Jejak KataSeni dan Hiburan

Wates Langkah: Bahasa yang Tak Bersuara di Tengah Riuh Tepi Cisadane

×

Wates Langkah: Bahasa yang Tak Bersuara di Tengah Riuh Tepi Cisadane

Sebarkan artikel ini
Kegiatan workshop melukis yang dipandu langsung oleh penyandang disabilitas tunarungu program kolaborasi “Wates Lengkah” di Festival Cisadane 2026, Kota Tangerang | Sumber: Diskominfo Kota Tangerang

JEJAK KATA, Kota Tangerang — Di tepian Sungai Cisadane, suara musik berpadu dengan tawa pengunjung dan hiruk-pikuk stan kuliner. Festival Cisadane 2026 kembali menjadikan bantaran sungai sebagai panggung kebudayaan. Namun, di antara riuh yang memenuhi udara, ada sebuah ruang yang justru mengajarkan bahwa komunikasi tak selalu membutuhkan suara.

Beberapa lembar kanvas putih terbentang di atas meja. Kuas-kuas mulai menari pelan. Seorang instruktur mengangkat tangannya, memberi aba-aba melalui bahasa isyarat. Peserta memperhatikan dengan saksama, lalu mengikuti setiap gerakan yang ditunjukkan.

Tak ada pengeras suara. Tak ada instruksi panjang. Hanya tatapan, senyum, dan warna yang perlahan membentuk cerita.

Untuk pertama kalinya, Festival Cisadane menghadirkan workshop melukis yang dipandu langsung oleh penyandang disabilitas tunarungu. Program ini menjadi bagian dari kolaborasi Wates Lengkah, sebuah gerakan yang ingin memperluas makna inklusi melalui seni dan kebudayaan.

Di sini, peran berubah. Mereka yang selama ini kerap dipandang sebagai penerima layanan justru berdiri di depan, menjadi pengajar. Sementara para pengunjung—mulai dari anak-anak hingga orang dewasa—duduk sebagai murid, belajar memahami bahasa yang tak diucapkan.

Setiap sapuan kuas menjadi jembatan. Setiap warna menjadi kalimat.

“Konsep workshop ini memang memberikan ruang kepada teman-teman disabilitas untuk berkarya sekaligus menunjukkan hasil karyanya kepada publik. Di Festival Cisadane ini justru teman-teman disabilitas menjadi instruktur bagi masyarakat umum untuk melukis bersama,” ujar Ketua Pelaksana Wates Lengkah BPK Wilayah VIII Banten, Yuni Rahmawati, Jumat 24 Juli 2026.

Workshop tersebut dibuka gratis untuk seluruh pengunjung, terutama pelajar. Sejak dibuka, meja-meja melukis tak pernah benar-benar kosong. Banyak yang datang karena penasaran, lalu bertahan karena merasakan pengalaman yang berbeda.

Mereka tidak hanya pulang membawa lukisan. Mereka membawa cara pandang baru.

Di tengah kehidupan yang serba cepat, seni kembali menunjukkan fungsinya sebagai bahasa universal. Ketika kata-kata tak dapat menjangkau, warna mengambil alih. Ketika pendengaran memiliki batas, kreativitas justru menemukan jalannya sendiri.

Yuni mengatakan, kolaborasi ini mendapat sambutan positif dari Pemerintah Kota Tangerang. Baginya, sebuah festival budaya akan lebih bermakna ketika mampu menghadirkan ruang yang setara bagi siapa pun untuk terlibat.

“Kami mendapat dukungan dari Pemkot Tangerang untuk menghadirkan ruang kebudayaan yang inklusif. Jadi teman-teman disabilitas tidak hanya menikmati festival, tetapi juga menjadi bagian penting yang menghidupkan festival itu sendiri,” ujarnya.

Kolaborasi tersebut tak berhenti pada workshop melukis. Selama Festival Cisadane 2026, pengunjung juga dapat mengikuti workshop membatik dan menyaksikan pameran karya para penyandang disabilitas. Semua dirancang untuk menunjukkan bahwa kreativitas tidak mengenal batas fisik maupun bahasa.

Harapan berikutnya pun tak kalah besar. Program inklusif ini diinginkan terus hadir dalam penyelenggaraan Festival Cisadane pada tahun-tahun mendatang, seiring target festival masuk ke jajaran 10 besar Karisma Event Nusantara.

Namun, mungkin pencapaian terbesar festival ini bukan sekadar masuk daftar bergengsi itu. Melainkan menghadirkan sebuah pengalaman yang sulit dilupakan: ketika ribuan orang menyadari bahwa kebudayaan bukan hanya tentang tari, musik, atau pameran karya, tetapi juga tentang memberi ruang agar setiap manusia dapat dilihat karena kemampuannya, bukan karena keterbatasannya.

Di tepian Cisadane hari itu, warna-warna di atas kanvas tidak sekadar membentuk gambar. Ia melukis sesuatu yang lebih besar—sebuah pengingat bahwa inklusi bukanlah slogan, melainkan keberanian untuk memberi kesempatan. Dan ketika kesempatan itu hadir, karya berbicara lebih nyaring daripada suara. (*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *