EDUKASI – Sampah kerap menjadi urusan yang tidak menyenangkan. Setelah dibuang dari rumah, pasar, atau restoran, persoalannya berpindah ke tempat penampungan. Biaya pengangkutan, pemilahan, hingga pengolahan terus berjalan. Namun, CitraRaya Tangerang mencoba membalik cara pandang tersebut: sampah bukan semata beban operasional, melainkan bahan baku yang bisa menghasilkan nilai ekonomi.
Gagasan itu diwujudkan oleh Tim EcoCatalyst yang mengembangkan inovasi pengolahan sampah organik dengan menggabungkan tiga metode, yakni eco enzyme, budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF), dan pengomposan atau composting.
Ketua Tim EcoCatalyst CitraRaya, Yohanes Andika Fajar, menjelaskan bahwa tim ini adalah bagian dari manajemen CitraRaya. Inovasi yang dihadirkan, lahir dari persoalan yang ikut membesar seiring perkembangan kawasan.
Menurut Fajar, pertumbuhan proyek dan bertambahnya populasi penduduk CitraRaya berbanding lurus dengan peningkatan timbulan sampah. Jumlah sampah organik yang belum dikelola secara optimal mencapai sekitar 11 ton atau setara 56 meter kubik setiap hari.
Sumbernya beragam. Sampah buah dan sayuran berasal dari rumah tangga, pasar segar, serta kawasan komersial. Sisa makanan dikumpulkan dari tenant restoran, sedangkan sampah organik berupa dedaunan dan ranting berasal dari kegiatan pemeliharaan taman.
Di tengah persoalan tersebut, EcoCatalyst menawarkan pendekatan berbeda. Alih-alih membiarkan sampah berakhir sebagai residu, material organik dipilah berdasarkan karakteristiknya untuk diolah menjadi produk yang memiliki nilai guna.

“Metode pertama adalah eco enzyme. Sampah buah dan sayuran segar dicampurkan dengan air dan molase menggunakan perbandingan 10:1:3. Campuran tersebut kemudian difermentasi selama tiga bulan. Cairan yang dihasilkan dimanfaatkan untuk membantu pengolahan timbunan sampah dan berbagai kebutuhan lingkungan,” ujar Yohanes Andika Fajar dalam kegiatan Eco Walk Car Free Day untuk memperingati HUT ke-32 CitraRaya di kawasan Eco Plaza, Minggu, 1 November 2026.
Metode kedua, lanjut Fajar, memanfaatkan larva Black Soldier Fly atau maggot BSF. Sisa makanan dari kawasan hunian dan restoran terlebih dahulu dipilah, kemudian diberikan kepada larva maggot muda (baby maggot) yang ditempatkan di 32 biopon. Maggot mampu mengolah sekitar 10–20 kilogram sampah per hari sesuai kapasitas pengolahan yang diterapkan.
Hasilnya bukan hanya maggot yang dapat dipanen dan dijual kepada peternak, tetapi juga residu pengolahannya berupa kasgot. Material ini dimanfaatkan sebagai pupuk untuk memperbaiki media tanam yang kemudian digunakan kembali oleh tim pemeliharaan lanskap.
Adapun sampah taman diolah melalui metode pengomposan. Daun dan ranting dicacah, dicampur dengan bakteri dekomposer M4, kemudian menjalani proses pengomposan selama sekitar dua bulan. Kompos yang dihasilkan digunakan untuk kebutuhan pembibitan (nursery) dan pemeliharaan lanskap kawasan.
Tiga metode tersebut memperlihatkan bahwa sampah organik memiliki peluang ekonomi jika dikelola dengan sistem yang tepat. Berdasarkan perhitungan potensi program, EcoCatalyst diperkirakan dapat menghasilkan nilai ekonomi sekitar Rp40 juta per bulan. Angka tersebut merupakan potensi nilai ekonomi dari ketiga metode pengolahan, bukan semata-mata pendapatan penjualan.
Pengelolaan juga dilengkapi standar operasional prosedur (SOP) dan formulir daftar periksa (checklist) untuk memantau setiap tahapan pekerjaan. Sementara itu, pengujian laboratorium ICBB IPB menunjukkan bahwa kandungan organik dan unsur hara pada pupuk kasgot serta kompos telah memenuhi persyaratan pupuk organik padat.
Eco enzyme juga memiliki potensi pemanfaatan untuk membantu mengurangi bau, menurunkan kadar gas metana dan hidrogen sulfida, serta digunakan sebagai disinfektan alami dan biostimulan dalam konteks lingkungan.
Dalam kegiatan tersebut, Tim EcoCatalyst CitraRaya juga membagikan kompos hasil inovasi pengolahan sampah organik kepada warga yang menghadiri Eco Walk Car Free Day.
Melalui EcoCatalyst, CitraRaya mengintegrasikan pengelolaan sampah dengan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG). Pesannya sederhana: persoalan sampah tidak cukup diselesaikan dengan mengangkut dan membuangnya. Ada pekerjaan yang lebih penting, yakni mengubah pola konsumsi, memilah sampah sejak dari sumbernya, dan mengolah kembali material yang masih memiliki manfaat.
Sebab, dalam ekonomi sirkular, sesuatu yang dianggap tidak berguna hari ini bisa menjadi bahan baku bernilai esok hari. Sampah pun tak harus selalu berakhir sebagai biaya.
Untuk ketahui, pada ajang Innovation Award 2026 tingkat Subholding 1 Grup Ciputra, Tim EcoCatalyst CitraRaya juga berhasil meraih juara pertama. (*






