JEJAK KATA, Jakarta — Gubernur Bank Indonesia periode 2026-2031, Destry Damayanti, memastikan bank sentral tetap memperhitungkan kondisi higher for longer dalam merumuskan kebijakan moneter domestik.
Kondisi tersebut ditandai oleh suku bunga dan imbal hasil obligasi (bond yield) yang masih tinggi di negara-negara maju. Menurut Destry, kondisi itu menjadi salah satu faktor yang diperhitungkan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas perekonomian nasional.
“Higher for longer ini termasuk bond yield, inflasi, dan suku bunga yang tinggi di negara maju,” kata Destry Destry Damayanti.
Destry mengatakan arah kebijakan BI saat ini tetap berfokus pada stabilitas. Menurut dia, stabilitas ekonomi yang terjaga justru memberikan ruang lebih luas bagi pertumbuhan.
Karena itu, BI akan terus menyeimbangkan kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran. Bank sentral juga akan memperkuat kebijakan yang berkaitan dengan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), ekonomi dan keuangan syariah, serta pendalaman pasar keuangan.
Dalam kebijakan makroprudensial, BI tetap menggunakan insentif likuiditas makroprudensial (KLM) untuk mendorong perbankan menyalurkan kredit ke sektor-sektor prioritas.
Destry resmi menjabat Gubernur BI periode 2026-2031 setelah mengucapkan sumpah jabatan di hadapan Ketua Mahkamah Agung Sunarto di Jakarta.
Pada pelantikan yang sama, Aida S. Budiman mengucapkan sumpah jabatan sebagai Deputi Gubernur Senior BI, sedangkan Soedjiono M. Djojo dilantik sebagai Deputi Gubernur BI.
Pelantikan tersebut berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 92/P Tahun 2026 tertanggal 1 September 2026. (*






