Jejak Kata

Indahnya Panorama Telaga Biru Cigaru: Antara Misteri dan Logika

×

Indahnya Panorama Telaga Biru Cigaru: Antara Misteri dan Logika

Sebarkan artikel ini
Salah satu sudut di Telaga Biru Cigaru, Kecamatan Cisoka, Kabupaten Tangerang

JEJAK KATA, Tangerang – Mengulas tentang Telaga Biru Cigaru, Kecamatan Cisoka, Kabupaten Tangerang, selalu ada yang menarik. Tempat ini mengajarkan satu hal sederhana: manusia selalu ingin menjelaskan keajaiban. Sebagian menjawabnya dengan legenda. Sebagian lagi dengan rumus kimia.

Dari kejauhan, Telaga Biru Cigaru tampak seperti sepotong langit yang jatuh ke bumi. Airnya bergradasi hijau toska, biru muda, hingga biru tua. Sulit dipercaya bahwa panorama seindah itu lahir dari luka lama—bekas tambang pasir yang dikeruk antara 2006 hingga 2012.

Ketika aktivitas tambang berhenti, cekungan-cekungan besar itu perlahan dipenuhi air hujan. Alam, yang sering kali lebih sabar daripada manusia, mulai mengerjakan tugasnya sendiri. Perlahan, bekas luka berubah menjadi lanskap yang memancing rasa ingin tahu.

Lalu lahirlah cerita. Warga sekitar meyakini telaga itu bukan sekadar genangan air. Ada yang percaya bidadari pernah turun dari kayangan untuk mandi di sana sehingga airnya berubah menjadi begitu indah. Ada pula kisah tentang tiga telaga yang masing-masing dijaga makhluk gaib.

Telaga Biru Cigaru, Kecamatan Cisoka, Kabupaten Tangerang

Telaga pertama yang berwarna hijau lumut dipercaya dijaga sosok yang disebut Kanjeng Ratu. Telaga kedua yang berwarna biru dikaitkan dengan pengikut Dewi Kwan Im. Sementara telaga ketiga yang memantulkan warna biru dan hijau toska diyakini menjadi tempat bersemayam Naga Kembar.

Cerita itu telah hidup sejak bekas galian pasir ini viral dan beredar di masyarakat, lalu ditularkan ke setiap orang yang kepo dengan tempat tersebut.

Penjaga Telaga Biru Cigaru yang telah lebih dari dua dekade berada di kawasan tersebut, mengatakan kisah-kisah itu bukan hal asing bagi masyarakat sekitar. Ia mengaku beberapa para normal pernah datang melakukan ritual, tetapi menurut cerita yang berkembang, mereka tidak mampu menandingi “energi” yang dipercaya menjaga kawasan telaga.

Karena keyakinan itulah, pengunjung diimbau tidak turun atau berenang di telaga. Selain alasan keselamatan, masyarakat juga menghormati berbagai kepercayaan yang telah lama hidup di tempat itu.

Di salah satu sudut kawasan bahkan tersedia tempat bagi mereka yang ingin berdoa atau menjalankan ritual sesuai keyakinannya. Sebagian orang juga percaya air telaga memiliki khasiat tertentu, meski hingga kini belum ada penelitian ilmiah yang membuktikan manfaat medis tersebut.

Namun, jika legenda bertanya siapa yang membuat air telaga menjadi biru, ilmu pengetahuan memberikan jawaban yang berbeda.

Menurut kajian geologi dan limnologi, warna biru atau hijau toska pada danau bekas tambang merupakan fenomena alam yang cukup dikenal. Air hujan yang mengisi cekungan tambang membawa serta mineral dari lapisan pasir dan batuan di sekitarnya. Kandungan mineral, ukuran partikel halus yang tersuspensi, kedalaman air, serta tingkat keasaman (pH) kemudian memengaruhi cara cahaya matahari dipantulkan.

Spektrum cahaya berwarna merah lebih banyak diserap oleh air, sedangkan cahaya biru dipantulkan kembali ke mata manusia. Itulah sebabnya telaga tampak berwarna biru.

Pada bagian yang lebih dangkal atau memiliki endapan mineral tertentu, pantulan cahaya dapat berubah menjadi hijau toska. Jika dasar telaga dipenuhi lumut atau vegetasi air, warnanya bisa bergeser menjadi hijau lumut.

Dengan kata lain, warna air bukan berasal dari cat alam, melainkan hasil “percakapan” antara cahaya, mineral, kedalaman air, dan dasar telaga.

Ironisnya, justru karena berasal dari bekas tambang, Telaga Biru Cigaru menjadi laboratorium alam yang menarik. Para ahli melihatnya sebagai proses geologi yang terus berlangsung. Para fotografer melihatnya sebagai lanskap yang memanjakan kamera. Anak-anak melihatnya sebagai danau yang indah. Sementara masyarakat setempat melihatnya sebagai ruang yang harus dihormati.

Barangkali di situlah letak pesona Telaga Biru Cigaru.

Ilmu pengetahuan menjelaskan bagaimana warna itu muncul. Cerita rakyat menjelaskan mengapa manusia begitu mencintainya.

Dan mungkin, keduanya tidak perlu dipertentangkan. Sebab alam selalu menyediakan fakta untuk dipelajari, sementara kebudayaan menyediakan imajinasi agar manusia tidak berhenti merasa takjub.

Di Cigaru, bekas lubang tambang akhirnya tidak hanya menyimpan air. Ia juga menyimpan pelajaran bahwa bahkan dari luka yang ditinggalkan manusia, alam masih mampu menciptakan keindahan yang membuat orang datang, berhenti sejenak, lalu bertanya, “Mengapa airnya bisa sebiru ini?” (*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *