HISTORI — Lasem bukan sekadar nama sebuah kecamatan di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Kota kecil di pesisir utara Jawa ini menyimpan lapisan sejarah yang panjang: dari kadipaten di bawah pengaruh Majapahit hingga menjadi salah satu ruang perjumpaan budaya Jawa, Tionghoa, dan Islam.
Jejak itu masih bisa dilihat dari bangunan-bangunan tua yang bertahan di antara rumah penduduk. Salah satunya Klenteng Cu An Kiong di Jalan Dasun Nomor 19, Lasem. Klenteng ini kerap disebut sebagai salah satu klenteng tertua di Nusantara.
Sejarah Lasem sendiri telah berlangsung jauh sebelum menjadi bagian dari Kabupaten Rembang. Pusat pemerintahannya pernah berada di Bhumi Kriyan, di sebelah barat Pegunungan Lasem. Pada 1391 Saka, Pangeran Wirabajra memindahkan pusat pemerintahan ke Bhumi Bonang Binangun.
Adapun jejak komunitas Tionghoa di Lasem dipercaya telah muncul sejak berabad-abad silam. Keberadaannya meninggalkan banyak peninggalan budaya, termasuk klenteng, rumah tradisional, dan artefak yang hingga kini masih dirawat.
Menurut Sie Hwie Djan, sesepuh Tionghoa Lasem yang pernah mengelola tiga klenteng tua di kawasan itu, jejak Cu An Kiong bahkan pernah terlihat dalam sebuah peta tua di Museum Leiden, Belanda.
Sejumlah warga Tionghoa Lasem yang berkunjung ke Belanda, kata dia, pernah menemukan peta Lasem bertahun 1411 Masehi. Dalam peta tersebut disebutkan keberadaan Cu An Kiong.
“Kalau tahun berapa klenteng ini berdiri, kita tidak tahu persis. Karena dokumen tiga klenteng yang ada di Lasem ini sudah tidak ada,” ujar Sie Hwie Djan.
Menurut dia, dokumen tiga klenteng tersebut hilang pada Februari 1966 dan hingga kini tidak kembali. Karena itu, tahun pendirian Cu An Kiong belum dapat dipastikan. Peta 1411 Masehi menjadi salah satu petunjuk yang kerap digunakan untuk memperkirakan usia bangunan tersebut.
Bangunan lama Cu An Kiong masih berdiri. Empat tiang kayu jati penyangganya juga tetap kokoh, meski sebagian mulai keropos. Di dalamnya tersimpan sejumlah benda bersejarah, termasuk kio—tandu yang digunakan untuk membawa Makco Thian Siang Sing Bo atau dewa laut.
Usia kio itu diperkirakan sekitar enam abad. Terbuat dari kayu kelengkeng, tandu tersebut dihiasi ukiran yang dilapisi bubuk emas.
“Ukirannya semua berlapis bubuk emas murni,” kata Sie Hwie Djan.
Bangunan Cu An Kiong juga menyimpan cerita lain tentang hubungan Lasem dengan kekuasaan kolonial. Pada sekitar 1800-an, bangunan baru ditambahkan di bagian depan klenteng lama.
Di sana terdapat patung singa yang bentuknya berbeda dari singa ciok say atau kilin yang lazim ditemukan di depan klenteng. Patung tersebut justru menyerupai singa pada lambang Kerajaan Belanda.
Cerita yang berkembang di kalangan warga menyebut patung itu dibuat sebagai siasat agar klenteng tidak diganggu VOC yang kala itu me miliki kekuasaan di sejumlah wilayah Nusantara. Benar atau tidaknya kisah tersebut masih membutuhkan pembuktian melalui sumber sejarah yang lebih kuat.
Namun, di situlah menariknya Lasem. Sejarah kota ini tidak hanya tersimpan dalam buku dan arsip. Ia melekat pada tiang kayu, patung, tandu, rumah tua, klenteng, dan cerita yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Lasem kemudian dikenal pula sebagai Kota Santri. Jejak penyebaran Islam di Jawa berdampingan dengan peninggalan budaya Tionghoa dan tradisi Jawa.
Kota kecil itu seperti lembaran arsip yang belum selesai dibaca. Setiap bangunan tua menyimpan cerita, sementara setiap cerita masih menyisakan pertanyaan: kapan tepatnya ia bermula, siapa yang membangunnya, dan bagaimana ia bisa bertahan melewati pergantian kekuasaan selama berabad-abad. (*






