HeadlineSoft News

Bisnis Pusat Data dan AI Jadi Rebutan Dunia, Indonesia Mengincar Triliunan Rupiah

×

Bisnis Pusat Data dan AI Jadi Rebutan Dunia, Indonesia Mengincar Triliunan Rupiah

Sebarkan artikel ini
ILUSTRASI

BISNIS — Ada bisnis yang tidak menjual barang di etalase, tidak membutuhkan toko di pinggir jalan, tetapi mulai diperebutkan investor dari berbagai negara. Namanya pusat data atau data center. Di balik gedung yang dipenuhi server itu, ada industri kecerdasan buatan (AI), komputasi awan, perdagangan digital, hingga layanan keuangan yang membutuhkan ruang penyimpanan dan pengolahan data dalam skala besar.

Bisnis ini sedang mengalami perlombaan investasi global. Perusahaan teknologi membutuhkan infrastruktur untuk menjalankan model AI yang semakin kompleks. Kebutuhan tersebut membuat pusat data berubah dari fasilitas pendukung teknologi menjadi salah satu ladang investasi paling strategis.

PwC dalam laporan Global Data Centre Outlook yang dirilis September 2026 memperkirakan investasi infrastruktur AI dunia mencapai US$31,6 triliun hingga 2050. Belanja modal tahunan pusat data diproyeksikan meningkat dari sekitar US$800 miliar pada 2026 menjadi US$1,8 triliun pada 2050.

Angka itu memang proyeksi jangka panjang, bukan uang yang sudah masuk ke pasar. Namun, besarnya perkiraan tersebut memperlihatkan arah baru persaingan bisnis internasional. Bukan hanya siapa yang menguasai teknologi AI, tetapi juga siapa yang memiliki listrik, jaringan, dan infrastruktur untuk menjalankannya.

Indonesia mulai masuk dalam peta persaingan tersebut. Pemerintah menyebut nilai ekonomi digital nasional mendekati US$100 miliar pada 2025, tumbuh 14 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Nilai ini menjadikan Indonesia pasar ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto juga mengungkapkan kapasitas pusat data yang telah beroperasi mencapai 600-700 megawatt. Sementara proyek dalam pipeline mencapai 1,3 gigawatt dengan perkiraan investasi US$15-20 miliar.

Potensi tersebut membuat bisnis pusat data menarik bagi investor, pengembang properti industri, perusahaan telekomunikasi, penyedia energi, hingga kontraktor infrastruktur. Efek ekonominya bisa menjalar ke berbagai sektor, termasuk tenaga kerja teknologi dan jasa keamanan siber.

Tetapi ada persoalan yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan menawarkan lahan murah dan insentif investasi: listrik dan air.

Pusat data membutuhkan pasokan listrik stabil selama 24 jam. Gangguan pasokan bukan sekadar membuat lampu padam, melainkan berpotensi mengganggu layanan digital perusahaan dan jutaan pengguna. Kebutuhan pendinginan server juga membuat pengelolaan air dan energi menjadi persoalan penting.

Kementerian ESDM bahkan telah mendorong Indonesia menjadi tujuan investasi pusat data dengan memanfaatkan potensi energi nasional. Namun, potensi pembangkit tidak otomatis berarti seluruh kebutuhan listrik industri dapat dipenuhi secara langsung.

Ada pula pertanyaan tentang manfaat ekonomi bagi masyarakat. Investasi bernilai miliaran dolar belum tentu otomatis menciptakan lapangan kerja sebanyak industri padat karya. Pemerintah perlu memastikan transfer teknologi, keterlibatan perusahaan lokal, peningkatan keterampilan pekerja, serta kontribusi pajak yang sepadan.

Di sinilah peluang bisnis Indonesia sekaligus tantangannya. Jangan sampai negeri ini hanya menyediakan tanah, listrik, dan air, sementara teknologi, keuntungan terbesar, dan kendali industrinya berada di tangan perusahaan asing.

Perlombaan AI memang menjanjikan keuntungan besar. Tetapi menjadi tuan rumah investasi tidak cukup hanya dengan membangun gedung server.

Indonesia perlu memastikan bahwa yang tumbuh bukan cuma pusat datanya, melainkan juga kemampuan industri nasional untuk menguasai teknologi di dalamnya. (*

Tinggalkan Balasan