Soft News

Ketika Gamelan Menolak Diam: Mbah Warsito dan Perjuangan Merawat Budaya

×

Ketika Gamelan Menolak Diam: Mbah Warsito dan Perjuangan Merawat Budaya

Sebarkan artikel ini
Mbah Watrsito, Tokoh Budaya di Kabupaten Tangerang | FOTO: Dok. Widi Hatmoko

BUDAYA — Di tengah Kabupaten Tangerang yang terus tumbuh dengan deru mesin industri, ada suara lain yang tak kalah nyaring: gamelan. Suaranya mengalun dari sebuah sanggar di Jalan Palem Kalimati, Desa Kuta Jaya, Kecamatan Pasar Kemis.

Di tempat itu, Mbah Warsito merawat sesuatu yang tak dapat diproduksi oleh mesin: yaitu ingatan, tradisi, dan kebudayaan.

Ia adalah pengasuh Sanggar Seni dan Budaya Putro Satrio Pembuka Jagad. Bagi Mbah Warsito, menjadi pewaris budaya bukan sekadar meneruskan kesenian dari generasi sebelumnya. Ada tanggung jawab yang lebih besar: menjadi pengayom, menjaga warisan leluhur, sekaligus merawat persaudaraan di tengah masyarakat yang semakin beragam.

“Pesan leluhur, jangan sekali-sekali meninggalkan seni budaya. Kita harus bisa menjadi pengayom, pemersatu dalam membangun peradaban,” kata Mbah Warsito kepada Jejak Kata.

Pesan itu terdengar sederhana, tetapi barangkali justru itulah pekerjaan kebudayaan yang paling sulit: menjaga sesuatu agar tidak hilang ketika zaman terus berubah.

Tangerang, menurut Mbah Warsito, adalah ruang perjumpaan. Industri tumbuh, pendatang datang dari berbagai daerah, lalu membawa bahasa, adat, dan kesenian masing-masing. Kota ini menjadi semacam panggonan—tempat banyak kebudayaan bertemu.

Di tengah perjumpaan itulah Mbah Warsito merasa perlu membangun wadah bersama.

Lahirlah Sanggar Putro Satrio Pembuka Jagad

Namanya sendiri seolah membawa cita-cita besar: membuka ruang seluas jagad bagi seni dan kebudayaan. Sanggar itu bukan hanya rumah bagi satu kesenian atau satu kelompok masyarakat. Berbagai tradisi diberi tempat untuk hidup berdampingan.

“Seni diciptakan oleh budaya, sebagai lambang purwodumadineng menungso,” ujar Mbah Warsito.

Kini, sanggar tersebut menaungi sekitar puluhan kelompok seni. Ada campursari yang akrab dengan tembang dan alunan gamelan. Ada wayang kulit yang menyimpan filsafat kehidupan. Ada ndolalak, debus, jathilan, reog, hingga barongan Blora. Kesenian dari berbagai daerah itu bertemu di Tangerang, seperti sungai-sungai kecil yang akhirnya bermuara pada satu ruang kebudayaan.

Tidak ada budaya yang diminta menjadi lebih besar daripada yang lain. Semuanya duduk dalam satu paseduluran.

Aktivitas di sanggar pun berjalan nyaris sepanjang pekan. Karawitan, sinden, dan dalang berlatih pada malam-malam tertentu. Ada pula latihan ndolalak dan remong setiap Minggu. Bagi sebagian orang, malam mungkin waktu untuk beristirahat. Namun di sanggar Mbah Warsito, malam justru menjadi waktu ketika tradisi kembali bernapas.

Puncaknya hadir setiap malam Jumat Kliwon. Pada malam yang memiliki tempat tersendiri dalam penanggalan Jawa itu, para penggiat berkumpul dalam kegiatan wiosan sanggar. Mereka datang, bersilaturahmi, lalu menggelar pagelaran wayang kulit.

Tidak sekadar tontonan, pertemuan itu menjadi semacam nguri-uri kabudayan—merawat kebudayaan agar tidak putus dari generasi berikutnya.

Di zaman ketika banyak hal dapat disimpan dalam telepon genggam, Mbah Warsito tampaknya memilih cara yang lebih tua untuk menyimpan warisan: dengan terus mempraktikkannya.

Sebab budaya, barangkali, memang tidak cukup hanya diarsipkan. Ia harus dimainkan, dinyanyikan, ditarikan, dan diceritakan kembali.

Di situlah Putro Satrio Pembuka Jagad menemukan maknanya. Sanggar itu bukan sekadar tempat latihan. Ia adalah panggon sinau—ruang belajar—tentang bagaimana keberagaman tidak selalu harus melahirkan jarak.

Dari Perbedaan, Bisa Tumbuh Guyub Rukun

Mbah Warsito percaya seni dapat melakukan apa yang kadang gagal dilakukan oleh pidato panjang: yaitu mempertemukan manusia. Ketika gamelan berbunyi, dalang memainkan lakon, atau penari bergerak mengikuti irama, asal-usul menjadi kurang penting daripada kebersamaan.

“Intinya, Putro Satrio Pembuka Jagad adalah sarana untuk membangun peradaban lewat seni dan budaya,” tambah Mbah Warsito.

Kalimat itu mungkin terdengar besar untuk sebuah sanggar di sudut Pasar Kemis. Tetapi peradaban memang tidak selalu dibangun dari gedung-gedung tinggi.

Kadang, ia tumbuh dari sebuah sanggar sederhana, dari tangan yang memukul gamelan, dari suara sinden yang memecah malam, dan dari seorang sesepuh yang memilih tetap menjaga pesan leluhur:

Jangan meninggalkan seni dan budaya. Sebab selama masih ada yang nguri-uri, selama masih ada yang mau menjadi pengayom, dan selama masih ada ruang untuk guyub, kebudayaan belum kehilangan rumahnya. (*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *