EsaiJejak Kata

Menari di Bawah Cahaya K-Pop, Lupa Menyalakan Lampu Budaya Sendiri

×

Menari di Bawah Cahaya K-Pop, Lupa Menyalakan Lampu Budaya Sendiri

Sebarkan artikel ini
ILUSTRASI

Juru Bicara Kemenpar Nia Niscaya menila:i paket-paket wisata musik khususnya yang bertemakan K-Pop dapat mendatangkan lebih banyak wisatawan mancanegara ke Indonesia. Industri pariwisata nasional perlu melihat banyaknya konser K-Pop yang digelar, sebagai peluang untuk menggerakkan sektor pariwisata.

EHEM! Indonesia tampaknya mulai menemukan rumus baru untuk mendongkrak sektor pariwisata: konser K-Pop. Bukan lagi sekadar hiburan, tetapi telah naik kelas menjadi komoditas ekonomi. Kementerian Pariwisata melihatnya sebagai peluang emas. Ribuan wisatawan diperkirakan datang, hotel terisi, restoran kebanjiran pelanggan, transportasi bergerak, pajak mengalir ke kas negara. Semua angka terlihat menjanjikan.

Sulit membantah hitung-hitungan itu. Dalam ekonomi modern, konser memang bukan sekadar panggung musik. Ia adalah industri yang menggerakkan banyak sektor sekaligus. Jika konser BTS benar mampu menyumbang ratusan miliar rupiah dalam perputaran uang, tentu pemerintah patut menyambutnya sebagai peluang.

Tetapi negeri ini selalu punya kebiasaan unik: begitu sibuk menghitung pemasukan, sampai lupa menghitung apa yang perlahan hilang.

Di negeri yang memiliki ribuan tarian tradisional, ratusan alat musik daerah, puluhan bahasa ibu yang mulai sekarat, dan warisan budaya yang tak habis dieja, ironi justru muncul ketika gegap gempita budaya asing lebih mudah memperoleh panggung dibanding kebudayaan sendiri.

Bukan berarti K-Pop adalah ancaman. Sama sekali bukan. Korea Selatan justru patut dipuji. Mereka berhasil membuktikan bahwa budaya bisa menjadi industri bernilai miliaran dolar tanpa kehilangan identitas nasional. Musik mereka menjadi diplomasi. Film mereka menjadi promosi wisata. Drama mereka menjadi etalase budaya.

Pertanyaannya bukan mengapa Korea berhasil. Pertanyaannya, mengapa Indonesia yang jauh lebih kaya secara budaya justru lebih sering menjadi penonton?

Kita sering lebih hafal nama personel grup idola Korea dibanding nama maestro gamelan. Anak muda mampu menirukan koreografi lagu terbaru dalam hitungan jam, tetapi gagap ketika diminta menyebut tiga tarian dari daerahnya sendiri. Ini bukan kesalahan generasi muda. Mereka hanya mengonsumsi apa yang terus dipromosikan.

Budaya, pada akhirnya, mengikuti siapa yang paling keras bersuara.

Di sinilah pemerintah seharusnya tidak berhenti menjadi fasilitator konser internasional. Jika kemudahan izin, promosi, dan paket wisata dapat diberikan kepada konser K-Pop, mengapa semangat yang sama belum terasa untuk festival budaya Nusantara? Mengapa pertunjukan wayang, lenong, randai, angklung, sasando, hingga musik tradisional lain belum diperlakukan sebagai “event premium” yang juga layak dijual ke dunia?

Ironinya, kita sering menjadikan budaya lokal sebagai dekorasi seremoni. Dipakai saat pembukaan acara, lalu disimpan kembali di gudang setelah tepuk tangan selesai.

Padahal wisatawan asing datang ke Indonesia bukan untuk mencari miniatur Seoul. Mereka datang mencari Indonesia.

Di sisi lain, kita juga tak boleh terjebak dalam romantisme budaya lokal sambil menutup mata terhadap realitas global. Menolak budaya asing bukanlah solusi. Dunia memang telah menjadi ruang bersama. Pertukaran budaya adalah keniscayaan. Yang berbahaya bukan masuknya budaya luar, melainkan melemahnya daya tawar budaya sendiri.

Dekadensi moral yang sering disalahkan kepada budaya asing sesungguhnya lebih banyak lahir karena hilangnya akar. Ketika identitas budaya tak lagi dikenalkan dengan bangga, generasi muda akan mencari identitas lain yang dianggap lebih keren. Kekosongan budaya selalu diisi oleh budaya yang lebih percaya diri.

Maka persoalannya bukan soal K-Pop atau bukan K-Pop. Masalahnya adalah keseimbangan.

Indonesia membutuhkan konser BTS. Tetapi Indonesia juga membutuhkan panggung yang sama megah bagi para seniman daerah. Indonesia membutuhkan wisata konser internasional, tetapi juga membutuhkan wisata budaya yang hidup, bukan sekadar museum yang sepi pengunjung.

Sebab bangsa yang besar bukan bangsa yang takut pada budaya asing. Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menyambut tamu tanpa kehilangan wajahnya sendiri.

Jika lampu panggung K-Pop mampu menerangi ekonomi, biarlah cahaya itu juga menjadi pengingat untuk kembali menyalakan lampu budaya Nusantara. Jangan sampai kita menjadi tuan rumah yang sibuk menjual tiket pertunjukan, tetapi lupa merawat panggung warisan leluhur.

Sebab budaya bukan sekadar tontonan. Ia adalah cermin jati diri. Dan bangsa yang kehilangan cermin, cepat atau lambat akan lupa mengenali dirinya sendiri. (*


Oleh: Jejak Kata

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *