CAGAR BUDAYA — Sebelum jalan-jalan raya membelah kota dan deretan bangunan modern memenuhi tepian Cisadane, kawasan Tangerang telah lebih dahulu dihuni oleh perkampungan, pusat perdagangan, dan komunitas dari berbagai latar belakang. Jejak masa itu masih dapat ditemukan pada sejumlah bangunan tua yang bertahan hingga kini.
Tiga di antaranya berdiri sebagai penanda perjalanan panjang Tangerang: Masjid Jami Kalipasir, Kelenteng Boen Tek Bio, dan bangunan yang kini dikenal sebagai Museum Benteng Heritage.
Namun, ketika bangunan-bangunan itu didirikan, Kota Tangerang belum dikenal sebagai daerah otonom seperti sekarang. Kawasan tersebut sebelumnya merupakan bagian dari Kabupaten Tangerang. Setelah Kota Tangerang resmi dimekarkan pada 27–28 Februari 1993 berdasarkan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1993, bangunan-bangunan bersejarah itu masuk ke dalam wilayah administratif Kota Tangerang.
Masjid Jami Kalipasir, Jejak Islam di Tepian Cisadane

Di tepi Sungai Cisadane, Kelurahan Sukasari, berdiri Masjid Jami Kalipasir. Masjid ini dikenal sebagai salah satu tempat ibadah Islam tertua di Tangerang. Sejumlah catatan menyebut keberadaannya telah ada sejak sekitar 1576, meski terdapat pula keterangan yang menempatkan pembangunannya pada sekitar abad ke-17 atau 1700-an.
Perbedaan penanggalan itu belum menghapus satu kenyataan: Kalipasir merupakan salah satu penanda awal berkembangnya kehidupan Islam di kawasan Tangerang.
Bangunannya juga menyimpan jejak perjumpaan budaya. Arsitektur masjid memperlihatkan unsur lokal yang berpadu dengan corak Tionghoa. Letaknya di tepian Cisadane seolah mengingatkan bahwa sungai itu dahulu bukan sekadar aliran air, melainkan jalur kehidupan, perdagangan, dan pertemuan berbagai komunitas.
Kelenteng Boen Tek Bio, Penjaga Ingatan Tionghoa Benteng

Tak jauh dari sana, di kawasan Pasar Lama, berdiri Kelenteng Boen Tek Bio. Kelenteng yang dibangun pada 1684 itu dikenal sebagai salah satu kelenteng tertua di Tangerang dan menjadi bagian penting dari sejarah komunitas Tionghoa Benteng.
Kelenteng ini berdiri di Jalan Bhakti, kawasan yang sejak lama menjadi pusat aktivitas masyarakat. Bagi komunitas Tionghoa Benteng, Boen Tek Bio bukan hanya tempat beribadah. Ia juga menjadi ruang yang menyimpan ingatan tentang perjalanan sebuah komunitas yang tumbuh bersama perkembangan Tangerang.
Di tengah perubahan wajah Pasar Lama, bangunan ini masih menjadi pengingat bahwa identitas Tangerang dibentuk oleh banyak perjumpaan, bukan oleh satu kebudayaan semata.
Museum Benteng Heritage, Rumah Tua yang Kembali Bercerita

Bangunan tua lain berdiri di Jalan Cilame Nomor 20, kawasan Pasar Lama. Bangunan tradisional Tionghoa yang berasal dari pertengahan abad ke-17 itu kini dikenal sebagai Museum Benteng Heritage.
Rumah tua tersebut pernah melewati masa panjang sebelum direstorasi dan dibuka sebagai museum. Kini, bangunan itu menyimpan berbagai koleksi dan cerita tentang kehidupan masyarakat Tionghoa Benteng serta perjalanan sejarah Tangerang.
Letaknya di kawasan Pasar Lama menjadikan bangunan tersebut sebagai salah satu penanda penting titik awal perkembangan kota. Di tempat ini, sejarah tidak hanya disimpan dalam benda-benda museum, tetapi juga dalam bentuk rumah yang masih bertahan setelah berabad-abad.
Kota Baru, Ingatan Lama
Masjid, kelenteng, dan rumah tua itu lahir jauh sebelum batas-batas administratif Kota Tangerang ditarik. Ketika masih berdiri di wilayah Kabupaten Tangerang, ketiganya telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di tepian Cisadane.
Pemekaran pada 1993 mengubah administrasi wilayah, tetapi tidak memindahkan sejarah. Tiga bangunan tersebut tetap berdiri di tempatnya, lalu menjadi bagian dari Kota Tangerang yang tumbuh kemudian.
Di antara bangunan-bangunan modern, ketiganya seperti arsip yang tidak disimpan di dalam lemari. Mereka masih berdiri, masih digunakan, dan terus mengingatkan bahwa Tangerang dibangun oleh perjalanan panjang, perjumpaan budaya, serta kehidupan masyarakat yang telah berlangsung jauh sebelum kota ini memiliki nama dan batas administratif seperti sekarang. (*






