EsaiJejak Kata

Maesyal Rasyid dan Kabupaten Tangerang: Jalan Dibeton, Persoalan Menggenang

×

Maesyal Rasyid dan Kabupaten Tangerang: Jalan Dibeton, Persoalan Menggenang

Sebarkan artikel ini
Foto Dokumen: Banjir di salah satu wilayah di Kecamatan Kresek, Kabupaten Tangerang yang diambil pada 12 Januari 2013 | Widi Hatmoko

ESAI — Menjadi Bupati Tangerang bukan perkara memotong pita, mengenakan rompi proyek, lalu tersenyum di depan kamera. Kabupaten ini punya persoalan yang lebih panjang daripada daftar agenda seremonial: banjir, infrastruktur, pelayanan publik, dan pembangunan yang kadang datang membawa manfaat sekaligus pekerjaan rumah.

Moch. Maesyal Rasyid, mantan birokrat yang pernah menduduki kursi Sekretaris Daerah, tentu memahami bagaimana mesin pemerintahan bekerja. Puluhan tahun berdinas semestinya cukup untuk mengenali keluhan masyarakat, dari gang sempit hingga jalan kabupaten yang menjadi urat nadi ekonomi warga.

Profilnya tidak perlu dipanjangkan seperti daftar riwayat hidup calon pejabat. Yang menarik justru pertanyaan setelah ia berada di kursi kekuasaan: bagaimana pengalaman birokrasi diterjemahkan ketika berhadapan dengan persoalan nyata?

Kabupaten Tangerang terus bergerak. Pembangunan infrastruktur, perbaikan jalan, dan berbagai program pemerintah menjadi bagian dari upaya meningkatkan pelayanan. Namun, pembangunan tidak selalu berhenti pada seremoni peresmian. Ada dampak yang harus dihitung, termasuk yang muncul setelah proyek dinyatakan selesai.

Foto Dokumen: Banjir di Perumahan Mustika Tigaraksa, Kabupaten Tangerang. Foto diambil pada 11 Januari 2013 | Widi Hatmoko

Betonisasi dan Ujian Kebijakan

Betonisasi jalan adalah kabar baik bagi warga yang ingin melintas tanpa berjibaku dengan lubang. Namun, pembangunan jalan juga membutuhkan perhitungan elevasi, drainase, dan hubungan dengan permukiman di sekitarnya. Jalan yang lebih tinggi sementara halaman rumah menjadi lebih rendah dapat mengubah aliran air. Tidak otomatis setiap proyek betonisasi menyebabkan banjir, tetapi risiko tersebut layak diperiksa melalui kajian teknis dan pengawasan lapangan.

Di sejumlah wilayah, persoalan banjir masih menjadi pekerjaan rumah. Pada Januari 2026, Pemkab Tangerang menangani banjir di berbagai lokasi, termasuk Jayanti dan Rajeg. Pemerintah juga merencanakan normalisasi saluran, pembangunan pompa, dan peningkatan infrastruktur pengendali air. Pada April, penataan Sungai Cirarab di kawasan Pasar Kemis dan Sepatan turut menjadi agenda penanganan banjir.

Ada pula kabar positif dari upaya pelayanan dan penataan kawasan. Namun, setiap capaian perlu diuji melalui dampaknya terhadap kehidupan warga, bukan hanya melalui jumlah program yang diumumkan.

Maesyal Rasyid tidak bisa bekerja sendirian. Banjir melibatkan persoalan lintas kewenangan, tata ruang, sungai, drainase, dan perubahan lingkungan. Karena itu, keberhasilan pemerintahan bukan sekadar seberapa banyak proyek dibangun, melainkan apakah proyek tersebut menyelesaikan masalah tanpa memindahkannya ke halaman tetangga.

Lalu, dengan pengalaman panjang sebagai birokrat dan mandat politik sebagai bupati, apakah Moch. Maesyal Rasyid mampu membawa Kabupaten Tangerang—dengan segala dinamika pembangunan, banjir, dan persoalan warganya—menjadi lebih baik, atau justru meninggalkan pekerjaan rumah baru di balik beton yang tampak rapi? (*


Oleh: Jejak Kata

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *