EsaiJejak Kata

Paradoks Kekuasaan: Pensiun dari Jabatan, Sulit Turun dari Singgasana

×

Paradoks Kekuasaan: Pensiun dari Jabatan, Sulit Turun dari Singgasana

Sebarkan artikel ini
ILUSTRASI

ADA penyakit yang tidak tercantum dalam buku kedokteran. Gejalanya tidak menyebabkan demam, tidak membuat batuk, apalagi pilek. Namun, ia sanggup membuat seseorang susah tidur ketika masa jabatannya tinggal menghitung hari. Penyakit itu bernama: alergi kehilangan kekuasaan.

Aneh memang. Semakin tinggi kursi yang pernah diduduki, semakin sulit pula seseorang berdamai dengan kenyataan bahwa semua kursi, sehebat apa pun, hanyalah furnitur yang suatu hari harus ditinggalkan.

Saya teringat seorang yang pernah saya anggap guru politik. Di sela-sela aroma kopi yang mengepul, ia berkata dengan nada yang nyaris seperti petuah kehidupan.

“Kita harus tetap berada dalam lingkaran kekuasaan. Kalau tidak punya kekuasaan, mau jadi apa kita? Makanya, kita harus menang.”

Kalimat itu sederhana. Namun, di balik kesederhanaannya tersimpan cara pandang yang barangkali telah menjangkiti banyak orang: seolah-olah nilai manusia diukur dari seberapa dekat ia dengan pusat kuasa.

Padahal, kekuasaan hanyalah alat. Masalahnya, terlalu banyak orang yang memperlakukannya sebagai tujuan hidup.

Virus ini rupanya tidak mengenal jenjang jabatan. Ia tidak hanya menyerang penghuni istana, tetapi juga menyelinap ke balai desa, kantor kelurahan, bahkan pos ronda.

Lihat saja pemilihan ketua RT atau RW. Yang diperebutkan mungkin bukan anggaran triliunan rupiah, melainkan stempel, tanda tangan, dan sedikit kewibawaan. Namun, strategi yang dimainkan kadang tak kalah rumit dibandingkan perebutan kursi parlemen. Ada lobi, kubu-kubuan, bisik-bisik tetangga, hingga drama yang lebih panjang daripada sinetron sore.

Ironisnya, jabatan yang sejatinya lahir dari pengabdian, perlahan berubah menjadi simbol status. Bukan lagi soal melayani warga, melainkan soal mempertahankan gengsi.

Padahal, sejarah selalu menunjukkan satu kenyataan yang sama: tidak ada kekuasaan yang abadi. Yang abadi hanyalah bekas yang ditinggalkan oleh pemegangnya.

Maka, ukuran seorang pemimpin bukanlah seberapa lama ia berhasil bertahan di kursi, melainkan apakah setelah ia turun, orang masih mengenangnya dengan rasa hormat, atau justru dengan rasa lega.

Dalam kehidupan sehari-hari pun, kita sering menjumpai paradoks itu. Ada orang yang begitu sibuk mengejar penghormatan dari luar rumah, tetapi gagal membangun kehormatan di dalam rumahnya sendiri. Ada yang disegani ketika memegang jabatan, tetapi kehilangan kehangatan ketika kembali menjadi warga biasa.

Jabatan memang bisa membuat orang berdiri di depan barisan. Namun, ia tidak otomatis membuat seseorang menjadi teladan.

Kita hidup di zaman ketika banyak orang berlomba-lomba menjadi penting, tetapi lupa menjadi baik.

Mungkin karena menjadi orang penting lebih mudah dipamerkan. Ada foto, ada protokoler, ada kursi khusus, ada mikrofon, ada pengawal, bahkan ada orang yang tiba-tiba rajin mengangguk setiap kali kita berbicara.

Sebaliknya, menjadi manusia baik nyaris tidak pernah viral. Tidak ada karpet merah bagi orang yang diam-diam membantu tetangganya. Tidak ada sirene yang mengiringi seseorang yang merawat orang tuanya. Tidak ada tepuk tangan ketika seseorang memilih jujur meski merugikan dirinya sendiri.

Padahal, justru di sanalah letak kemuliaan yang sesungguhnya.

Kekuasaan, setinggi apa pun, hanyalah masa pinjam. Alam tidak pernah mencatat siapa yang paling lama duduk di kursi. Alam hanya mencatat bagaimana manusia memperlakukan sesamanya.

Pada akhirnya, yang dikenang anak cucu bukanlah panjangnya masa jabatan, melainkan panjangnya manfaat.

Ketika usia menua, tidak ada pohon yang bertanya berapa kali seseorang terpilih. Tidak ada sungai yang peduli berapa banyak keputusan yang pernah ditandatangani. Tidak ada burung yang membedakan bekas presiden dengan bekas ketua RT.

Di hadapan alam, semua manusia kembali menjadi makhluk yang sama-sama membutuhkan udara, air, dan tanah.

Dan di hadapan Tuhan, jabatan bukanlah identitas. Ia hanya amanah yang kelak dipertanggungjawabkan.

Mungkin inilah pelajaran yang paling sulit diterima oleh manusia modern: hidup bukan perlombaan untuk terus berada di atas. Hidup adalah perjalanan untuk belajar menjadi manusia biasa yang luar biasa—yang menjaga hubungan baik dengan sesama, menghormati makhluk hidup lain, merawat alam, dan tidak lupa kepada Sang Pencipta.

Sebab, setelah seluruh atribut dilepas dan seluruh protokoler berhenti memberi hormat, yang tersisa bukanlah kekuasaan. Yang tersisa hanyalah nama baik.


Oleh: Jejak Kata

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *