BUDAYA — Di tengah deru mesin pabrik dan pertumbuhan kawasan industri, kuda-kuda dari anyaman bambu masih berlari di Tangerang. Bukan kuda sungguhan, tentu saja. Mereka bergerak mengikuti hentakan kaki para penari, denting gamelan, dan riuh penonton yang seolah tak pernah bosan menunggu pertunjukan dimulai.
Kuda lumping, yang di berbagai daerah Jawa juga dikenal sebagai jaran kepang, jaranan, jathilan, atau ebeg, merupakan salah satu kesenian rakyat yang paling panjang perjalanan sejarahnya. Ia menampilkan penari yang menunggang kuda tiruan dari anyaman bambu atau kepang, dengan gerak-gerak yang kerap menggambarkan keprajuritan.
Soal asal-usulnya, sejarah kuda lumping tidak tunggal. Ada pandangan yang mengaitkannya dengan tradisi ritual masyarakat agraris dan kepercayaan lama, ketika tari menjadi bagian dari hubungan manusia dengan alam, leluhur, dan kekuatan yang tak kasatmata. Ada pula versi yang menempatkannya sebagai simbol keprajuritan dan semangat perjuangan rakyat.
Kisah yang menghubungkannya dengan pasukan Pangeran Diponegoro juga cukup populer di masyarakat. Atau, kisah heroik Haryo Penangsang (Arya Penangsang) dan Sultan Hadiwijaya (Jaka Tingkir).
Namun, seperti banyak kesenian rakyat Nusantara, jejak sejarah kuda lumping lebih tepat dibaca sebagai kumpulan tradisi, cerita, dan penafsiran yang berkembang dari generasi ke generasi, bukan sebuah riwayat tunggal yang selesai dicatat dalam satu buku sejarah.
Yang pasti, kesenian ini telah hidup lama dalam kebudayaan Jawa.

Pertunjukannya bukan sekadar tari. Ada musik, kostum, gerak teatrikal, dan dalam sejumlah kelompok, unsur ritual. Fase “ndadi” atau “trance” menjadi bagian yang paling dikenal masyarakat. Di sinilah kuda lumping sering berada di persimpangan antara seni pertunjukan, kepercayaan, dan tradisi rakyat.
Namun kuda lumping tidak tinggal diam di tanah kelahirannya. Bersama perpindahan penduduk Jawa, kesenian ini ikut merantau ke berbagai daerah, termasuk Tangerang.
Di daerah yang lama dikenal sebagai kota seribu industri itu, jathilan menemukan panggung baru. Salah satu kelompok yang masih menjaga denyut kesenian tersebut adalah Krido Budoyo. Para pemainnya tidak hanya orang dewasa. Anak-anak dan remaja juga ikut menunggang kuda bambu, menghafal gerak, mengikuti irama, dan meneruskan tradisi yang usianya jauh melampaui mereka.
Mas Puji Sadewo, salah seorang penggiat kesenian jathilan, mengatakan bahwa kuda lumping atau jathilan masih menjadi pertunjukan yang dinanti masyarakat dalam berbagai kegiatan. Kelompoknya kerap tampil dalam acara-acara lokal di Tangerang hingga berbagai agenda di Jakarta.
Kehadiran jathilan di Tangerang menunjukkan satu hal: migrasi tidak selalu membuat kebudayaan tercerabut dari akarnya. Sebaliknya, kebudayaan dapat ikut berpindah, beradaptasi, lalu menemukan rumah baru.
Di tengah gempuran budaya populer dan hiburan serba digital, kuda bambu itu masih bergerak. Kadang di lapangan terbuka, kadang di panggung festival, kadang di tengah kerumunan warga yang datang bukan hanya untuk menonton, tetapi juga mengenali kembali sesuatu yang perlahan menjadi langka: hubungan dengan tradisi.
Tangerang boleh terus tumbuh dengan pabrik, beton, dan kawasan industri. Tetapi di sela suara mesin, bunyi gamelan masih sesekali terdengar. Dan ketika anak-anak mulai mengangkat kuda bambu ke pundak mereka, sejarah tampaknya belum benar-benar selesai. (*






