ADA cara sederhana untuk menguji kerukunan sebuah kampung: jangan suruh warganya berpidato tentang persatuan. Suruh mereka bernyanyi bersama!
Di Kelurahan Mekar Bakti, Kecamatan Panongan, Kabupaten Tangerang, warga dari 16 RW melakukan itu. Menyambut HUT ke-81 Republik Indonesia, mereka mengikuti lomba paduan suara bertema kemerdekaan dan Mars Kabupaten Tangerang.
Kelihatannya cuma lomba. Tetapi paduan suara ternyata menyimpan pelajaran kebangsaan yang lumayan serius: semua boleh bersuara, tetapi tidak boleh merasa suaranya paling penting. Ini pelajaran yang agak mahal di negeri yang penghuninya gemar memegang mikrofon.
Negeri Para Vokalis
Indonesia sebenarnya bukan kekurangan suara. Kita justru kelebihan. Di media sosial, semua orang bisa menjadi ahli ekonomi, hukum, politik, pendidikan, bahkan sepak bola. Yang belum ahli tinggal menunggu beberapa komentar sebelum mendapat gelar profesor.
Satu pendapat dilempar, yang lain membalas. Datang pasukan pendukung, pasukan penyerang, dan mereka yang sebenarnya tidak tahu persoalan tetapi merasa sayang kalau tidak ikut berkomentar.
Perkara kecil pun bisa berubah menjadi perang saudara versi Wi-Fi.
Kita menyebutnya kebebasan berpendapat. Padahal kadang ia cuma kebebasan berbicara tanpa kewajiban mendengarkan. Paduan suara punya aturan lebih sehat.
Ada nada, tempo dan aba-aba. Suara tinggi tidak boleh menenggelamkan suara rendah. Yang merdu tidak boleh meremehkan yang belum merdu. Semua harus mendengar.
Sebab kalau semua ingin menjadi vokalis utama, yang lahir bukan harmoni. Melainkan kebisingan.
Persatuan yang Sering Hanya Ada di Spanduk
Kita juga bangsa yang sangat rajin mengucapkan persatuan. Ada di pidato. Ada di spanduk. Ada di baliho. Ada di caption media sosial. Sayangnya, persatuan kadang hanya hadir sebagai tulisan.
Kita mengaku Bhinneka Tunggal Ika, tetapi mudah curiga kepada yang berbeda. Kita bicara toleransi, tetapi sering hanya nyaman terhadap orang yang sepemikiran. Kita ingin Indonesia bersatu, tetapi kadang diam-diam ingin Indonesia versi kelompok sendiri.
Mekar Bakti memberi contoh yang lebih sederhana. Lurah Ucu Darsono tidak mengajak warganya mengikuti seminar kebhinekaan. Ia mengajak mereka bernyanyi.
Enam belas RW datang membawa suara, karakter dan kemampuan berbeda. Mereka berlatih untuk menghasilkan satu lagu. Di situlah kebhinekaan bekerja tanpa perlu banyak teori.
Orang belajar menunggu giliran. Mengikuti aba-aba. Mendengar suara tetangga. Mengoreksi kesalahan. Dan, yang paling sulit, mengakui bahwa suara sendiri kadang fals.
Dalam paduan suara, nada yang salah tinggal diperbaiki. Tidak perlu menyalahkan mikrofon. Tidak perlu konferensi pers. Tidak perlu mengatakan penonton yang salah dengar. Ulangi saja lagunya.
Barangkali kehidupan berbangsa juga akan lebih sehat jika kesalahan diperlakukan sesederhana itu.
Gotong Royong Tidak Harus Pakai Cangkul
Paduan suara juga mengajarkan bahwa gotong royong tidak selalu berbentuk kerja bakti, cangkul dan rompi seragam. Ia bisa berupa warga yang saling membantu berlatih. Yang lebih pandai membantu yang belum bisa. Yang suaranya kuat tidak menenggelamkan yang lemah. Sebab membangun wilayah bukan hanya membangun jalan, gedung, taman atau drainase.
Ada pembangunan yang tidak bisa difoto menggunakan drone. Kepercayaan. Kepedulian. Persaudaraan. Kesediaan menerima perbedaan. Semua itu tidak memiliki prasasti. Tidak bisa digunting pitanya. Tidak menghasilkan baliho besar. Tetapi tanpa itu, sebuah wilayah mungkin memiliki banyak bangunan dan sedikit kebersamaan.
Maka pertanyaan pembangunan semestinya bukan hanya: Apa yang sudah dibangun? Tetapi juga: Apa yang sudah dipersatukan?
Jangan Sampai Indonesia Fals
Dari Mekar Bakti kita belajar sesuatu yang sederhana: kebhinekaan tidak membutuhkan semua orang bernyanyi dengan nada sama. Yang diperlukan adalah kesediaan menyanyikan lagu yang sama. Ada sopran, alto, tenor dan bas. Ada suara tinggi, rendah, kuat dan lirih. Ada yang merdu, ada yang sesekali fals. Tidak masalah.
Yang berbahaya adalah ketika suara yang fals merasa dirinya paling benar lalu memaksa semua orang mengikuti nadanya.
Pada HUT ke-81 RI ini, mungkin kita tidak membutuhkan terlalu banyak pidato tentang persatuan. Kita membutuhkan lebih banyak latihan mendengarkan. Sebab Indonesia tidak akan runtuh hanya karena kita berbeda suara.
Indonesia justru bisa kacau jika semua orang ingin menjadi suara paling keras dan tak seorang pun bersedia mendengar. Maka, dari panggung sederhana di Mekar Bakti, kita mendapat pelajaran yang cukup mahal: bangsa yang besar bukan bangsa yang semua warganya bernyanyi dengan nada sama, melainkan bangsa yang mampu mengubah perbedaan nada menjadi harmoni.
Kalau sesekali fals, tak perlu malu. Yang penting jangan fals sambil merasa paling benar. Sebab nada yang keliru masih bisa diperbaiki. Namun, ego yang menolak mendengar, itu yang lebih sulit disetem. (*
Oleh: Widi Hatmoko
Jurnalis/Pemerhati Sosial






