama saja melukai kehidupan itu sendiri.
Selanjutnya adalah Ilmu. Pengetahuan dipandang sebagai pelita agar manusia tidak berjalan dalam kegelapan. Akal bukan untuk meninggikan diri, tetapi menjadi alat agar setiap usaha dilakukan secara bijaksana. Puncaknya adalah Tapa, yaitu kemampuan mengendalikan hawa nafsu.
“Tidak perlu muluk-muluk. Yang penting mampu mengendalikan diri,” katanya.
Lima ajaran itu menjadi jalan menuju falsafah manunggaling kawula Gusti, penyatuan batin manusia dengan Sang Pencipta tanpa kehilangan kemanusiaannya.
Di era ketika manusia berlomba mengejar materi, ajaran Bonokeling justru mengingatkan bahwa kemenangan terbesar adalah ketika seseorang mampu menaklukkan dirinya sendiri.
Berjalan untuk Mengingat
Tradisi terbesar masyarakat Bonokeling dikenal sebagai Unggahan atau Perlon, yang dilaksanakan setiap Jumat menjelang Ramadan. Ribuan keturunan Bonokeling dari Banyumas dan Cilacap berkumpul. Namun sebelum berkumpul, mereka lebih dahulu menempuh perjalanan kaki puluhan kilometer. Mereka memanggul hasil bumi, ternak, dan berbagai sesaji. Semua berasal dari ladang yang mereka kelola sendiri.
Di zaman kendaraan bermotor dapat memangkas perjalanan dalam hitungan menit, memilih berjalan kaki mungkin terlihat tidak efisien. Namun justru di situlah nilai tradisi ini. Setiap langkah menjadi napak tilas perjalanan Kyai Bonokeling ketika menyebarkan ajarannya. Jalan yang ditempuh bukan sekadar jarak geografis, melainkan perjalanan spiritual untuk merendahkan ego dan mengingat asal-usul.
Sesampainya di Pekuncen, ribuan peziarah memadati kompleks makam leluhur. Malam berubah menjadi ruang kontemplasi. Tembang-tembang Jawa dilantunkan, bukan untuk hiburan, melainkan sebagai doa yang diwariskan lintas generasi.
Ketika Laki-laki Memasak dan Perempuan Dimuliakan
Ada pemandangan yang mungkin mengejutkan sebagian orang. Seluruh proses penyembelihan ternak hingga memasak gulai dilakukan oleh kaum pria. Tradisi ini bukan dimaksudkan untuk merendahkan perempuan, melainkan bagian dari simbol kesucian dalam keyakinan Bonokeling.
Sementara itu, perempuan justru menempati posisi yang sangat terhormat. Dengan balutan kemben putih, mereka memasuki kompleks makam secara bergantian. Mereka membasuh kaki, tangan, dan wajah sambil memanjatkan doa. Dalam ajaran Bonokeling, perempuan dipandang sebagai representasi Ibu Bumi, sumber kehidupan yang melahirkan generasi penerus.
Pandangan ini menunjukkan bagaimana masyarakat adat memaknai perempuan bukan sekadar pelengkap kehidupan, tetapi penjaga keberlangsungan peradaban.
Tradisi yang Bertahan di Tengah Arus Zaman
Modernisasi memang terus mengetuk pintu Desa Pekuncen. Teknologi, media sosial, hingga gaya hidup baru perlahan memasuki ruang-ruang kehidupan masyarakat. Namun masyarakat Bonokeling tidak memilih menolak perubahan. Mereka justru menjaga keseimbangan antara menerima kemajuan dan mempertahankan akar budaya.
Pelajaran terbesar dari Bonokeling bukanlah tentang bagaimana mempertahankan masa lalu secara membabi buta. Melainkan bagaimana menjadikan warisan leluhur sebagai kompas moral ketika dunia berubah terlalu cepat.
Di tengah peradaban yang sering mengukur keberhasilan lewat harta, jabatan, dan popularitas, Bonokeling menawarkan definisi yang jauh lebih sederhana: manusia yang sempurna bukanlah mereka yang memiliki segalanya, melainkan mereka yang mampu menjaga hubungan dengan Tuhan, sesama manusia, alam, dan dirinya sendiri.
Mungkin itulah sebabnya ribuan orang tetap rela berjalan kaki setiap tahun menuju Pekuncen. Sebab yang mereka cari bukan sekadar makam seorang leluhur. Melainkan jalan pulang menuju nilai-nilai yang membuat manusia tetap menjadi manusia. (*






