SENI BUDAYA — Payung bagi Edi Bonetski bukan sekadar benda untuk berteduh. Di tangannya, benda itu berubah menjadi kanvas yang membawa cerita tentang kreativitas Kota Tangerang ke panggung nasional.
Seniman asal Kota Tangerang itu menjadi salah satu pengisi resmi Festival Payung Indonesia 2026 yang berlangsung di Balekambang, Surakarta, Jawa Tengah, 4–6 September 2026. Karya lukisnya pada media payung menjadi bagian dari perhelatan yang mempertemukan seniman, pelaku ekonomi kreatif, pengelola festival, dan pegiat budaya dari berbagai daerah hingga mancanegara.
Festival yang digelar Mataya Arts & Heritage itu tak hanya memajang payung sebagai karya seni. Ia menjadi ruang pertukaran gagasan tentang bagaimana festival lokal bisa tumbuh menjadi kekuatan ekonomi dan kebudayaan yang lebih luas.
Dari Tangerang, cerita itu datang melalui karya Edi Bonetski sekaligus rombongan Pemerintah Kota Tangerang. Wakil Wali Kota Tangerang, H. Maryono, memperkenalkan Festival Cisadane dalam Festival Futures Forum bertajuk “Dari Festival Lokal Menuju Dampak Global”.
Maryono mengatakan Festival Cisadane bukan semata agenda tahunan pemerintah. Menurut dia, festival tersebut telah menjadi ruang pertemuan budaya, kreativitas, sekaligus aktivitas ekonomi masyarakat.
“Kami sangat bangga bisa membawa nama Kota Tangerang dan memperkenalkan Festival Cisadane di ruang yang mempertemukan banyak pelaku budaya dari berbagai daerah dan negara. Festival Cisadane bukan hanya perayaan tahunan, tetapi telah menjadi ruang bertemunya budaya, kreativitas dan ekonomi masyarakat,” ujar Maryono.
Identitas Tangerang juga hadir melalui produk UMKM dan dokumentasi perjalanan Festival Cisadane yang dipamerkan dalam Ruang Pameran Dokumentasi Festival.
Kehadiran Edi memperkuat representasi itu. Lukisan di atas payung membuat kreativitas Tangerang tampil dalam medium yang sederhana, tetapi punya daya cerita. Di festival tersebut, karya-karya serupa datang dari berbagai daerah Nusantara, berdampingan dengan partisipan dari Thailand, India, dan Korea Selatan.
Bagi Maryono, perjumpaan semacam ini penting karena kebudayaan tidak cukup hanya dipamerkan. Ia perlu dipertukarkan, diuji, dan dikembangkan.
“Kami berharap, praktik baik dari Kota Tangerang dapat menjadi inspirasi bagi daerah lain. Sebaliknya, keterlibatan dalam forum ini juga memberikan insight dan gagasan baru yang bisa kita bawa pulang untuk memperkuat ruang kreativitas di Kota Tangerang,” katanya.
Keikutsertaan Kota Tangerang di festival tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah memperluas jejaring budaya, mempromosikan pariwisata, sekaligus membuka akses pasar bagi pelaku UMKM dan ekonomi kreatif.
“Semakin luas kita memperkenalkan karya dan potensi Kota Tangerang, semakin besar pula peluang untuk berkembang. Pemkot tentu akan terus mendukung terciptanya ekosistem kreativitas yang baik, produktif dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ujar Maryono.
Di Balekambang, payung-payung itu pun tak lagi sekadar benda pelindung dari hujan atau matahari. Ia menjadi semacam “omah” bagi gagasan: tempat berbagai cerita daerah berteduh, berjumpa, lalu berjalan bersama menuju panggung yang lebih luas. (*






