Soft News

Jejak Pos Jaga yang Melahirkan Nama Tangerang dan Kisah Cina Benteng

×

Jejak Pos Jaga yang Melahirkan Nama Tangerang dan Kisah Cina Benteng

Sebarkan artikel ini
Sebuah replika meriam di Bantaran Sungai Cisadane tak jauh dari titik yang dulunya dijadikan sebagai pos atau benteng VOC

DI Sunga Cisadane, Air terus mengalir tanpa pernah mengingat siapa yang pertama kali menyeberanginya. Namun tanah di sekitarnya masih menyimpan jejak yang lebih tua daripada deretan ruko, jalan raya, dan lampu-lampu kota. Di sanalah, lebih dari tiga abad lalu, berdiri sebuah benteng kecil yang diam-diam mengubah arah sejarah Tangerang.

Namanya Benteng Makassar. Kini, bangunannya telah lama lenyap ditelan waktu. Tidak ada tembok tinggi yang tersisa untuk difoto wisatawan. Tidak ada meriam yang masih menghadap sungai. Yang bertahan hanyalah nama, cerita, dan ingatan kolektif yang terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Ironisnya, benteng yang nyaris menghilang itu justru melahirkan identitas sebuah kota.

Pada penghujung abad ke-17, wilayah di sepanjang Sungai Cisadane merupakan garis depan yang memisahkan dua kekuatan besar di Pulau Jawa. Di sebelah timur berdiri Batavia yang berada di bawah kendali Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC), sementara di sebelah barat terbentang wilayah Kesultanan Banten, salah satu kerajaan maritim yang disegani Nusantara.

Sungai Cisadane bukan sekadar aliran air. Ia adalah batas politik, jalur perdagangan, sekaligus panggung perebutan pengaruh.

Untuk mengamankan perbatasan itu, sekitar tahun 1683–1685, VOC mendirikan sebuah pos pertahanan di tepi Cisadane, tidak jauh dari kawasan yang kini dikenal sebagai Pasar Lama Tangerang. Benteng itu dibangun bukan untuk menunjukkan kemegahan arsitektur, melainkan sebagai mata yang terus berjaga terhadap setiap pergerakan dari arah barat.

Namun, ada satu hal yang membuat benteng ini berbeda dari benteng-benteng VOC lainnya. Para penjaganya bukan berasal dari Belanda.

VOC menempatkan serdadu dan pekerja asal Makassar di benteng tersebut. Mereka adalah bagian dari kelompok masyarakat Sulawesi Selatan yang, setelah berbagai pergolakan politik di Nusantara, direkrut atau dipindahkan untuk membantu kepentingan VOC di berbagai wilayah. Kehadiran merekalah yang kemudian membuat masyarakat menyebut pos pertahanan itu sebagai Benteng Makassar.

Sejarah sering kali menyimpan selera humor yang unik. Sebuah benteng yang berdiri di tanah Sunda justru dikenang dengan nama sebuah kota di Sulawesi.

Dari benteng sederhana itulah lahir sebutan yang kelak melekat pada wilayah sekitarnya. Orang-orang mulai mengenali kawasan itu sebagai Benteng. Lama-kelamaan, penyebutan tersebut berkembang menjadi identitas wilayah yang kemudian melahirkan nama Tangerang seperti yang dikenal sekarang.

Jika Jakarta tumbuh dari pelabuhan Sunda Kelapa, maka Tangerang bertumbuh dari sebuah pos jaga di tepian sungai.

Namun Benteng Makassar bukan hanya meninggalkan nama kota.

Benteng ini juga menjadi saksi bertemunya berbagai kelompok manusia. Di sekitar kawasan tersebut, VOC menempatkan komunitas Tionghoa yang berperan dalam pertanian, perdagangan, hingga pengelolaan lahan. Mereka hidup berdampingan dengan masyarakat lokal dan komunitas dari berbagai daerah Nusantara.

Dari proses panjang itulah lahir komunitas yang kini dikenal sebagai Cina Benteng—masyarakat Tionghoa Tangerang yang memiliki kebudayaan khas, hasil perjumpaan lintas etnis selama ratusan tahun. Tradisi mereka, mulai dari bahasa, kuliner, hingga perayaan budaya, menjadi bukti bahwa sejarah tidak selalu dibangun oleh peperangan. Kadang, ia tumbuh dari kehidupan sehari-hari di sekitar sebuah benteng.

Waktu terus berjalan. Benteng Makassar perlahan kehilangan fungsi militernya. Ketika batas kekuasaan berubah dan kota berkembang, bangunannya menghilang satu demi satu. Batu-batunya mungkin telah menjadi bagian dari bangunan lain, sementara tanahnya berubah menjadi kawasan perdagangan yang ramai.

Kini, di sekitar Pasar Lama, aroma laksa, sate, dan jajanan tradisional lebih mudah ditemukan daripada jejak tembok benteng. Sungai Cisadane pun tetap mengalir, seolah menyembunyikan rahasia yang pernah disaksikannya tiga abad silam.

Tetapi sejarah tidak selalu membutuhkan bangunan utuh untuk tetap hidup.Ia cukup bersemayam dalam nama, dalam cerita yang dituturkan, dan dalam ingatan masyarakat yang terus merawatnya.

Benteng Makassar mengajarkan bahwa sebuah kota tidak selalu lahir dari istana yang megah atau monumen yang menjulang. Kadang, ia berasal dari sebuah pos penjagaan yang sederhana, dari pertemuan orang-orang yang datang dari tempat berbeda, lalu bersama-sama menulis bab baru sebuah peradaban.

Dan setiap kali Tangerang disebut hari ini, sesungguhnya gema nama itu masih membawa jejak sebuah benteng tua yang pernah berdiri tegak di tepian Cisadane—menjaga batas wilayah, sekaligus tanpa disadari, melahirkan sebuah identitas yang bertahan melampaui zaman.(*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *