Esai

Seni Rupa Kota Tangerang: Senimannya Kreatif, Galerinya Masih Dicari

×

Seni Rupa Kota Tangerang: Senimannya Kreatif, Galerinya Masih Dicari

Sebarkan artikel ini
ILUSTRASI | Gambar Amir Sarifudin

ESAI — Tangerang sedang berada di persimpangan penting. Seni rupanya dituntut bergerak dari cara-cara lama menuju dunia seni yang lebih terbuka dan berani bereksperimen. Masalahnya, jalan menuju perubahan itu kadang lebih ramai oleh pidato tentang kemajuan ketimbang fasilitas untuk mewujudkannya. Kota boleh tumbuh dengan gedung tinggi, jalan lebar, dan pusat perdagangan, tetapi seni rupa tak bisa berkembang hanya dengan menumpang di sela-sela acara seremonial.

Seni Rupa Tangerang Hari Ini: Ramai Berkarya, Sepi Ruang

Di Kota Tangerang, kehidupan seni rupa memperlihatkan dua wajah yang bertolak belakang. Di satu sisi, para seniman, praktisi, dan pendidik seni terus berkarya dengan semangat yang tak gampang padam. Mereka menghidupkan ruang publik dan kegiatan pendidikan melalui lukisan abstrak, figuratif, kaligrafi, hingga karya digital. Kreativitas mereka seolah tak mengenal jam operasional, meski tempat untuk memamerkan karya terkadang lebih sulit ditemukan daripada inspirasi untuk membuatnya. Di sisi lain, kota ini masih kekurangan galeri seni yang layak dan dikelola secara berkelanjutan. Hubungan antara seniman dan pemerintah daerah pun belum berjalan sebagaimana mestinya. Senimannya sudah berlari, sementara ekosistem pendukungnya masih sibuk mencari sepatu.

Akibatnya, kegiatan seni rupa kerap berlangsung sesekali, bergantung pada kesempatan dan semangat komunitas. Pameran bisa terlaksana berkat gotong royong, patungan, dan tenaga sukarela, tetapi kelanjutannya belum tentu terjamin setelah spanduk diturunkan. Acara besar pun sering bertumpu pada inisiatif seniman sendiri. Kreativitas akhirnya seperti tamu undangan: datang ketika ada acara, lalu pulang ketika panggung dibongkar. Padahal, seni rupa punya peluang untuk menggerakkan ekonomi kreatif sekaligus memperkuat identitas budaya kota. Sayangnya, potensi itu belum digarap dengan sungguh-sungguh dan masih sering dibiarkan hidup dari satu acara ke acara berikutnya.

Sosiolog Prancis Pierre Bourdieu pernah menjelaskan bahwa dunia seni bukan hanya soal siapa yang paling berbakat, tetapi juga soal siapa yang memiliki kesempatan, jaringan, dan pengakuan. Gagasan ini terasa relevan untuk membaca keadaan seni rupa Tangerang. Para seniman lokal memiliki pengalaman, keterampilan, dan karya yang layak diperhitungkan. Namun, mereka kerap kekurangan dukungan berupa ruang pamer, jaringan kelembagaan, kebijakan yang berpihak, dan akses ke pasar seni. Mereka punya karya untuk dibicarakan, tetapi belum tentu punya tempat untuk membicarakannya. Dalam dunia seni rupa nasional, bakat saja tidak selalu cukup. Kadang-kadang, yang lebih dahulu sampai bukan yang paling hebat berkarya, melainkan yang lebih dulu mendapat panggung.

Lalu, apa yang mesti dilakukan? Pemerintah, seniman, kalangan pendidikan, dan masyarakat perlu duduk bersama, bukan hanya bertemu ketika ada undangan pembukaan pameran. Masing-masing punya peran: seniman menghadirkan karya dan gagasan, pemerintah membuka jalan melalui kebijakan dan fasilitas, sedangkan masyarakat menjadi bagian dari kehidupan seni itu sendiri. Seni rupa bukan urusan sekelompok orang yang dianggap paling mengerti keindahan. Ia juga bukan pekerjaan rumah seniman yang harus diselesaikan dengan modal sendiri. Tanpa dukungan kebijakan dan keterlibatan publik, semangat berkesenian bisa terus menyala, tetapi berjalan di tempat.

1. Pemerintah Jangan Cuma Mengundang Seniman untuk Mengisi Acara

Pemerintah daerah perlu berhenti memperlakukan seni sebagai pemanis seremoni, pelengkap panggung, atau hiasan kosmetik kota. Seni rupa bukan karangan bunga yang dipajang ketika pejabat datang, lalu disingkirkan setelah acara selesai. Para seniman dan peneliti seni semestinya dilibatkan sejak awal dalam menyusun program kebudayaan, bukan sekadar diundang untuk mengisi acara yang konsepnya sudah selesai dibuat. Pemerintah juga perlu memetakan potensi seni rupa sebagai bahan pertimbangan dalam menata ruang kota, mengembangkan kegiatan budaya, dan merancang pariwisata. Dengan begitu, kebijakan seni tidak berhenti sebagai kalimat indah dalam dokumen resmi yang lebih sering beristirahat di lemari arsip daripada bekerja di tengah masyarakat.

2. Kalau Belum Punya Galeri, Jangan Kehabisan Akal

Keterbatasan galeri formal bukan alasan untuk menyerah kepada keadaan, apalagi menjadikan seni rupa sebagai penghuni tetap ruang tunggu. Taman kota, kawasan pasar yang strategis, dan ruang publik lain bisa dimanfaatkan sebagai tempat pameran alternatif, tentu dengan memperhatikan keamanan, kenyamanan, serta fungsi ruang tersebut. Bayangkan warga yang datang ke taman untuk berjalan-jalan, lalu berhenti karena melihat lukisan yang menarik perhatian. Atau pengunjung pasar yang awalnya hanya berniat membeli kebutuhan dapur, tetapi pulang membawa bahan percakapan tentang seni. Di situlah seni bisa hadir lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari tanpa membuat orang merasa harus membeli tiket atau mengenakan pakaian khusus untuk memasuki galeri. Ruang publik juga bisa menjadi tempat belajar sekaligus tujuan wisata yang menarik. Sebab, seni tak harus selalu menunggu gedung megah untuk mulai berbicara.

3. Manfaatkan Teknologi, Ajak Anak Muda Mengenal Seni

Di zaman serba digital, karya seni tak seharusnya berhenti di dinding ruang pamer. Komunitas seni di Tangerang bisa memanfaatkan media sosial, platform digital, dan kecerdasan buatan untuk bereksperimen, mendokumentasikan perjalanan seni kota, serta memperkenalkan karya kepada khalayak yang lebih luas. Teknologi bukan sekadar istilah keren untuk mempercantik proposal kegiatan. Ia harus benar-benar membantu seniman bekerja, menyimpan jejak karya, dan menjangkau orang-orang yang sebelumnya sulit ditemui. Meski begitu, kecanggihan teknologi tetap perlu diimbangi dengan pemahaman dan sikap kritis agar seniman tidak sekadar mengikuti tren. Pendidikan seni di sekolah pun perlu diperkuat, termasuk dengan menghubungkan kegiatan berkarya dengan lingkungan dan budaya setempat. Semangat Adiwiyata, misalnya, bisa menjadi inspirasi untuk mengajak siswa membuat karya dari bahan yang ramah lingkungan. Anak-anak sebaiknya mengenal seni bukan hanya ketika ada lomba menggambar atau peringatan hari besar. Apresiasi terhadap seni tumbuh melalui proses, kesempatan bereksperimen, dan kebebasan bertanya. Kreativitas tidak bisa dipesan mendadak seperti dekorasi panggung menjelang acara.

Kota Tangerang memiliki modal berharga: orang-orang yang mau berkarya, berpikir, dan menjaga kehidupan seni tetap bergerak. Masa depan seni rupa di kota ini bukan semata-mata ditentukan oleh seberapa megah gedung yang berhasil dibangun, melainkan oleh kesungguhan untuk merawat dialog, mempertemukan seniman dengan pemerintah, membuka ruang bagi masyarakat, dan memanfaatkan teknologi. Gedung memang penting, tetapi gedung tanpa program hanya akan menjadi bangunan yang rajin berdiri tanpa banyak bercerita. Sebaliknya, ruang sederhana yang dikelola dengan serius bisa menjadi tempat tumbuhnya gagasan dan pertemuan lintas generasi. Seni rupa Tangerang perlu bergerak melampaui urusan membuat karya untuk dipajang, menuju peran yang lebih besar dalam membangun kehidupan kota yang manusiawi dan berkarakter. Jangan sampai kota terus sibuk membangun wajahnya, sementara keseniannya masih berkeliling mencari tempat untuk bercermin. (*


Oleh: Amir Sarifudin
Pegiat Seni

Tinggalkan Balasan