DAUNNYA yang hijau tua meredam terik siang. Di sudut-sudut pekarangan Nusantara, buahnya yang berselimut duri-duri lunak, menggantung seperti lentera alam. Ketika masak, aroma segarnya menguar, mengundang tangan-tangan yang ingin memetiknya. Pohon ini telah begitu akrab dalam kehidupan masyarakat Indonesia hingga banyak orang mengira ia lahir dari tanah yang sama.
Padahal, ia adalah seorang perantau. Itulah sirsak.
Jauh sebelum menghijaukan halaman rumah-rumah di Jawa, Sumatra, Kalimantan, hingga Sulawesi, pohon bernama ilmiah Annona muricata ini tumbuh liar di hutan-hutan tropis Amerika Tengah dan Selatan. Dari lembah Amazon hingga Kepulauan Karibia, ia hidup berdampingan dengan masyarakat setempat selama berabad-abad, menjadi bagian dari lanskap hutan hujan yang lembap dan kaya kehidupan.
Gelombang pelayaran kolonial pada abad ke-19 kemudian mengubah takdirnya. Pemerintah Hindia Belanda membawa sirsak menyeberangi samudra menuju Nusantara. Di negeri kepulauan yang sama-sama beriklim tropis, pohon ini cepat beradaptasi. Tanpa banyak kesulitan, ia tumbuh subur di dataran rendah hingga kawasan berketinggian sekitar 1.000 meter di atas permukaan laut. Dari tanaman introduksi, sirsak perlahan menjelma menjadi penghuni tetap kebun-kebun rakyat.
Namanya pun ikut berlayar. Kata sirsak diyakini berasal dari bahasa Belanda, zuurzak, yang berarti “kantung yang asam”, merujuk pada cita rasa buahnya yang memadukan asam dan manis. Di berbagai daerah, masyarakat kemudian menyebutnya nangka Belanda, nangka seberang, atau nangka walanda. Sementara di tanah Jawa, ia dikenal sebagai srikaya londo. Sebutan itu muncul karena sirsak masih satu keluarga dengan srikaya, yakni genus Annona, tetapi memiliki ukuran buah yang jauh lebih besar. Kata londo dalam bahasa Jawa berarti orang atau sesuatu yang berkaitan dengan Belanda. Nama-nama lokal tersebut menjadi jejak linguistik yang merekam perjalanan sebuah tanaman asing hingga akhirnya diterima sebagai bagian dari kehidupan masyarakat Nusantara.
Namun, perjalanan sebuah pohon tidak hanya ditulis oleh sejarah. Ia juga tumbuh bersama imajinasi manusia.
Ketika malam turun dan bayangan daun-daunnya yang lebat menutup cahaya bulan, sebagian masyarakat percaya pohon sirsak menjadi tempat singgah makhluk halus. Di sejumlah daerah berkembang pula keyakinan bahwa menanamnya tepat di depan rumah dapat membawa energi buruk yang memicu pertengkaran antar anggota keluarga. Kepercayaan-kepercayaan itu tidak memiliki dasar ilmiah, tetapi tetap hidup sebagai bagian dari folklor—warisan cerita yang lahir dari cara manusia membaca alam di sekitarnya.
Begitulah kebudayaan bekerja. Ketika ilmu pengetahuan belum mampu menjelaskan setiap gejala, manusia merangkainya menjadi kisah. Dari sanalah mitos tumbuh, diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya sebagai bagian dari ingatan kolektif masyarakat.
Memasuki zaman modern, mitos tentang sirsak bergeser dari dunia gaib ke dunia kesehatan. Daunnya kerap dipercaya mampu menyembuhkan kanker atau bahkan menggantikan kemoterapi. Harapan itu menyebar luas melalui cerita dari mulut ke mulut hingga media sosial, sering kali tanpa disertai penjelasan ilmiah yang utuh.
Sains, bagaimanapun, mengajarkan kehati-hatian. Sejumlah penelitian memang menemukan adanya senyawa bioaktif pada daun sirsak yang menunjukkan potensi dalam pengujian laboratorium maupun pada hewan. Namun hingga kini, manfaat tersebut belum terbukti aman dan efektif melalui uji klinis pada manusia. Karena itu, daun sirsak tidak dapat dijadikan pengganti terapi medis. Konsumsi berlebihan bahkan berpotensi menimbulkan efek samping, seperti tekanan darah yang terlalu rendah maupun gangguan pada sistem saraf.
Di luar berbagai mitos itu, buah sirsak tetap menyimpan nilai gizi yang nyata. Kandungan vitamin C membantu menjaga daya tahan tubuh, seratnya mendukung kesehatan saluran pencernaan, sementara kalium berperan menjaga keseimbangan tekanan darah. Beragam antioksidan yang terkandung di dalamnya turut membantu melindungi sel-sel tubuh dari paparan radikal bebas.
Mungkin itulah sebabnya sirsak mampu bertahan melintasi zaman. Ia datang sebagai tanaman asing, lalu diterima sebagai bagian dari identitas pekarangan Nusantara. Di bawah rindangnya, sejarah kolonial, bahasa, cerita rakyat, dan ilmu pengetahuan saling bertemu, membentuk kisah yang lebih kaya daripada sekadar asal-usul sebuah buah.
Pada akhirnya, sirsak mengingatkan bahwa setiap tanaman memiliki biografi. Ada yang ditulis oleh pelayaran antar benua, ada yang diabadikan dalam bahasa dan penamaan lokal, ada pula yang hidup sebagai mitos di tengah masyarakat. Tugas ilmu pengetahuan bukan menghapus cerita-cerita itu, melainkan membantu kita memahami batas antara warisan budaya yang layak dikenang dan fakta yang dapat dipertanggung jawabkan. Dengan begitu, kita tidak hanya menikmati manis-asam buahnya, tetapi juga memahami jejak panjang perjalanan yang membawanya hingga tumbuh di halaman rumah kita. (*
Oleh: Jejak Kata






