Jejak KataSoft News

Jejak Empat Masjid yang Menjaga Peradaban di Kota Tangerang

×

Jejak Empat Masjid yang Menjaga Peradaban di Kota Tangerang

Sebarkan artikel ini
Keunikan Struktur Kubah Masjid Al Azom Kota Tangerang, tanpa tiang penyangga: kubah induk di tengah ditopang oleh empat kubah setengah lingkaran di bawahnya secara kokoh tanpa menggunakan tiang di ruang utama | FOTO: Dok. Istimewa

JEJAK KATA, Tangerang – Sebuah kota sesungguhnya tidak hanya dibangun oleh jalan raya, gedung-gedung tinggi, atau deretan pusat perbelanjaan. Ada yang lebih sunyi namun jauh lebih kokoh: jejak spiritual yang diwariskan lintas generasi. Di Kota Tangerang, yang dikenal dengan julukan Kota Akhlakul Karimah, jejak itu berdiri dalam bentuk masjid-masjid tua yang tetap setia mengumandangkan azan, meski zaman berkali-kali berganti wajah.

Bagi sebagian orang, masjid hanyalah tempat menunaikan salat. Namun bagi para pencinta sejarah, setiap dindingnya adalah lembaran naskah yang ditulis dengan batu bata, kayu, dan doa-doa yang tak pernah benar-benar usai. Menjelajahi masjid-masjid bersejarah di Kota Tangerang ibarat membuka album tua sebuah kota—setiap sudut menyimpan kisah tentang perdagangan, dakwah, toleransi, hingga perjuangan.

Masjid Kalipasir, Ketika Islam dan Tionghoa Bertemu dalam Harmoni

Di tepian Sungai Cisadane, berdiri sebuah masjid yang usianya telah melampaui empat abad. Masjid Kalipasir, yang diyakini berdiri pada 1576 Masehi, bukan sekadar rumah ibadah tertua di Kota Tangerang. Ia adalah saksi ketika jalur perdagangan membawa beragam bangsa bertemu, lalu melahirkan sebuah ruang yang mengajarkan bahwa perbedaan tidak selalu berakhir pada pertentangan.

Atapnya yang menyerupai pagoda dengan sentuhan arsitektur Tionghoa menjadi penanda bahwa sejarah Nusantara dibangun melalui perjumpaan berbagai kebudayaan. Di tempat ini, ornamen tidak sekadar menjadi hiasan, melainkan bahasa yang mengisahkan harmoni antaretnis jauh sebelum toleransi menjadi slogan yang kerap diulang dalam pidato.

Hingga kini, Masjid Kalipasir di Jalan Kalipasir, Kecamatan Tangerang, masih menjadi tujuan wisata religi. Banyak peziarah datang bukan hanya untuk beribadah, tetapi juga menyelami denyut sejarah yang masih hidup di antara dinding-dinding tuanya.

Masjid Agung Al-Ittihad, Dari Ruang Penjara Menjadi Ruang Doa

Tak jauh dari pusat Kota Tangerang, berdiri Masjid Agung Al-Ittihad. Di balik kemegahan bangunannya, tersimpan kisah yang mengingatkan bahwa sejarah tidak selalu lahir dari halaman yang indah.

Pada masa pendudukan Jepang antara 1942 hingga 1945, kawasan ini pernah digunakan sebagai penjara tahanan politik. Waktu kemudian mengubah fungsi ruang itu. Tempat yang dahulu menyimpan ketakutan, kini dipenuhi lantunan ayat suci dan doa-doa yang mengalir tanpa henti.

Barangkali inilah cara sejarah bekerja. Luka tidak selalu dihapus, tetapi perlahan diberi makna baru.

Kini, letaknya yang berada di Jalan Kisamaun menjadikan Masjid Al-Ittihad sebagai salah satu pusat aktivitas keagamaan masyarakat Kota Tangerang.

Masjid Raya Al-A’zhom, Kubah yang Menyentuh Langit Kota

Jika Kalipasir adalah jejak masa lalu, maka Masjid Raya Al-A’zhom adalah penanda perjalanan Kota Tangerang menuju masa kini.

Lima kubah raksasa yang saling menopang berdiri tanpa tiang utama, sebuah rancangan arsitektur yang menjadi kebanggaan kota. Lima kubah itu melambangkan lima rukun Islam sekaligus mengingatkan pada lima waktu salat yang menjadi denyut kehidupan seorang muslim.

Di pelatarannya, empat payung besar yang terinspirasi dari Masjid Nabawi di Madinah mengembang saat matahari terik, menghadirkan suasana yang membuat banyak orang sejenak merasa sedang berada jauh dari hiruk-pikuk perkotaan.

Masjid ini bukan hanya menjadi pusat ibadah, tetapi juga ruang berkumpul masyarakat melalui berbagai kegiatan keagamaan, pendidikan, hingga festival budaya Islam. Seolah menegaskan bahwa masjid bukan hanya tempat bersujud, melainkan ruang yang menyatukan kehidupan.

Masjid Pintu Seribu, Ketika Jalan Spiritual Memiliki Banyak Pintu

Namanya selalu mengundang rasa ingin tahu. Masjid Pintu Seribu, atau Masjid Agung Nurul Yaqin, tidak benar-benar memiliki seribu pintu. Julukan itu lahir dari banyaknya akses dan lorong di dalam kompleks masjid yang memberi kesan seolah pintunya tak pernah habis dihitung.

Didirikan oleh Syekh Ami Al-Faqir Mahdi Hasan Al-Qudrotillah Al-Muqoddam, yang merupakan keturunan keenam Sunan Gunung Jati, masjid ini berkembang menjadi salah satu tujuan ziarah penting di Tangerang. Di kompleksnya terdapat makam sang pendiri beserta keluarganya yang hingga kini ramai diziarahi masyarakat dari berbagai daerah di Pulau Jawa maupun Sumatra.

Di tempat ini, perjalanan religi terasa seperti perjalanan batin. Setiap lorong mengajak pengunjung melambat, setiap pintu seakan mengingatkan bahwa jalan menuju kebaikan selalu memiliki banyak cara untuk ditempuh.

Empat masjid itu bukan sekadar bangunan yang bertahan melawan usia. Mereka adalah penjaga ingatan sebuah kota. Di antara azan yang terus berkumandang dan langkah-langkah para peziarah yang tak pernah putus, Tangerang menyimpan kisah tentang iman, perjumpaan budaya, dan sejarah yang masih terus bernapas.

Sebab, sebuah kota tidak hanya dikenang karena apa yang dibangunnya hari ini, tetapi juga karena bagaimana ia merawat warisan yang telah dititipkan oleh waktu. (*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *