Liputan

Penting untuk Disimak: Ada Kabar Baik dari Langit Jakarta

×

Penting untuk Disimak: Ada Kabar Baik dari Langit Jakarta

Sebarkan artikel ini
ILUSTRASI

JEJAK KATA, Jakarta – Jakarta akhirnya mendapat kabar baik dari langit. Bukan soal berkurangnya kemacetan atau menurunnya harga kebutuhan pokok, melainkan sesuatu yang belakangan terasa mewah bagi ibu kota: cuaca yang bersahabat.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan Senin akan dibuka dengan langit cerah hingga cerah berawan di sebagian besar wilayah Jakarta. Sebuah kabar yang mungkin disambut gembira oleh para pengendara sepeda motor, pedagang kaki lima, pekerja proyek, hingga mereka yang setiap pagi menggantungkan harapan pada langit sebelum berangkat bekerja.

Sejak pukul 07.00 WIB, Jakarta Barat, Jakarta Pusat, Jakarta Selatan, dan Jakarta Timur diperkirakan menikmati cuaca cerah. Jakarta Utara sedikit lebih teduh dengan langit cerah berawan, sedangkan Kepulauan Seribu masih diselimuti awan tebal.

Menjelang pukul 10.00 WIB, hampir seluruh Jakarta diprakirakan tetap cerah. Seolah-olah langit sedang memberi kesempatan kepada warga ibu kota untuk mengawali hari tanpa kekhawatiran akan hujan yang datang tanpa undangan.

Namun, seperti banyak hal di Jakarta, perubahan selalu datang lebih cepat daripada janji politik. Memasuki pukul 13.00 WIB, seluruh wilayah diprediksi akan tertutup awan tebal. Langit mendung itu belum tentu berarti hujan, tetapi cukup mengingatkan bahwa cuaca, seperti suasana hati kota ini, bisa berubah hanya dalam hitungan jam.

Menjelang sore, matahari kembali menemukan celahnya. Jakarta Barat, Jakarta Pusat, dan Jakarta Utara diprakirakan kembali cerah, sementara wilayah lain cerah berawan. Saat malam tiba, langit kembali relatif bersahabat. Bahkan hingga pukul 22.00 WIB, Jakarta Timur masih diprediksi cerah, sedangkan wilayah lainnya cerah berawan.

Prakiraan ini memang terdengar sederhana. Tetapi bagi kota yang denyut ekonominya bergerak hampir tanpa jeda, informasi cuaca bukan sekadar urusan membawa payung atau mengenakan jas hujan. Ia menentukan jadwal nelayan di Kepulauan Seribu, ritme pekerja lapangan, pedagang kaki lima, kurir, hingga warga yang setiap hari bergulat dengan jalanan ibu kota.

Ironisnya, ketika langit sedang berusaha ramah, persoalan di darat tetap sibuk menguji kesabaran. Kemacetan masih setia datang pada jam yang sama. Polusi belum tentu ikut menghilang hanya karena matahari bersinar. Dan banjir, bila saluran air tetap tersumbat, tak selalu menunggu hujan deras untuk menjadi berita.

Barangkali itulah pelajaran paling sederhana dari prakiraan cuaca: manusia memang belum bisa mengatur langit. Namun memperbaiki bumi tempat berpijak seharusnya bukan pekerjaan yang lebih sulit daripada menebak warna awan.

Hari ini, setidaknya, Jakarta mendapat kesempatan menikmati langit yang lebih bersahabat. Tinggal pertanyaannya, apakah warganya—dan para pengelola kotanya—siap memanfaatkan cuaca baik itu untuk membuat ibu kota menjadi sedikit lebih baik? (*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *