Sunarno, salah seorang penjaja jamur kelapa sawit yang sudah lebih dari sepuluh tahun menjual jamur di wilayah tersebut, mengaku, mengambil jamur-jamur ini dari tandan kosong kelapa sawit yang dibuang di sekitar perkebunan dengan cuma-cuma, alias gratis. Namun butuh ketelatenan, karena untuk mengais jamur-jamur ini harus membuka satu persatu tumpukan tandan kosong.
“Sudah sepuluh tahun lebih (menjual jamur-red), ya lumayanan aja,” ujar Sunarno seperti dikutip dari channel YouTube jejakkata.
Bupati dan Wabup Tangerang Ngariung Bareng Ribuan Santri Makan Duren
Sunarno juga mengaku, untuk mengambil jamur-jamur ini biasanya ia berangkat pagi-pagi sekali, sekitar pukul 6:00 WIB, dan pukul 10:00 WIB sudah mulai memilah jamur untuk dikemas, dan siap dijajakan. Menurut Sunarno, jamur yang paling banyak diburu dan disukai adalah jamur penthol. Karena selain guruh, jamur penthol ini rasanya juga mirip-mirip dengan jamur merang. Jamur penthol sendiri bisa dimasak dengan berbagai varian, mulai dibikin bakwan, sambel goreng hingga dibikin sop jamur.
“Paling banyak disukai itu jamur penthol, bisa dibikin macem-macem. Tapi yang lain juga banyak yang suka, seperti jamur kertas, jamur mangkok dan jamur gandrik,” katanya.
Pungli Program PTSL! Lagi, Mantan Kades Masuk Bui, Giliran Siapa Lagi?
Selain menjual jamur yang masih mentah, Sunarno yang sehari-hari ditemani oleh isterinya itu, juga menjual jamur yang sudah diolah, yaitu keripik jamur krispi. Jadi, buat kalian yang sudah kebelet kepengen makan olahan jamur ini bisa langsung mencicipi, enggak perlu repot-repot memasaknya. Dan, penjaja jamur di tempat itu ada setiap hari, alias tanggal merah juga tetap buka.
Untuk jenis jamur merang atau disebut juga jamur penthol ini, masyarakat sekitar wilayah itu juga mulai membudidayakan dan menjadikannya sebagai sumber perekonomian baru bagi mereka. Karena, selain mudah, bahan tandan kosong sisa produksi pengolahan minyak kelapa sawit itu gampang didapat.






