Jejak KataSoft News

Menelusuri Identitas Kabupaten Tangerang dalam Sehelai Batik

×

Menelusuri Identitas Kabupaten Tangerang dalam Sehelai Batik

Sebarkan artikel ini
Beberapa motif batik khas Kabupaten Tangerang

FASHION — Sehelai kain batik kadang menyimpan lebih banyak cerita daripada yang tampak di permukaannya. Di antara titik-titik malam, garis, dan lengkung motif, ada jejak alam, sejarah, bahkan identitas sebuah daerah yang berusaha agar tidak larut dalam keseragaman.

Batik Indonesia memperoleh pengakuan dunia ketika UNESCO menetapkannya sebagai Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan pada 2 Oktober 2009. Sejak saat itu, tanggal tersebut diperingati sebagai Hari Batik Nasional. Namun, perjalanan batik di Nusantara tentu jauh lebih tua daripada kalender peringatan.

Jejaknya kerap ditautkan dengan masa kerajaan-kerajaan di Jawa, termasuk Majapahit. Dari lingkungan keraton, keterampilan membatik kemudian bergerak ke masyarakat yang lebih luas. Menjelang akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19, batik berkembang semakin kuat, terutama di Pulau Jawa, sebelum kemudian menemukan bentuk dan coraknya sendiri di berbagai daerah Indonesia.

Setiap daerah seolah ingin meninggalkan tanda tangan di atas kain.

Kabupaten Tangerang pun menempuh jalan itu. Pada 2015, pemerintah daerah menggelar lomba desain batik untuk menggali kekhasan lokal. Dari proses itulah muncul sejumlah motif yang mengambil inspirasi dari apa yang hidup, tumbuh, dan dikenal masyarakat setempat.

Ada Batik Wareng, yang mengambil inspirasi dari ayam wareng, unggas yang dikenal sebagai salah satu kekhasan daerah. Ada pula Batik Parakan, yang terhubung dengan rambutan Parakan, buah lokal yang pernah menjadi penanda kampung-kampung tertentu di Tangerang. Kemudian Batik Kacang Cisoka, yang membawa cerita hasil bumi sekaligus tradisi kuliner: kacang yang diolah menjadi kacang sangrai atau yang lebih dikenal masyarakat sebagai kacang baning.

Nama-nama itu menunjukkan satu hal: batik tidak selalu harus mencari inspirasi jauh-jauh. Kadang, identitas sebuah daerah justru tersimpan di halaman rumah, di kebun, di pasar, atau di makanan yang dijajakan di pinggir jalan.

Batik Tangerang bahkan pernah melintasi batas negara. Salah seorang penggiat batik Kabupaten Tangerang, Ali Akipin atau yang dikenal sebagai Alitaba, pernah mendapat pesanan batik dari sebuah partai politik di Malaysia pada 2012. Motif yang dilirik ketika itu adalah Batik Parakan.

Pesanan tersebut tentu bukan berarti Batik Tangerang tiba-tiba menjelma menjadi komoditas internasional. Namun, ia memperlihatkan bahwa motif yang lahir dari identitas lokal bisa memiliki daya tarik di tempat lain. Sehelai kain yang mengambil inspirasi dari buah lokal, misalnya, dapat berjalan lebih jauh daripada pohonnya.

Kini, batik khas Kabupaten Tangerang semakin akrab dengan kehidupan birokrasi. Pada hari-hari tertentu, sejumlah motif batik daerah dikenakan dalam agenda pemerintahan dan menjadi bagian dari pakaian ASN Pemerintah Kabupaten Tangerang.

Di titik itu, batik menghadapi tantangan yang menarik. Ketika ia diwajibkan sebagai seragam, ia memang semakin sering terlihat. Tetapi frekuensi pemakaian tidak selalu sama dengan pemahaman terhadap cerita di balik motifnya.

Batik Wareng bukan sekadar corak unggas. Batik Parakan bukan hanya gambar buah. Batik Kacang Cisoka juga lebih dari sekadar ornamen makanan ringan. Di dalamnya tersimpan upaya sebuah daerah untuk mencatat dirinya sendiri—tentang alam yang pernah dijumpai, tanaman yang dibudidayakan, dan kebiasaan masyarakat yang diwariskan.

Karena itu, pekerjaan menjaga batik tidak selesai dengan mengenakannya setiap pekan. Yang lebih penting adalah memastikan cerita di balik sehelai kain tetap hidup.

Sebab sebuah motif akan menjadi sekadar pola jika tak ada lagi yang mengingat dari mana ia berasal. Dan barangkali, itulah yang sedang dipertaruhkan oleh batik-batik daerah: bukan hanya bagaimana agar kainnya terus dipakai, melainkan bagaimana agar identitas yang dijahit di dalamnya tidak ikut pudar. (*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *