Jejak KataSeni dan Hiburan

Teater Al-Fityan School: Mencari Air Prawitasari, Menemukan Jalan Menuju Cita-cita

×

Teater Al-Fityan School: Mencari Air Prawitasari, Menemukan Jalan Menuju Cita-cita

Sebarkan artikel ini
Penampilan anak-anak teater Al Fityan School dalam pementasan "Air Prawitasari" | Foto: Dok. Widi Hatmoko

JEJAK KATA, Tangerang — Lampu di Aula Serbaguna Al-Fityan School, Kelapa Dua, perlahan meredup. Sejenak suasana berubah. Keriuhan muncul dari sekitar panggung, disusul suara anak-anak yang bersahutan. Di antara gelap dan gaduh itu, sejumlah penonton sempat menahan napas.

Pandusiwi, salah seorang anak yang duduk menyaksikan pementasan, termasuk yang sempat dibuat waswas. Ia mengira ada sesuatu yang terjadi di luar skenario. Belakangan, ia baru menyadari bahwa kegaduhan itu justru bagian dari pementasan.

“Kirain apaan ribut-ribut, enggak tahu ini bagian dari seni peran dalam pementasan,” kata Pandusiwi.

Minggu, 30 Agustus 2026, aula sekolah itu menjadi ruang petualangan Bimasema. Bukan petualangan dengan pedang dan monster raksasa seperti cerita kepahlawanan pada umumnya. Anak-anak yang tampil dalam pementasan Air Prawitasari justru mengajak penonton mengikuti perjalanan mencari sesuatu yang lebih ganjil: air suci yang dipercaya dapat membuka jalan menuju cita-cita dan masa depan.

Pementasan karya Hardjono Wirjosoetrisno yang diadaptasi dan disutradarai Yadi Kasuh itu dibuka dengan cara yang santai. Anak-anak pemain dan dalang tampil dengan humor yang membuat jarak antara panggung dan penonton terasa mencair.

Kemudian perjalanan dimulai.

Penampilan Ade Kurniawan bersama boneka SpongeBob pada pentas teater anak-anak Al Fityan School | Foto: Dok. Widi Hatmoko

Bimasema mendapat tugas mencari Air Prawitasari. Ia harus menuju Gunung Soka dan melewati serangkaian ujian. Perjalanan itu tidak sekadar menguji keberanian, tetapi juga mengajak penonton bermain dengan pengetahuan.

Ada Pasukan Tongkat yang melontarkan pertanyaan ilmu pengetahuan. Ada pertemuan dengan Mirna di pasar yang membuat Bimasema harus jeli mengamati dan berhitung. Lalu muncul Pasukan Tambang dengan ujian tentang tubuh manusia.

Seperti perjalanan hidup, tak semua pertanyaan langsung menemukan jawaban.

Bimasema sempat gagal. Ia hampir menyerah. Namun kawan-kawannya datang, bukan membawa jawaban dalam amplop tertutup, melainkan mengajaknya kembali mencari petunjuk. Teka-teki muncul dari petani, laut, hingga permainan tradisional Ular Naga.

Sampai akhirnya Bimasema menemukan satu jawaban yang sebelumnya terlewat: usus besar.

Jawaban itu menjadi pintu menuju kejutan berikutnya. Sebuah kantung menggantung jatuh ke panggung. Penonton mungkin membayangkan Air Prawitasari akan mengucur dari sana. Namun isinya bukan air.

Kantung itu berisi buku-buku pelajaran.

Di situlah Dewa Ruci hadir menjelaskan makna perjalanan Bimasema. Air Prawitasari ternyata bukan benda yang harus dicari jauh-jauh hingga ke gunung atau tempat-tempat ajaib. Air itu adalah semangat belajar, keberanian mencoba, ketekunan, dan kemampuan untuk bangkit setelah jatuh.

Sebuah pelajaran yang disampaikan tanpa terdengar seperti ceramah.

Suasana semakin cair ketika Ade Kurniawan, pengisi suara karakter SpongeBob, muncul dengan boneka karakter kartun tersebut. Dengan suara khasnya, ia membuat aula kembali riuh oleh tawa. Sesaat, dunia pewayangan, teater anak, pelajaran sekolah, dan tokoh kartun seperti duduk dalam satu panggung yang sama.

Sutradara Air Prawitasari, Yadi Kasuh, mengatakan pementasan tersebut menjadi bagian dari persiapan anak-anak asuhnya menuju Festival Teater Anak 2026 yang akan digelar di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

“Anak-anak dengan lakon Air Prawitasari ini akan kita pentaskan dalam ajang Festival Teater Anak 2026 di Jakarta,” ujar Yadi.

Penampilan Teater Al Fityan School | Foto: Dok. Widi Hatmoko

Yadi, yang pernah menjadi asisten sutradara program komedi Office Boy di RCTI, memilih karya Hardjono Wirjosoetrisno untuk dibawa ke panggung anak-anak. Pilihan itu agaknya bukan tanpa alasan.

Di tangan anak-anak, cerita tentang pencarian air suci berubah menjadi perjalanan yang dekat dengan kehidupan mereka sendiri: tentang soal-soal yang sulit, jawaban yang terlupakan, kegagalan, ketakutan, teman-teman yang membantu, dan keberanian untuk mencoba lagi.

Ketika pementasan berakhir, Air Prawitasari memang tidak ditemukan dalam bentuk mata air atau cairan ajaib. Ia justru muncul dalam benda-benda yang mungkin setiap hari dijumpai anak-anak: buku, pertanyaan, permainan, dan proses belajar.

Barangkali, di situlah lakon ini ingin berbisik kepada penontonnya: masa depan tidak selalu tersembunyi di balik gunung yang jauh. Kadang ia tumbuh diam-diam, dari keberanian membuka buku dan kesediaan untuk tidak menyerah ketika belum menemukan jawaban. (*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *