OTOMOTIF — Persaingan mobil baru di Indonesia mulai memperlihatkan perubahan peta. Mobil listrik asal Cina berhasil menyodok jajaran teratas, sementara mobil keluarga produksi Jepang belum kehilangan penggemarnya. Menariknya, di pasar mobil bekas, sejumlah model lama justru masih menjadi incaran.
Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat distribusi mobil dari pabrik ke dealer atau wholesales mencapai 679.020 unit sepanjang Januari-September 2026. Angka ini tumbuh 21 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Salah satu kejutan datang dari BYD Atto 1. Mobil listrik tersebut mencatat distribusi 4.840 unit pada September 2026, menempatkannya sebagai mobil penumpang terlaris kedua. Posisi pertama ditempati Daihatsu Gran Max dengan 5.763 unit, yang menggabungkan penjualan pikap, minibus, dan blind van.
Toyota Avanza menyusul dengan 3.872 unit. Kemudian Jaecoo J5 EV sebanyak 3.276 unit, Toyota Calya 2.966 unit, Suzuki Carry 2.881 unit, dan Toyota Kijang Innova Zenix 2.782 unit.
Data tersebut memperlihatkan dua pasar yang bergerak bersamaan. Mobil listrik mulai mendapatkan tempat, tetapi kendaraan keluarga dan niaga masih menjadi tulang punggung penjualan.
Namun, ada cerita lain di pasar mobil bekas. Ketika konsumen mulai melirik kendaraan listrik baru, pencarian mobil bekas justru masih didominasi nama-nama yang relatif akrab di jalanan Indonesia.
Laporan OLX yang dikutip dari beberapa media nasional menyebut Toyota Kijang Innova, Toyota Avanza, dan Toyota Fortuner sebagai tiga model mobil bekas paling banyak dicari sepanjang Januari-November 2025. Honda HR-V dan Honda Brio menyusul dalam daftar tersebut.
Minat itu bukan tanpa alasan. Mobil keluarga memiliki pasar yang relatif luas. Avanza menawarkan kapasitas penumpang dan kemudahan penggunaan, Innova dikenal sebagai kendaraan keluarga dengan ruang kabin lega, sedangkan Fortuner dan HR-V bermain di segmen SUV.
Data OLXmobbi pada Januari-Mei 2026 juga memperlihatkan permintaan mobil bekas relatif bertahan. Jumlah iklan kendaraan turun 24 persen menjadi sekitar 85 ribu unit, sedangkan indikator permintaan turun sekitar 6 persen menjadi 132 ribu.
Artinya, persoalan pasar mobil bekas bukan sekadar soal banyaknya peminat. Ketersediaan unit juga menjadi faktor penting yang memengaruhi persaingan harga.
Bagi calon pembeli, mobil bekas populer memang menggoda. Namun, reputasi merek tidak menjamin kondisi kendaraan selalu prima. Riwayat servis, kondisi mesin, transmisi, kaki-kaki, bekas tabrakan, hingga legalitas dokumen tetap harus diperiksa.
Begitu pula bagi pemilik kendaraan yang ingin menjual. Model yang banyak dicari bisa menjadi keuntungan, tetapi harga akhirnya tetap ditentukan tahun produksi, jarak tempuh, kondisi fisik, dan kelengkapan perawatan.
Pasar otomotif Indonesia rupanya memiliki dua wajah. Di ruang pamer, teknologi baru berlomba menawarkan masa depan. Di bursa mobil bekas, konsumen masih mencari kendaraan yang sudah terbukti menemani perjalanan sehari-hari.
Mobil baru boleh berganti tren. Tetapi selama kebutuhan keluarga, harga terjangkau, dan biaya perawatan masih menjadi pertimbangan, nama-nama lama tampaknya belum akan kehilangan panggung. (*







