JEJAK KATA, Jakarta — Perum Bulog memastikan harga beras tetap stabil meski Indonesia menghadapi ancaman musim kemarau ekstrem dan fenomena El Nino. Pemerintah menilai stabilitas harga penting untuk menjaga daya beli masyarakat sekaligus mengantisipasi risiko penurunan produksi pangan akibat kekeringan.
Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdani mengatakan, stok beras pemerintah saat ini mencapai sekitar 5 juta ton. Dengan cadangan tersebut, Bulog berupaya memastikan harga beras tidak melonjak di pasar.
“Kami akan berupaya maksimal mungkin tidak ada kenaikan harga beras, khususnya beras medium maupun beras premium,” kata Rizal di Jakarta, Kamis 03 September 2026.
Pemerintah telah menetapkan harga eceran tertinggi (HET) beras medium sebesar Rp12.500 per kilogram dan beras premium Rp14.900 per kilogram. Bulog memastikan harga di tingkat konsumen tidak melampaui batas tersebut.
Namun, stabilisasi harga tidak hanya bergantung pada stok pemerintah. Rizal mengatakan keterlibatan pelaku usaha swasta diperlukan untuk menjaga ketersediaan beras sekaligus mencegah spekulasi harga di pasar.
“Kami harapkan pihak swasta ikut membantu penyediaan pemerintah,” ujarnya.
Menurut Rizal, pemerintah juga mendorong kemandirian pangan untuk sejumlah komoditas lain. Kebijakan tersebut diperlukan agar gangguan produksi akibat cuaca ekstrem tidak langsung memicu kenaikan harga kebutuhan pokok.
Komoditas yang menjadi perhatian antara lain gula, kedelai, dan bawang putih. Pemerintah berharap ketersediaan cadangan, pengawasan pasar, serta kerja sama dengan sektor swasta dapat meredam gejolak harga pangan selama musim kemarau.
Dengan cadangan beras yang dinilai memadai, Bulog optimistis kebutuhan masyarakat tetap dapat dipenuhi meski kondisi cuaca tidak menentu. (*






