OLAHRAGA — Dulu, ketapel adalah benda kecil yang sering bersembunyi di saku celana anak-anak kampung. Sebatang kayu bercabang, karet, dan peluru sederhana sudah cukup untuk membuat sore terasa panjang. Kini, benda yang dulu akrab dengan masa kecil itu tak lagi sekadar permainan. Ia telah menemukan gelanggang baru: olahraga kompetitif.
Di Kelurahan Sudimara Selatan, Kecamatan Ciledug, Kota Tangerang, Minggu, 30 Agustus 2026, ketapel kembali ditarik. Namun kali ini bukan untuk sekadar mengusir bosan selepas pulang sekolah. Sebanyak 200 peserta datang dari berbagai daerah untuk membidik target dalam NFZ Slingshot Open Tournament 2026.
Ada peserta dari Jabodetabek, Bandung, Jawa Tengah, hingga Kalimantan. Mereka datang membawa ketapel dan teknik masing-masing. Sebanyak 50 peserta bertanding di kategori pemula, sedangkan 150 lainnya turun di kategori profesional.
Ketapel rupanya telah mengalami nasib yang sama seperti banyak permainan lama: dulu dianggap dolanan bocah, sekarang mendapat panggung, aturan, kategori, dan kompetisi.
Dalam bahasa Jawa, barangkali ini bisa disebut “wong urip iku kudu eling lan nguri-uri”—hidup tak hanya soal melangkah ke depan, tetapi juga mengingat dan merawat apa yang pernah ditinggalkan di belakang.
Turnamen ini digelar NFZ Slingshot Indonesia dan menjadi bagian dari Extradisional Fest 2026, kegiatan Karang Taruna Sudimara Selatan Unit 05 untuk memperingati HUT ke-81 Republik Indonesia.
CEO NFZ Slingshot Indonesia Ahmad Andi Jazuli mengatakan penyelenggaraan kompetisi di wilayah tersebut merupakan yang pertama bagi komunitasnya. Bagi dia, ketapel menawarkan dua hal sekaligus: nostalgia dan tantangan.
“Pertama, kita seperti bernostalgia dengan permainan masa kecil. Kedua, ada tantangan untuk menembak target,” kata Andi.
Membidik sasaran kecil dengan ketapel, kata dia, ternyata bukan perkara “sak karepe dhewe” atau asal menarik karet. Ada teknik, ketelitian, konsentrasi, dan latihan.
Di situlah permainan masa kecil berubah menjadi olahraga. Tangan harus stabil, mata harus jeli, dan pikiran tak boleh kemrungsung—terburu-buru.
Andi bahkan melihat potensi atlet ketapel Indonesia untuk berbicara di level internasional. Harapannya, olahraga yang tumbuh dari komunitas itu memperoleh dukungan lebih besar agar atlet Indonesia dapat mengikuti kompetisi dunia.
Namun, Extradisional Fest tak hanya berbicara tentang ketapel.
Di lokasi yang sama, pengunjung juga menemukan bazar UMKM dan galeri barang antik. Sebuah ruang nostalgia dibangun menyerupai rumah tradisional. Berbagai benda lama ditempatkan di sana, seperti mengajak generasi yang tumbuh bersama layar ponsel untuk sesekali menengok kehidupan sebelum tombol scroll ditemukan.
Ketua Karang Taruna Sudimara Selatan Unit 05, Fawaz Ramadhan, mengatakan galeri itu memang belum lengkap. Tetapi yang ingin dibangun bukan sekadar museum kecil, melainkan ingatan.
“Memang belum terlalu lengkap, tetapi kami berupaya agar esensi rumah tradisional dan alat-alat zaman dahulu sedikit demi sedikit bisa diketahui teman-teman maupun adik-adik kita,” kata Fawaz.
Upaya itu terasa penting ketika banyak benda tradisional kini hanya dikenal lewat foto atau konten singkat di media sosial. Anak-anak mungkin lebih mudah mengenali emoji daripada alat rumah tangga milik kakek-neneknya.
Padahal, dalam istilah Jawa, “wong kang lali marang oyod, gampang tumbang nalika kena angin”—mereka yang lupa akar mudah goyah ketika diterpa angin. Tradisi memang tak harus membuat kita kembali hidup seperti masa lalu. Tetapi mengenalnya adalah cara untuk mengetahui dari mana kita berjalan.
Bagi peserta seperti Maman Abdurachman, yang datang dari Bandung dan telah menggeluti ketapel sejak 2014, turnamen juga menjadi ruang bertemu. Kompetisi hanyalah salah satu alasan. Yang tak kalah penting adalah silaturahmi.
“Pertama memang untuk mengikuti turnamen. Kedua, yang paling penting untuk bersilaturahmi,” ujar Maman.
Di tengah arena, ketapel pun menjadi alasan orang-orang dari berbagai kota saling bertemu. Ada yang datang untuk membidik sasaran. Ada yang datang untuk bernostalgia. Ada pula yang sekadar ingin bertemu kawan lama.
Barangkali itulah yang membuat permainan tradisional sulit benar-benar mati. Selama masih ada orang yang bersedia menarik kembali karetnya, permainan itu selalu memiliki kemungkinan untuk melesat.
Seperti anak panah yang dilepaskan dari busurnya—atau dalam kasus ini, batu kecil dari ketapel—tradisi mungkin tak harus diam di masa lalu. Ia bisa bergerak ke depan.
Asalkan kita tidak “nggege mangsa”, terlalu tergesa-gesa meninggalkan masa lalu demi mengejar segala sesuatu yang disebut baru. Di Sudimara Selatan, ketapel membuktikan satu hal: kadang-kadang, untuk melangkah jauh ke depan, kita hanya perlu menarik sedikit ke belakang. (*






