JEJAK KATA, Jakarta — Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengambil alih pembangunan kembali SDN 09 Kebayoran Lama Selatan yang ambruk dan terbengkalai selama dua tahun. Langkah itu diapresiasi Forum Silaturahmi Pemuda Islam (FSPI), tetapi sekaligus memunculkan pertanyaan tentang kinerja Dinas Pendidikan DKI Jakarta.
Koordinator Presidium FSPI Zuhelmi Tanjung meminta Pramono mengevaluasi Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta Nahdiana. Menurut dia, kerusakan fasilitas pendidikan semestinya dapat terdeteksi dan ditangani sebelum mengancam keselamatan siswa.
“Seharusnya Kepala Dinas Pendidikan memiliki sistem pengawasan yang baik terhadap pemeliharaan rutin fasilitas pendidikan,” ujar Zuhelmi dalam keterangannya.
Ia mempertanyakan mengapa sekolah tersebut dibiarkan lebih dari dua tahun setelah mengalami kerusakan berat. Bagi FSPI, persoalan itu bukan hanya soal bangunan, tetapi juga keselamatan siswa dan keberlangsungan kegiatan belajar.
FSPI meminta pembangunan kembali sekolah yang dijanjikan dimulai pada awal September 2026 itu berlangsung transparan, tepat waktu, dan memenuhi standar konstruksi. Pembangunan ditargetkan selesai sekitar 10 hingga 12 bulan.
“Pembangunan ini jangan berhenti pada seremoni atau pencitraan. Harus ada pengawasan yang ketat agar dapat selesai sesuai target,” kata Zuhelmi.
Menurut dia, persoalan SDN 09 Kebayoran Lama Selatan semestinya menjadi bahan evaluasi terhadap sistem pengawasan dan pemeliharaan fasilitas pendidikan di Jakarta.
“Selama dua tahun sejak bangunan itu ambruk, apa peran Kepala Dinas Pendidikan? Mengapa penyelesaiannya baru terlihat serius setelah persoalan ini mendapat perhatian publik?” ujarnya.
FSPI mendesak Pramono melakukan evaluasi menyeluruh. Jika ditemukan kelalaian atau kelemahan dalam pengawasan dan pelaksanaan tugas, organisasi tersebut meminta gubernur mengambil tindakan tegas, termasuk mempertimbangkan pencopotan Nahdiana.
FSPI juga menyatakan akan mengawal pembangunan sekolah tersebut hingga selesai agar siswa dapat kembali memperoleh fasilitas pendidikan yang aman dan layak. (*






