PENGETAHUAN — Ada sebuah pemandangan yang kerap mengundang pertanyaan: sebuah rawa atau sawah mengering selama musim kemarau. Tanahnya retak, genangan menghilang, bahkan tidak terlihat hubungan dengan sungai, kali, saluran irigasi, atau sumber air permanen. Kemudian hujan turun.
Dalam beberapa hari, cekungan tanah kembali dipenuhi air. Dari sini, ada hal yang terkadang mengejutkan. Tiba-tina ikan terlihat berenang di dalamnya. Lalu, dari mana ikan itu datang?
Pertanyaan tersebut tampak sederhana, tetapi jawabannya membawa kita pada salah satu strategi bertahan hidup paling menarik dalam ekologi perairan sementara.
Ikan tidak “muncul dari tanah”
Penjelasan ilmiah pertama yang perlu ditegaskan adalah bahwa ikan tidak muncul begitu saja dari tanah. Kemunculan ikan setelah hujan dapat terjadi melalui beberapa mekanisme.
Pertama, ikan atau organisme air dapat masuk bersama aliran permukaan yang sangat kecil dan sulit terlihat. Air hujan yang mengalir dari sawah, parit, cekungan, atau lahan di sekitarnya dapat membawa telur, larva, bahkan ikan berukuran kecil.
Kedua, burung air dan hewan lain dapat menjadi agen perpindahan organisme atau telurnya.
Ketiga—dan ini yang paling menarik—sebagian organisme perairan memang memiliki kemampuan bertahan dalam fase telur atau bentuk dorman ketika habitatnya mengering.
Kehidupan yang “berhenti” di dalam tanah
Di sejumlah wilayah dunia terdapat kelompok ikan yang dikenal sebagai annual killifish. Ikan ini hidup di kolam atau genangan yang hanya muncul pada musim hujan.
Ketika air menghilang, ikan dewasa mati. Namun sebelum itu terjadi, mereka telah meletakkan telur di substrat berlumpur.
Telur tersebut tidak langsung berkembang seperti telur ikan pada umumnya. Embrio dapat memasuki kondisi dormansi yang disebut diapause, yaitu keadaan ketika perkembangan embrio berhenti atau berlangsung sangat lambat untuk menghadapi kondisi lingkungan yang tidak menguntungkan.
Telur dapat tetap berada di dalam sedimen kering selama periode kekeringan. Ketika hujan kembali mengisi kolam, sebagian telur mendapatkan rangsangan lingkungan untuk melanjutkan perkembangan dan menetas.
Dengan demikian, pada ekosistem tertentu, keberadaan ikan pada musim hujan sebenarnya merupakan kelanjutan dari siklus kehidupan yang telah dimulai sebelum musim kemarau.
Sawah dan rawa sebagai “bank kehidupan”
Sedimen dasar rawa atau sawah bukan sekadar lumpur mati. Di dalamnya dapat terdapat berbagai bentuk organisme atau propagul biologis—termasuk telur, kista, benih tumbuhan air, mikroorganisme, serta organisme kecil lain—yang mampu bertahan ketika kondisi lingkungan berubah.
Konsep ini dapat disebut sebagai egg bank atau bank telur.
Penelitian terhadap ikan tahunan menunjukkan bahwa telur yang tertanam di dalam substrat dapat bertahan menghadapi kekeringan dan kemudian menetas ketika habitat kembali terisi air.
Artinya, sebuah rawa yang secara kasatmata terlihat kosong selama musim kemarau belum tentu secara ekologis benar-benar mati. Sebagian kehidupan mungkin hanya berada dalam keadaan “menunggu”.
Hujan menjadi pemicu
Ketika hujan turun dan cekungan kembali terisi air, lingkungan berubah secara drastis. Kelembapan meningkat. Suhu sedimen berubah. Air mulai menutupi permukaan tanah. Kandungan oksigen dan kondisi kimia lingkungan juga mengalami perubahan.
Pada spesies tertentu, perubahan tersebut menjadi sinyal untuk mengakhiri fase dormansi.
Pada ikan tahunan, penelitian menunjukkan bahwa embrio dapat menggunakan perubahan kondisi lingkungan sebagai bagian dari mekanisme yang menentukan kapan telur menetas. Bahkan tidak semua telur menetas sekaligus. Sebagian dapat tetap berada dalam kondisi dorman sebagai strategi menghadapi kemungkinan bahwa genangan kembali mengering terlalu cepat.
Strategi semacam itu dikenal dalam ekologi evolusioner sebagai bet-hedging: organisme tidak mempertaruhkan seluruh generasinya pada satu peristiwa lingkungan.
Jika hujan hanya turun sebentar dan genangan kembali kering, sebagian telur yang belum menetas masih memiliki kesempatan bertahan.
Tetapi apakah ikan di sawah Indonesia melakukan hal yang sama?
Di sinilah penelitian lapangan menjadi penting. Fenomena ikan muncul setelah sawah atau rawa tergenang tidak otomatis membuktikan adanya ikan tahunan seperti yang ditemukan di Afrika atau Amerika Selatan.
Spesies ikan yang hidup di sawah Indonesia bisa memiliki mekanisme berbeda. Ikan dapat masuk melalui limpasan air hujan, saluran mikro, retakan tanah yang terhubung dengan genangan lain, perpindahan manusia, atau dibawa oleh hewan.
Bahkan hubungan hidrologis yang tidak terlihat oleh mata dapat terjadi. Saat hujan deras, air dapat mengalir melalui permukaan tanah, saluran kecil, cekungan, atau lapisan tanah tertentu. Genangan yang tampak terisolasi belum tentu sepenuhnya terisolasi secara ekologis.
Karena itu, klaim bahwa “ikan berasal dari telur yang tidur di dalam tanah” membutuhkan pembuktian lebih lanjut.
Cara membuktikannya
Fenomena tersebut sebenarnya dapat diuji dengan penelitian sederhana. Peneliti dapat mengambil sampel tanah dari dasar sawah atau rawa sebelum hujan, ketika lokasi masih benar-benar kering.
Sampel kemudian ditempatkan dalam wadah steril dan diberi air dengan kondisi terkontrol. Jika setelah beberapa waktu muncul larva atau ikan, penelitian berikutnya dapat dilakukan untuk mengidentifikasi spesiesnya melalui pengamatan morfologi atau analisis DNA.
Peneliti juga dapat membandingkan beberapa lokasi: rawa yang benar-benar terisolasi; sawah yang memiliki saluran irigasi; sawah yang berdekatan dengan sungai; cekungan alami yang hanya menerima air hujan.
Jika organisme air hanya muncul pada lokasi tertentu, pola tersebut dapat memberikan petunjuk mengenai sumbernya.
Bukan hanya ikan
Yang lebih menarik, fenomena serupa tidak hanya ditemukan pada ikan. Ekosistem perairan sementara dapat menyimpan berbagai organisme dalam bentuk telur atau struktur dorman. Ketika air kembali datang, kehidupan dapat muncul secara cepat.
Karena itu, sebuah genangan yang baru terbentuk setelah hujan dapat segera dihuni oleh berbagai organisme mikroskopis dan makroskopis.
Dalam ekologi, peristiwa ini menunjukkan bahwa suatu ekosistem tidak selalu dapat dinilai hanya berdasarkan apa yang terlihat pada satu waktu. Sebuah rawa kering mungkin tampak kosong. Namun secara biologis, ia bisa menyimpan “arsip kehidupan” di dalam sedimennya.
Dari tanah retak menuju ekosistem
Fenomena ikan yang muncul setelah hujan mengingatkan bahwa air bukan hanya medium tempat ikan hidup. Air juga dapat menjadi pemicu kebangkitan sebuah ekosistem.
Pada ikan tahunan tertentu, strategi tersebut bahkan merupakan bagian dari siklus hidup: telur bertahan ketika habitat kering, kemudian menetas ketika air kembali, ikan tumbuh dan bereproduksi, lalu generasi berikutnya kembali meninggalkan telur di sedimen sebelum genangan menghilang.
Namun untuk sawah dan rawa di Indonesia, masih diperlukan penelitian spesifik untuk menentukan mekanisme yang sebenarnya.
Jika sebuah lahan benar-benar kering, tidak terhubung dengan sungai maupun saluran air, lalu ikan muncul setelah hujan, fenomena tersebut bukan alasan untuk segera menyimpulkan sesuatu yang mistis.
Justru sebaliknya. Ia merupakan alasan ilmiah untuk menggali lumpur lebih dalam. Sebab boleh jadi, ketika manusia melihat tanah yang mati, alam sebenarnya sedang menyimpan kehidupan dalam keadaan tertunda. (*






