JEJAK KATA, Kota Tangerang – Sungai tidak pernah pandai menyimpan rahasia. Apa pun yang dilempar manusia, ia akan bawa ke hilir. Plastik, popok, botol bekas, sampai janji-janji yang hanya ramai saat ada panggung dan kamera.
Minggu 12 Jui 2026, Kali Sabi di Kecamatan Cibodas mendadak menjadi pusat perhatian. Warga berdatangan sejak pagi. Ada yang menanam pohon, memungut sampah, menebar ribuan bibit lele, mengikuti senam sehat, hingga berburu kuliner di deretan stan UMKM. Festival Kali Sabi 2026 berlangsung meriah, terlebih dengan hadirnya Menteri Lingkungan Hidup, Jumhur Hidayat, bersama Wali Kota Tangerang, H. Sachrudin.
Di hadapan warga, Sachrudin mengajak masyarakat menjadikan festival itu lebih dari sekadar agenda seremonial.
“Saya mengajak seluruh masyarakat menjadikan Festival Kali Sabi sebagai momentum untuk memperkuat budaya hidup bersih dan peduli lingkungan. Mari kita mulai dari langkah-langkah sederhana, seperti memilah sampah, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, serta tidak membuang sampah ke sungai dan saluran air,” ujarnya.
Kalimat itu terdengar sederhana. Bahkan mungkin terlalu sering didengar. Tetapi memang, menyelamatkan lingkungan tidak pernah dimulai dari pekerjaan yang rumit. Ia lahir dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang justru paling sering diabaikan.
Sachrudin juga mengingatkan bahwa pemerintah tak mungkin bekerja sendirian. Sungai tidak mengenal batas administrasi, begitu pula sampah. Apa yang dibuang satu orang, dampaknya bisa dirasakan ribuan orang.
Wali kota itu kemudian memberikan apresiasi kepada Banksasuci Foundation yang menginisiasi Festival Kali Sabi. Menurutnya, gerakan lingkungan akan lebih kuat bila mampu menghidupkan ekonomi masyarakat melalui pelibatan pelaku UMKM.
“Inilah bentuk kolaborasi yang perlu terus kita perkuat,” katanya.
Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat membawa pesan yang lebih reflektif. Menurutnya, persoalan lingkungan pada akhirnya bermuara pada kesadaran.
“Yang paling utama pada akhirnya adalah kesadaran masyarakat. Agustus nanti kami mengajak seluruh masyarakat mengikuti Tobat Nasional Ekologis. Selama ini kita telah melakukan kesalahan secara kolektif terhadap lingkungan yang menjadi sumber kehidupan. Mari kita hentikan kebiasaan yang merusak lingkungan dan mulai memperbaikinya bersama,” ujarnya.
“Tobat Nasional Ekologis” mungkin terdengar seperti istilah yang puitis. Namun maknanya justru sangat membumi. Alam selama ini terlalu sering diperlakukan sebagai tempat mengambil, sekaligus tempat membuang.
Festival Kali Sabi mengusung tema Bersih Kalinya, Sehat Warganya. Tema yang sederhana, tetapi sesungguhnya menyimpan pekerjaan besar. Sebab membersihkan sungai jauh lebih mudah daripada menghentikan kebiasaan mengotorinya.
Di sinilah ironi itu muncul. Setiap tahun kita semakin piawai menggelar festival lingkungan. Spanduk dicetak lebih bagus, panggung berdiri lebih megah, foto udara semakin indah, dan unggahan media sosial semakin ramai. Namun di saat yang sama, sampah tetap bertambah setiap hari, sungai masih menjadi muara limbah rumah tangga, dan tempat pembuangan akhir semakin bekerja di luar batas kemampuannya.
Tangerang adalah kota yang sedang berlari. Jalan-jalan baru dibuka, kawasan hunian terus tumbuh, industri berkembang, dan pusat-pusat ekonomi bermunculan. Pembangunan memang menjadi wajah kemajuan. Tetapi setiap meter beton yang dibangun selalu menghadirkan konsekuensi: lebih banyak manusia, lebih banyak konsumsi, dan pada akhirnya lebih banyak sampah.
Karena itu, tantangan terbesar Kota Tangerang bukan sekadar membangun kota yang modern, melainkan membangun budaya yang modern dalam memperlakukan lingkungan. Sebab kota yang maju bukan hanya diukur dari gedung yang menjulang, tetapi juga dari sungai yang tetap mengalir jernih dan pengelolaan sampah yang tidak tertinggal oleh laju pembangunannya.
Festival lingkungan akan selalu penting. Ia mampu membangunkan kesadaran, mempertemukan komunitas, dan mengingatkan publik bahwa alam sedang membutuhkan pertolongan. Namun kesadaran tidak boleh berhenti ketika panggung dibongkar dan tamu kehormatan pulang.
Sebab sungai tidak membutuhkan seremoni setiap akhir pekan. Yang ia butuhkan jauh lebih sederhana: warga yang berhenti membuang sampah sembarangan, pemerintah yang konsisten menegakkan aturan, dunia usaha yang bertanggung jawab atas limbahnya, dan pembangunan yang tidak lupa menyisakan ruang bagi alam untuk bernapas.
Kalau itu bisa dilakukan, Festival Kali Sabi bukan sekadar menjadi agenda tahunan. Ia akan dikenang sebagai titik ketika Kota Tangerang mulai berdamai dengan lingkungannya. Jika tidak, sungai akan tetap mengalir. Bedanya, ia terus membawa sampah kita—dan diam-diam juga membawa pulang kegagalan kita menjaga kota yang sedang tumbuh ini. (*






