Jejak KataSoft News

Menunggu Ikan, Menguji Nyali dan Cerita Mistis di Situ Gawir Legok

×

Menunggu Ikan, Menguji Nyali dan Cerita Mistis di Situ Gawir Legok

Sebarkan artikel ini
Sedang asik memancing di Situ Gawir Lekok, Kabupaten Tangerang

JEJAK KATA, Tangerang – Di dunia pemancing, waktu berjalan dengan cara yang berbeda. Satu jam bisa terasa lima menit ketika pelampung mulai bergoyang. Sebaliknya, lima menit terasa sejam ketika ikan memilih mogok makan.

Begitulah suasana di Situ Gawir, Legok, Kabupaten Tangerang. Danau yang tenang ini seolah mengajarkan satu pelajaran sederhana: kesabaran masih lebih ampuh daripada umpan paling mahal.

Pagi hari, permukaan air terlihat nyaris tanpa riak. Sesekali hanya pecah oleh sambaran ikan yang entah sengaja atau sekadar mengejek para pemancing di tepian. Angin berembus pelan, burung-burung bersahutan, sementara deretan pohon yang mengelilingi danau membuat suasananya jauh dari kesan Tangerang yang identik dengan beton, pabrik, dan kemacetan.

Namun, jangan buru-buru berangkat dengan mobil keluarga sambil membayangkan piknik yang santai. Akses menuju Situ Gawir bukan jalan yang ramah bagi pengemudi yang baru belajar menginjak pedal gas. Jalannya sempit, menurun, dan cukup terjal. Di beberapa titik, pengunjung harus ekstra hati-hati karena sedikit lengah bisa berujung petaka.

Mungkin itu sebabnya, tempat ini lebih banyak didatangi mereka yang memang berniat memancing, bukan sekadar berburu swafoto.

Dadang sudah hafal betul tabiat penghuni danau ini. Sebagai warga Legok yang rutin memancing di Situ Gawir, ia tahu kapan ikan sedang murah hati.

“Kalau mau mancing di sini, datangnya sore. Sekitar jam tiga sampai jam enam. Kalau kepagian, ikannya kayak masih ngopi, belum mau makan,” ujarnya sambil terkekeh.

Menurut Dadang, penghuni tetap Situ Gawir didominasi tiga “jawara”: toman, nila, dan gabus.

Toman memang primadona. Tarikannya kuat, perlawanannya membuat jantung berdegup lebih cepat, dan ukurannya bisa membuat pemancing lupa kalau sejak pagi ia belum sempat makan.

Namun, Situ Gawir bukan hanya menyimpan ikan. Danau ini juga menyimpan cerita. Hamzah, warga yang tinggal tak jauh dari lokasi, memilih mengingatkan pengunjung pada hal yang lebih penting daripada hasil tangkapan.

“Sudah beberapa kali ada anak kecil meninggal karena bermain terlalu dekat danau. Kendaraan juga pernah jatuh karena jalannya memang curam,” katanya.

Kalimat itu menjadi pengingat bahwa alam selalu punya dua wajah. Di satu sisi ia menawarkan ketenangan, di sisi lain ia menuntut kehati-hatian.

Di Legok, Situ Gawir juga akrab dengan kisah-kisah mistis. Cerita tentang tempat yang dianggap angker membuat sejumlah kreator konten uji nyali datang bergantian. Hamzah tidak membantah cerita itu, tetapi ia memilih memberi nasihat yang lebih sederhana.

“Hati-hati saja. Jaga sopan santun, jangan sembarangan,” ujarnya.

Terlepas dari benar atau tidaknya cerita yang beredar, pesan itu sesungguhnya sangat membumi. Menghormati alam dan menjaga perilaku bukan hanya soal kepercayaan, tetapi juga bentuk penghargaan terhadap ruang hidup bersama.

Tak jauh dari sana, Anton dan Mira masih setia menunggu pelampung mereka bergerak. Sejak pagi, hasil tangkapan belum terlalu memuaskan.

“Dapat nila dua ekor, sekitar satu sampai dua kilogram. Sisanya anak-anak toman. Lagi enggak hoki. Dulu pernah dapat toman enam kilogram. Umpannya pakai belut sama cacing,” kata Anton.

Begitulah memancing. Tidak ada yang bisa dijanjikan, selain harapan. Mungkin justru di situlah daya tarik Situ Gawir. Orang datang bukan semata mengejar ikan. Mereka mencari sesuatu yang semakin mahal di zaman serba cepat: waktu untuk diam, duduk, dan menunggu.

Karena di tempat ini, yang paling sering pulang dengan tangan kosong bukanlah pemancing. Melainkan mereka yang datang terburu-buru, berharap alam bekerja secepat layanan pesan-antar. (*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *