Jejak KataWisata dan Kuliner

Berburu Sarapan di CitraRaya: Sepiring Pecel Bu Sulis dan Cerita Pagi 

×

Berburu Sarapan di CitraRaya: Sepiring Pecel Bu Sulis dan Cerita Pagi 

Sebarkan artikel ini
Sepiring nasi pecel Bu Sulis di deretan Ruko Melia CitraRaya

JEJAK KATA, Tangerang—Pagi di kawasan CitraRaya, Tangerang, punya ritmenya sendiri. Ketika sebagian orang masih berkejaran dengan waktu, aroma bumbu pecel sudah lebih dulu mengisi pagi.

Di deretan ruko Melia CitraRaya, Warung Pecel Jawa Bu Sulis ini menjadi salah satu persinggahan bagi mereka yang mencari sarapan. Warung itu tidak mengenal hari libur. Buka setiap pagi.

Dari tempat sederhana tersebut, sepiring pecel menjadi menu yang mempertemukan banyak jenis manusia: warga yang hendak bekerja, mereka yang membutuhkan sarapan praktis, hingga orang-orang yang mengawali akhir pekan dengan berolahraga.

Nama warungnya memang Pecel Jawa. Tetapi pilihan menunya tidak berhenti pada sayuran yang disiram sambal kacang. Ada tumis daun pepaya dengan teri, tempe dan tahu bacem, pepes, serta aneka gorengan. Pecel khas Purwodadi menjadi menu yang paling menonjol, dengan cita rasa gurih dan legit serta bumbu yang disajikan cukup melimpah.

Lalu ada satu elemen kecil yang justru menjadi pelengkap penting: rempeyek. Satu porsi sudah pecel dilengkapi rempeyek kacang yang gurih dan renyah. Ketika rempeyek dipatahkan, bunyinya menjadi semacam penanda bahwa sarapan sudah siap dimulai.

Seorang pelanggan sedang menikmati sarapan pagi di Warung Pecel Bu Sulis

Dari Purwodadi ke CitraRaya

Pecel adalah salah satu makanan yang lekat dengan tradisi kuliner Jawa. Sayuran rebus, sambal kacang, dan berbagai pelengkapnya menjadi hidangan yang sederhana. Tetapi, pecel memiliki ruang yang luas untuk berkembang sesuai daerah dan kebiasaan pembuatnya.

Di warung Bu Sulis, jejak Purwodadi hadir dalam sepiring sarapan yang disajikan di kawasan permukiman CitraRaya.

Perjalanan sebuah makanan rupanya tidak selalu membutuhkan jarak yang panjang. Resep dan selera bisa berpindah bersama manusia, lalu menemukan rumah baru di tempat yang berbeda.

Pada hari biasa, warung ini menjadi pilihan warga yang tidak sempat menyiapkan sarapan dari rumah. Sebagian dapat langsung mampir sebelum melanjutkan perjalanan menuju tempat kerja. Bagi pekerja dengan sistem shift pulang pagi, menu yang praktis juga menjadi salah satu pilihan untuk mengisi tenaga usai beraktivitas.

Sementara pada Minggu, suasananya sedikit berbeda. Kawasan CitraRaya menjadi ruang aktivitas warga yang berolahraga. Mereka yang jogging maupun bersepeda dapat menjadikan warung tersebut sebagai salah satu tempat singgah setelah bergerak sejak pagi.

Ada yang datang karena lapar. Ada pula yang sekadar mencari sarapan setelah berolahraga. Dan seperti banyak warung sarapan lainnya, kursi dan lesehan menjadi tempat pertemuan berbagai cerita pagi.

Bacem tahu dan tempe salah satu menu yang juga hadir di Warung Pecel Jawa Bu Sulis di CitraRaya

Pecel dengan Cara Sendiri

Satu hal yang membuat sarapan di sini cukup fleksibel adalah pilihan penyajiannya. Pecel bisa disantap dengan lontong. Bisa pula dengan nasi putih. Pilihan lauknya pun beragam: gorengan, tempe dan tahu bacem, telur ceplok, hingga telur bulat.

Tidak ada aturan rumit. Cukup pilih nasi atau lontong, tentukan lauk, lalu tambahkan pecel sesuai selera.

Kesederhanaan semacam itu mungkin menjadi alasan mengapa makanan tradisional tetap bertahan di tengah perubahan kawasan perkotaan.

Di antara ruko-ruko dan aktivitas warga CitraRaya yang terus bergerak, sepiring pecel masih menawarkan sesuatu yang sederhana: sayuran, bumbu kacang, rempeyek, dan waktu sejenak untuk duduk sebelum hari benar-benar dimulai.

Bagi sebagian orang, sarapan mungkin hanya urusan mengisi perut. Tetapi di Warung Pecel Jawa Bu Sulis, pagi juga menjadi kesempatan untuk berhenti sebentar—menikmati makanan yang membawa cita rasa Purwodadi, sebelum kembali mengikuti cepatnya kehidupan Tangerang. (*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *