JEJAK KATA, Cilacap – Pagi baru saja menyibak Pantai Teluk Penyu ketika debur ombak Samudera Hindia memecah kesunyian. Angin asin berembus pelan, menyapu pepohonan tua yang menaungi bangunan-bangunan bata berlumut. Dari kejauhan, Benteng Pendem tampak seperti bagian dari bumi itu sendiri—setengah tersembunyi, setengah bercerita.
Tak banyak bangunan kolonial di Indonesia yang memiliki kisah seunik benteng ini. Ia bukan hanya tua, tetapi pernah benar-benar “menghilang”. Bertahun-tahun, sebagian besar bangunannya tertutup tanah dan semak belukar hingga masyarakat menjulukinya Benteng Pendem—benteng yang terpendam.
Nama itu bukan nama resmi. Dalam catatan sejarah, benteng ini dikenal sebagai Benteng Willem II atau Kusbatterij op de Landtong te Tjilatjap, sebuah benteng pertahanan yang dibangun Pemerintah Hindia Belanda pada 1861 dan diselesaikan pada 1879.
Benteng seluas sekitar 10,5 hektare ini berdiri di salah satu titik paling strategis di pesisir selatan Jawa. Dari tempat inilah Belanda mengawasi jalur pelayaran menuju Teluk Cilacap, sekaligus mengendalikan akses ke Selat Nusakambangan yang sejak lama memiliki nilai militer dan ekonomi yang tinggi.
Pada abad ke-19, Cilacap bukanlah kota kecil yang sepi. Pelabuhannya berkembang sebagai salah satu gerbang perdagangan di pesisir selatan Pulau Jawa. Hasil bumi dari wilayah pedalaman Jawa diekspor melalui pelabuhan ini, sementara kapal-kapal dagang dan kapal perang silih berganti melintasi perairannya. Keberadaan benteng menjadi bagian penting dari sistem pertahanan kolonial untuk melindungi jalur pelayaran tersebut.
Lorong-lorong bawah tanah menjadi urat nadi benteng. Udara di dalamnya masih terasa lembap hingga kini, seolah menyimpan gema langkah para serdadu yang pernah berjaga. Di beberapa sudut masih berdiri bekas barak tentara, ruang pertahanan, gudang amunisi, gudang senjata, hingga sebuah klinik yang dibangun pada 1879.
Klinik itu menjadi bangunan terakhir yang didirikan di kompleks benteng. Di sanalah para prajurit yang terluka atau terserang penyakit mendapat perawatan sebelum kembali bertugas menjaga pesisir.
Mengelilingi benteng, terdapat parit yang dahulu berfungsi ganda. Selain mengalirkan air dari lorong bawah tanah agar tetap kering, parit juga menjadi penghalang alami bagi musuh yang mencoba menembus pertahanan.
Sementara itu, sebelas meriam ditempatkan pada posisi yang diperhitungkan secara cermat. Enam diarahkan ke Samudera Hindia, mengawasi kemungkinan ancaman dari lautan lepas. Lima lainnya menghadap Selat Nusakambangan, memastikan setiap pergerakan kapal berada dalam jangkauan pengawasan.
Seiring bergantinya zaman, benteng ini pun berganti peran.
Pada 1952 hingga 1965, kawasan Benteng Pendem digunakan sebagai markas Tentara Nasional Indonesia (TNI), termasuk Pasukan Banteng Loreng. Kawasan ini juga pernah menjadi lokasi latihan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD), yang kini dikenal sebagai Kopassus.
Salah satu jejak masa itu masih dapat disaksikan melalui Tugu Monumen Peluru, yang kini menjadi gerbang utama memasuki kompleks benteng. Monumen sederhana itu menjadi penanda bahwa tempat ini pernah menjadi bagian dari perjalanan pertahanan Indonesia setelah masa kolonial berakhir.
Namun sejarah tidak selalu berjalan mulus.
Selepas 1965, Benteng Pendem perlahan ditinggalkan. Selama lebih dari dua dekade, bangunan-bangunan tua itu dibiarkan tanpa perawatan. Tanah menimbun sebagian dinding, akar pepohonan merambat di sela-sela bata, sementara semak belukar menjadikan benteng seolah lenyap dari ingatan.
Masyarakat sekitar kemudian melahirkan berbagai cerita tutur. Ada yang meyakini lorong bawah tanah benteng terhubung hingga Nusakambangan. Ada pula kisah tentang suara langkah tanpa wujud yang kadang terdengar saat malam tiba. Cerita-cerita semacam itu hidup sebagai bagian dari folklor lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi. Meski tidak dapat dibuktikan secara historis, kisah tersebut memperkaya identitas budaya Benteng Pendem dan menambah daya tariknya sebagai destinasi wisata sejarah.
Harapan datang pada 26 November 1986 ketika seorang warga Cilacap, Adi Wiyono, memulai upaya menggali kembali kawasan benteng yang telah lama tertimbun. Sedikit demi sedikit tanah disingkirkan, bangunan dibersihkan, dan lorong-lorong yang lama tersembunyi kembali melihat cahaya matahari.
Usaha itu menjadi titik balik penyelamatan salah satu warisan sejarah terpenting di Kabupaten Cilacap.
Pada 28 April 1987, Benteng Pendem resmi dibuka untuk umum. Sejak saat itu, ribuan pengunjung datang setiap tahun, bukan hanya untuk menikmati panorama Pantai Teluk Penyu, tetapi juga untuk menyusuri jejak sejarah yang tersimpan di balik tembok-tembok tua.
Kini Benteng Pendem bukan sekadar destinasi wisata. Ia adalah ruang belajar terbuka tentang arsitektur militer abad ke-19, perkembangan pelabuhan di pesisir selatan Jawa, perjalanan TNI, hingga pentingnya pelestarian cagar budaya.
Di tengah derasnya arus modernisasi, benteng ini mengingatkan bahwa masa lalu tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya menunggu untuk digali kembali—persis seperti Benteng Pendem yang selama puluhan tahun bersembunyi di bawah tanah, sebelum akhirnya kembali berdiri sebagai penjaga sunyi di bibir Samudera Hindia. (*






